“Akan ada orang yang datang dan pergi
Karena hidup seperti roda yang selalu berputar mengikuti jalan
Tidak akan selamanya seseorang selalu bersama kita
Ada perpisahan yang akan membuat jarak
Perpisahan karena takdir kematian atau karena putusnya persaudaraan maupun pertemanan
Terganti dengan orang baru yang akan mengisi hari-hari indah selanjutnya.”
Ramai sekali pusat perbelanjaan dan tempat nongkrong anak muda di Jakarta ini. Banyak dari berbagai kalangan, tua muda tumplek di mal yang menjadi salah satu ikon rekreasi belanja. Rata-rata pengunjungnya stylish dengan ciri khasnya masing-masing. Jakarta memang dikenal kota metropolitan yang warganya tidak terlepas dari arus globalisasi yang masuk. Suka tidak suka kita harus siap menghadapinya.
Aku mengajak Rini ke toko kosmetik di lantai dasar mal ini. Setelah melihat casing Rini yang bisa membuatku terkagum-kagum. Aku jadi ingin sepertinya. Bukan menirunya tetapi bisa merawat diri dan mengajariku cara berdandan. Ya memang, kami baru saja lulus SMA tetapi bagi remaja perempuan hanya untuk sekedar mengetahui cara berdandan yang benar tidak masalah bukan.
“Kulit lu tuh putih. Jadi gampang buat lu. Ngga kaya gue gelap."
"Bukan gelap, Rini sayang. Tapi eksotis," jawabku disambut tawa Rini.
Kami terus memutari toko kosmetik yang lumayan besar ini. Rini memilihkan yang cocok untukku. Ternyata dia sudah sangat tahu mengenai kosmetik. Mungkin karena ibunya adalah seorang pekerja di dunia retail kosmetik sehingga secara tidak langsung temanku itu mempelajari tentang dunia kosmetik.
Selesai di sini, kami memutar mencari tempat jajanan untuk mengisi perut kami yag tidak lapar. Duduk sebentar di tempat yang di sediakan, kami akhirnya beranjak ke bioskop menonton film incaran kami.
Meskipun hari ini kujalani dengan bahagia, tetapi ada rasa yang kurang. Tidak ada Maya di sini. Aku kehilangan, tentu aku kangen sahabatku itu. Selama enam tahun kami selalu bersama. Dan sejak mengenal tempat tongkrongan di mal, kami bertiga selalu ke sini bersama. Menjelajahi setiap tempat. Makan atau sekedar nongki-nongki ngopi cantik di caffee shop. Atau nonton. Semua selalu kami lakukan bersama. Aku jujur, sepi sekali tanpa Maya. Dia dan Rini suka berbalas ocehan memancing tawa.
“Kalo ada Maya seru ya, Rin,” tuturku.
Rini memandangku. “Sudah, Amara, ngga pa-pa. Yang ngga mau maen sama kita lagi biarin aja.”
Rasanya aku ingin kembali bertanya pada Rini, sebenarnya apa yang terjadi pada Maya. Aku yakin Rini tahu sesuatu. Tapi biarlah kita berdua menikmati quality time tanpa perlu memikirkan Maya.
Nongkrong di mal hari ini kami sudahi. Jakarta sudah hampir melintasi ujung senja. Aku mengajak Rini keluar mal untuk menyaksikan senja yang selalu kunikmati. Jarang sekali aku melewatkan keindahannya.
“Amara, kenapa sih lu ngajakin gue liat senja? Tiap hari juga ada."
“Rin, seandainya lu tau kalo senja punya kekuatan magis yang bisa membius perasaan kita, pasti lu akan betah berlama-lama liat keindahannya.” Rini terkaget-kaget dengan ucapanku. Mungkin dikiranya aku sedang kerasukan ruh penyair dari Timur Tengah. Padahal aku sering sekali menikmati senja bersama mamah dan almarhum papah. Nikmat rasanya kalau kita bisa melihat keagungan lukisan indah sang penguasa alam semesta.
Aku terhanyut menyaksikan jingga di ujung angkasa. Warnanya benar-benar menghipnotisku. Sementara Rini tengah asik mengabadikan momen tersebut dengan mengambil gambar dari kamera handphonenya. Sesekali dia mengambil video. Aku hanya duduk di bangku panjang sambil tersenyum menyaksikan temanku yang sibuk sendiri. Sepertinya Rini baru pertama kali menikmati indahnya Senja. Terlihat sekali tingkahnya setelah mengambil foto, Rini selalu mengecek galerinya. Rasa kagum terpancar di wajahnya. Kata-kata luar biasa berkali-kali keluar dari mulutnya. kadang tanpa disadarinya, bibirnya suka maju mundur mengikuti gerakannya sendiri saat berselfi ria.
“Tuh bagus kan senjanya. Ngga percaya sih lu, Rin.” Rini hanya cengar cengir menanggapi ucapanku.
Senja yang kembali mempesonaku. Aku tidak pernah menafikannya. Aku akan terbiasa menikmati senja tidak dengan orang tuaku lagi. Saat ini aku menikmatinya dengan teman. Mungkin saja dengan orang terkasih suatu saat nanti. Atau menikmatinya sendiri.
-)(-
“Ayo adek adek ... berkumpul berkumpul. Buat barisan sesuai fakultasnya masing-masing!” Suara pengumuman melalui pengeras suara terdengar nyaring sekali. Memekakan telinga. Membuat sebagian calon mahasiswa yang sedang bersantai segera membuat barisan seperti yang diminta. Beberapa mahasiswa senior juga mengumumkannya melalui toa yang mereka bawa mengelilingi tanah lapang di kampus terkenal ini.
Aku berdiri sendiri mengikuti arahan kakak senior. Belum satu pun aku mengenal calon mahasiswa lainnya. Aku memang agak sulit melebur di lingkungan baru. Beda sekali dengan Rini yang sudah akrab dengan calon mahasiswa yang lain. Aku iri dengan sifatnya yang mudah bergaul pada siapapun. Rini sempat melambaikan tangan padaku dan mengepalkannya. Menyemangatiku. Aku membalasnya. Situasi yang canggung memang kurasakan di hari pertama ini. Semangatku yang membara sejak dari rumah menyiutkan nyaliku sekarang. Aku ingat mamah, yang sejak awal aku pamit padanya, aku mendapatkan selusin wejangan dan doa baik.
Beberapa calon mahasiswa lain masih bersantai belum mengikuti apa yang diminta kakak senior. Sementara aku sudah berdiri di barisan paling depan dengan beberapa calon mahasiswi. Akankah aku tergabung dalam kelompok mahasiswi kutu buku atau cupu. Aku harap aku bisa membaur dengan banyak komunitas di kampus ini.
Perasaanku campur aduk saat ini. Antara senang, excited dan agak gugup. Barisan–barisan yang dibuat calon mahasiswa per fakultas sudah selesai. Dan sekarang kita mendengarkan sambutan dari ketua ospek. Dia adalah ketua BEM di kampus ini. Sejak awal kedatangan semua calon mahasiswa di kampus ini, sosok ketua BEM kampus menjadi magnet yang menyita perhatian, terutama mahasiswi. Wajah tampan dan tinggi dengan potongan rambut kekinian menjadi daya tarik yang luar biasa bagi calon mahasiswa baru. Belum lagi bentuk badan yang terpahat sempurna dengan latihan bertahun-tahun. Benar-benar menjadi pusat galaksi kecil di lapangan kampus. Aku pun sama seperti calon mahasiswa lainnya, tertegun memandangnya. Tapi hanya sebatas mengagumi ciptaan Tuhan yang kurasa sangat sempurna itu. Aku tidak seperti mahasiswi lainnya yang tertarik dengan wajahnya yang tampan dan fisiknya yang maskulin. Aku tipe orang yang selalu mengikuti rasa dan kata hati. Tak mudah bagiku menyukai seseorang kalau pun orang itu tampan. Butuh waktu dan banyak faktor untuk bisa jatuh cinta. Kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertama, itu karena hatiku yang berbicara.
“Perkenalkan. Nama saya Dion Aleyndra. Saya menjabat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa periode 2022/2023. Mengucapkan selamat datang kepada adik-adik calon mahasiswa.” Suaranya terdengar tegas dan kuat. Ia sangat percaya diri. Sepertinya sudah terbiasa berbicara di depan umum. Aku yakin ketua BEM itu memiliki kecerdasan tinggi dibalik wajahnya yang tampan. Jarang-jarang ada perpaduan unik antara wajah tampan dan otak yang cerdas.
“Kalian akan menjalani program Pengendalian Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru atau PKKMB selama 4 hari. Akan banyak kegiatan yang berlangsung. Saya berpesan untuk adik-adik calon mahasiswa baru, agar menjaga kesehatan kalian.” Kemampuan komunikasinya sangat baik, pantas ia menjadi ketua Badan Eksekutif Mahasiswa kampus terbaik ini. Aku rasa ia sudah sangat teruji di kampus ini. Terbukti dari desas desus yang cepat beredar kala ia memperkenalkan diri, kalau ia juga seorang mahasiswa pecinta alam yang gemar mengadakan bakti sosial ke tempat terpencil.
“Jadwal 4 hari ini akan silih berganti bagi maba atau mahasiswa baru. Jadi kalian yang hadir secara luring hari ini hanya 50 persen saja. Sisanya secara sinkronus dari rumah. Nanti akan bergantian.” Masih dalam kondisi pandemi yang membuat kegiatan PPMKB dilakukan bergantian. Aku sih senang saja, masa-masa masih pemulihan pandemi ini menguntungkanku karena waktu 4 hari cukup lama buatku kalau hadir terus di kampus setiap hari dari pagi sampai sore.
“Cukup sekian dari saya. Kalau ada pertanyaan yang kalian belum mengerti, silahkan bertanya ke petugas di posko yang ada di titik-titik strategis di kampus tercinta kita ini. Sekali lagi saya ucapkan selamat bergabung dan good luck.” Suara beradu tepukan telapak tangan bergemuruh menyambut kesudahan pidato sambutan dari ketua PPMKB yang sekaligus Ketua BEM. Aku dan calon mahasiswa yang lain resmi menyandang status maba selama program ini berlangsung. Aku sudah menyiapkan fisikku kalau nanti ada kegiatan di lapangan. Aku berharap tidak ada mahasiswa senior yang galak yang akan mengerjai kami.
“Hei ...” Ada tangan yang menyenggolku. Aku menoleh ke kiri. “Kenalin, gue Cindy.” Dia menjulurkan tangannya padaku. Aku bersukur, aku dapat satu teman di fakultas ini. Aku menyambut uluran tangannya.
“Hei, aku Amara.” Kami bersalaman dan saling bertanya asal usul kami. Tak kusangka, aku bisa langsung akrab dengan Cindy. Mahasiswi berkacamata berwajah imut.
Akhirnya aku punya teman selain Rini dan Maya–walaupun kini Maya menjauh dan belum kutahu sebabnya, tapi dia tetap kuanggap teman. Aku memang anak rumahan, kenal dengan dunia luar pun berkat dua temanku itu. Sirkel pertemananku kecil sekali. Tapi aku menikmati menjadi diriku apa adanya. Tidak neko-neko. Cuek dengan omongan siapa pun. Tidak berbuat yang tidak mengenakkan orang lain. Sesuai pesan almarhum papah.
Aku dan Cindy pun cepat akrab dan berbagi cerita. Aku melihat dari kejauhan, Rini mengacungkan jempolnya padaku. Aku sedikit tersipu. Se-nolep itukah aku.
Siang makin terik, kegiatan PPMKB berlanjut ke dalam ruang auditorium yang cukup besar. Di sini sebagian calon mahasiswa baru akan mendapatkan pembekalan dari beberapa orang lektor. Aku semakin enjoy menjalani kegiatan awal perkuliahan ini. Tak ada sedikit pun beban yang kupikirkan.
Ibu Lektor semakin semangat kala banyak calon mahasiswa bertanya setelah ia menyelesaikan penjelasan. Berbagai pertanyaan kritis sanggup dijawabnya dengan lugas. Setiap selesai menjawab suara tepuk tangan bak suara sekawanan lebah berdengung menggema di ruang auditorium–Ini bukan auditorium utama. Auditorium utama Universitas ini jauh lebih besar. Banyak dari mahasiswa senior yang mengenakan jaket almamaternya berdiri mendampingi kami. Ada juga petugas kesehatan berjaga-jaga di sana. Ruangan ini penuh sesak dengan orang-orang hebat yang sedang memberikan kuliah umumnya di depan kami. Aku tertegun, berharap suatu saat nanti bisa menyamai kedudukan mereka. Tidak harus menjadi rektor ataupun tenaga pengajar, mungkin bisa sukses dengan jalan pilihanku sendiri.