“Suara hatimu, upayakan hanya engkau yang tahu dengan Tuhan-Mu
Tidak perlu kau sebarkan pada yang lain atau keluargamu
Akan ada iri, hasad dan dengki kalau kau bercerita dan itu akan menghancurkan impianmu.”
Pusat perhatiannya tertuju padaku ketika aku dan Fajar bersitatap. Kak Dion tak berhenti memperhatikanku. Pun dengan Cindy.
Sekian detik suasana canggung menjadi dinding tipis antara aku dan Fajar. Aku tahu kalau Fajar belum mengetahui cerita yang sesungguhnya.
Menulari suasana tak nyaman, Cindy berizin pulang terlebih dahulu. Namun Kak Dion masih berdiri di sana, memperhatikan kami. Tetapi aku tak peduli sama sekali. Tatapanku tak lepas dari Fajar di depanku. Fajar yang sejak duduk di kelas tiga SMA selalu mencuri pandang ke arahku. Dan aku membalas perhatiannya. Kata-kata di benakku saat itu kalau Fajar menaruh rasa padaku. Sebenarnya, aku pun begitu. Aku menunggu Fajar untuk mengungkapkan isi hatinya padaku. Tetapi waktu sering kali tak bersahabat. Ia yang kucari keberadaannya ketika perpisahan SMA, tiba-tiba menghindar. Lalu menghilang. Kini aku bertemu lagi dengannya di kampus ini. Lantas apakah aku diam saja. Tidak. Ada kata yang ingin kuucapkan. Dan ada cerita yang ingin kujabarkan.
Di sudut mataku, Kak Dion beranjak dari tempatnya berdiri. Aku melihat kepergiannya. Ia berjalan menjauh, menuju tempat motor sport-nya terparkir–tidak jauh dari tempat kami berdiri. Ia sempat menoleh padaku, dan aku yang sempat melihat kepergiannya kembali menoleh pada Fajar. Kuhindari bersinggungan mata dengannya.
Aku hendak mengatakan sesuatu pada Fajar. Ingin kucurahkan isi hatiku, kalau aku masih mengharapkannya. Dan aku ingin mengatakan yang sesungguhnya kalau aku tidak pernah menerima surat darinya. Aku ingin mengatakan kalau Maya sudah membuang surat tersebut, dan memanipulasi pikirannya bahwa aku sudah menolaknya. Ya, aku ingin mengatakan itu.
Saat dua lapisan bibirku terbuka, dan aku bersiap mengeluarkan kalimat saktiku padanya. Saat itulah seorang mahasiswi yang kukenal datang mendekat. Mahasiswi itu langsung menempel dan menggelayut manja pada lengan cowok yang masih ku simpan perhatiannya di dalam tubuhku yang paling sensitif–hati.
Maya. Ya, aku melihat Maya yang tidak memiliki rasa bersalah sedikit pun padaku. Bahkan mimik mukanya seakan mengejekku. Liat nih Amara. Gue bisa dapetin Fajar. Kutatap dalam-dalam matanya, lalu kuajak Maya menjauh dari Fajar setelah aku meminta izin padanya. Kukatakan kalau aku sudah tahu tentang surat di tong sampah toilet sekolah. Ucapanku di perjelas oleh Rini yang tiba-tiba sudah berdiri dengan kebenciannya pada Maya. “Iya gue udah ceritain ke Amara.” Maya pucat. Mendadak lesu. Apalagi sewaktu Fajar yang tiba-tiba mendekat dan bertanya maksud dari ucapan aku dan Rini. Aku memilih diam. Malas menanggapi, karena kupikir sudah berlalu kejadian itu. Tetapi Rini sudah gatal ingin membongkar kelicikan Maya di depan Fajar.
“Fajar, sebenernya ada yang mau gue ceritain,” ucap Rini. Aku dan Maya saling berpandangan. Tesirat di matanya kalau ia memintaku untuk mencegah Rini berkata jujur. Langsung saja kutarik tangan Rini setelah kata permisi kuucapkan. Awalnya Rini enggan, tapi dengan sedikit paksaan, aku berhasil membawanya dari hadapan sepasang kekasih itu. Seperti biasa Rini protes keras padaku. Kenapa aku tidak bercerita saja yang sebenarnya.
“Udahlah, Rin, biarin aja.” Aku tidak ingin memperpanjang masalah. Ya biarlah yang sudah terjadi menguap pergi. Aku selalu percaya dengan hukum tabur tuai.
“Lu terlalu baik jadi orang, Amara!” Ada rasa kesal dalam diri sahabatku itu. Rini tidak pernah rela kalau aku di jahati oleh orang lain. Rini akan tampil sebagai malaikat penjagaku untuk menghentikan ketidakadilan. Dia memang sosok sahabat yang baik luar dalam. Tapi hati ini dia begitu kesal, kenapa aku mencegahnya tadi sewaktu Rini ingin menjepaskan yang sebenarnya.
“Maksud gue Maya sekarang sedang menikmati masa-masa indah pacaran. Jangan diganggu.” Rini menghentakkan kakinya di sampingku. Aku berjalan meninggalkannya. Mau ngga mau ia mengikutiku karena panasnya matahari yang mulai memudar menjelang sore, tapi sinarnya tetap terasa nyelekit menusuk kulit. Hari ini sangat melelahkanku. Aku ingin pulang saja.
“Lu emang bener-bener, Amara, jadi orang kelewat baik. Jadinya lu di sepelein kan sama temen. Eh, maksud gue mantan temen.”
“Its oke Rin, lu tau kan sesuatu yang bukan milik kita, ya ngga usah dipaksain jadi milik kita. Ikhlasin aja. Biar ngga kecewa kalo ngga dapet,” ujarku memasang senyum lebar. Sepasang bola mata Rini lekat-lekat tak berkedip memandangku. Mungkin dia merasa kagum saat aku begitu tenang dengan keadaan di halaman kampus tadi.
Biar bola panas ini tak semakin bergulir, aku mengalihkan perbincangan ke topik lainnya. Kutanyakan mengenai kuliah sahabatku itu di hari perdana ini. Rini kesulitan beradaptasi, dia bilang selalu menguap tak berhenti sampai ditegur oleh dosen pengajar. Sementara aku, bercerita tentang mata kuliah yang sangat luar biasa dan aku juga menceritakan tentang teman baruku yang bernama Cindy.
“Gue baru akrab sama satu orang aja Rin.”
“Ngga pa-pa, pelan-pelan. Tapi lu rajin tegur yang lain ya. Biar ngga keliatan tuh muka jutek lu," saran Rini padaku denagn sedikit bernada protes
“Jutek apaan njir, orang cantik gini.”
“Iya cantiknya baru keliatan sekarang. Coba waktu SMA, cowok mikir seribu kali deketin lu.”
“Idih apa sih lu, Rin. Sok kecantikan sendiri aja lu.”
“Emang.” Rini mengibas-ngibaskan rambutnya. “Lu iri kan. Apalagi sama rambut gue nih.” Rini tergelak keras. Tawa ngakaknya selalu menjadi candu kala dia melepasnya tanpa beban amarah. Bercandaan kami terhenti ketika angkot sudah sampai di depan jalan menuju rumah Rini. Kami berdua turun dan berpisah, kembali ke rumah masing-masing. Aku sempat melihat dari kejauhan kalau Maya dan Fajar sedang makan bakso di seberang jalan–tepatnya di ujung jalan arah rumah Maya. Ada rasa cemburu kala cinta pertamaku diambil alih secara paksa. Cemburu dengan kebersamaan mereka. Yang membuatku sakit hati, aku tidak mampu mengatakan yang sebenarnya pada Fajar.
Memang dunia kadang berat sebelah. Tetapi hidup sudah berada di takdirnya masing-masing. Tinggal kita mau menerima atau mengajukan protes dengan ketetapan-Nya.
-)(-
Seminggu berjalan sejak hari pertamaku kuliah. Aku duduk di balkon sendirian. Mamah duduk-duduk di ruang tamu, beristirahat setelah memasukkan kue-kue kering untuk seratus harian almarhum papah. Semua tugas sudah kubereskan, aku tinggal menunggu senja datang di balkon rumahku. Tidak ada siapa pun. Tidak ada almarhum papah. Tidak juga bersamaku, mamah. Hanya aku sendiri yang akan menikmati indahnya matahari tenggelam. Kebetulan cuacanya sedang cerah. Seminggu ini gangguan kerap datang ketika sandikala ingin menampakkan jelitanya. Aku tidak bisa menikmatinya.
Sekarang aku duduk di sini, akan kusambut megahnya lukisan alam yang tidak jua satu makhluk pun sanggup menirunya. Ku menatap langit di ujung sana, bias sinarnya mulai terlihat. Berawal dari warna kuning, malu-malu mengintip warna jingga berpadu dengan biru dan hitam, membentuk lukisan abstrak yang sempurna.
Indah senja makin terlihat megah dengan permainan warna yang memanjakan indera penglihatan. Menawan. Dan menakjubkan. Lukisan alam yang sangat luar biasa. Menggambarkan kebahagian dan kesedihan menjadi satu.
Aku berdiri dan berjalan ke tepi. Bersandar pada pagar besi di balkon. Seraya menyeruput sebotol minuman. Ah, aku tidak mampu berkata-kata lagi. Luar biasa. Mulutku tak berhenti memuji kebesaran-Mu.
Kalau kita bisa melihat hal positif dari sesuatu yang negatif, hidup akan terasa lebih baik. Tidak terbebani.
Kudengar suara mamah memanggilku. Aku dimintanya turun karena hari sudah berganti waktu.
“Nak, yuk salat magrib dulu,” teriak mamah dari halaman. Aku memang harus turun menemani mamah, jangan sampai surgaku sendirian menunggu malam semakin menghitam.
Setelah semuanya selesai ku benahi. Aku beristirahat duduk di lantai bersandarkan sofa. Mamah duduk di atas seraya menonton televisi. Sesekali aku melirik wajahnya. Guratan menua mulai tertampak di sana. Mamah sudah mulai tak peduli merawat kecantikkan yang membuat almarhum papah mengambil keputusan besar. Kadangkala sorot matanya yang kosong seakan menyiratkan separuh jiwanya telah pergi. Aku pikir wajar, mamah dan almarhum papah sudah sekian tahun hidup bersama. Aku saja yang hanya menaruh rasa pada seorang cowok merasa sangat kehilangan ketika mengetahui dia bersama sahabat lamaku.
“Mah, semuanya sudah beres kan?” tanyaku memecah kesucian.