“Kamu sendirilah yang menciptakan masa depanmu
Bukan siapa-siapa.”
Ruang kelas ini tidak sepenuhnya sesak seperti di awal-awal perkuliahan. Banyak mahasiswa yang absen di mata kuliah Pak Richard. Pada masa perkenalan perkuliahan, Pak Richard sangat interaktif dengan mahasiswa. Mendengarkan materi yang disampaikan beliau tidak membosankan. Sangat enak didengar dan cepat dimengerti. Sekarang aku pun merasakan hal yang sama dengan mahasiswa yang tengah berleha-leha di rumah mereka. Namun karena tekadku ingin berhasil di fakultas yang kupilih, aku harus mengalahkan rasa malasku. Bolehlah saat ini aku bersakit-sakit dahulu, untuk bersinar di masa depan.
Aku masih setia duduk di barisan paling depan. Di samping kananku Cindy, dengan semangat yang sama. Sudah kurasakan sejak perkenalan pertama dengannya, dia punya spirit selevel denganku.
Mendengarkan pak Richard berbicara panjang lebar di tengah cuaca panas yang tak mampu dilawan AC ruangan, memang kenyataannya membosankan. Terasa berat. Melawannya agar tidak mengantuk lebih berat dari yang kubayangkan. Berkali-kali aku menahan kantuk–menutup mulutku saat menguap. Tapi sekali saja aku kebobolan. Lebar mulutku terbuka. Suara hoaamm menyita perhatian. Pak Richard terbengong melihatku. Cindy ikutan bengong. Satu ruangan juga. Aku pun sama, bengong melihat mereka bengong.
“Saudari bisa keluar dulu, kembali bertemu saya lagi di jam kuliah mendatang.” Kalimat yang menohokku. Sesuai perintahnya, aku gontai keluar kelas. Sempat kutatap wajah Pak Richard yang mendelik tajam. Buru-buru kutinggalkan kelas ini. Malu bercampur rasa kantuk yang kutahan melebur. Ternyata hari ini tak semulus bayanganku.
Keluar dari gedung Fakultas Psikologi, aku berjalan ke arah parkiran motor. Berdiri cukup lama mengamati. Banyak sekali terparkir motor-motor berwarna cantik. Sangat Feminin. Pink, biru langit, coklat muda, krem sampai kuning. Aku tertarik sekali ingin memilikinya.
“Amara!” lengkingan suaranya memancing mahasiswa yang sedang asik duduk-duduk di parkiran penuh di bawah pohon rindang, semua menoleh ke sumbernya–Rini. “Matkul lu udah kelar?” Aku menggeleng. “Kok udah di luar?” Aku tak menjawabnya. Tetapi aku duduk lesehan di bawah pohon mangga yang daunnya sangat lebat itu. Rini mengikuti. “Kenapa lu manyun gitu?” Aku belum menjawabnya. Hanya mendengus kesal. “Jangan bilang lu dikeluarin ya sama dosen.” Rini cekikikan sendiri. Dia bisa menebak apa yang terjadi. Dan sepertinya senang sekali lihat teman lagi susah. “Udah ngga usah dipikirin. Gue juga pernah.”
Aku menolehnya tak percaya. “Yang bener?” Rini mengangguk, “Udah yuk ke kantin, ntar gue ceritain. Laper nih gue.”
Aku menuruti ajakan Rini. Mataku yang tidak bisa diajak kompromi membutuhkan asupan segelas kopi. Duduk di kantin yang bangkunya sebagian terisi, membuat kami sedikit kesulitan mencari meja yang kosong. Tapi akhirnya aku menemukan tempat yang indah. Duduk beralaskan koran bekas beberapa mahasiswa sehabis merokok di sana. “Kak, boleh ngga saya pake korannya. Nanti saya yang beresin.”
Mahasiswa-mahasiswa itu saling tatap, lalu tersenyum. “Boleh aja kalo untuk neng yang cantik ini,” ucapan salah seorang mahasiswa itu disambut riuh gelak tawa. Aku kikuk mendengarnya. Nyengir canggung. “Udah duduk aja neng, nanti korannnya dilipat aja, Taro di situ.” Aku mengangguk mengucapkan terima kasih. Lalu rombongan itu pergi meninggalkanku. Masih dengan tawanya yang khas. Kubersihkan bekas-bekas abu rokok yang berserakan di atas koran. Lalu duduk menunggu Rini. Aku melihat sekeliling kantin, di sini banyak yang menggunakan alas koran untuk duduk-duduk saat kantin ramai. Angin sepoi yang bertiup lebih disukai dari udara pendingin ruangan.
“Nih kopi lu.” Segelas kopi hitam diberikan Rini padaku.
“Thank you bestie,” ucapku lemah. Rini tertawa menyambut ucapanku. Aku nyengir–lagi.
“Emang lu kenapa disuruh keluar?”
“Gue nguap.” Seketika Rini terpingkal-pingkal.
“Lu sih, terlalu serius. Jadi banyak buku yang lu lahap. Sampe di kelas lu ngantuk kan. Pelan-pelan aja, ngga usah buru-buru pengen nguasain semuanya.” Aku ketawa. Kutiup kopi panas di gelas kecil. Kutuangkan ke tatakannya, lalu kuseruput perlahan. Aku yang tak terbiasa minum kopi hitam, mataku melek dalam sekejap. Lalu kuulangi langkah meminum kopi seperti tadi. Tak lama dua mangkuk bakso diantarkan ke depan kami.
“Udeh makan tuh baksonya, kalo ngga ntar gue yang makan.”
“Itu sih mau lu, dasar gragas.” Aku kembali menyeruput kopi hitam yang mulai mendingin. Kuhabiskan. Baru aku menyantap semangkuk bakso yang sudah meronta-ronta ingin kulahap satu per satu. “Trus lu sendiri kenapa disuruh keluar?” tanyaku.
“Sama kaya lu!”
“Idiih vangke lu.” Kami terpingkal menertawai nasib yang kurang beruntung.
“Saya boleh ikutan duduk di sini ngga?” Suara pria mengagetkanku dan Rini. Kami ternganga melihat siapa yang berdiri. Rini menyikutku.
“Eh apaan?” Bukannya dijawab pertanyaanku tapi malah melototiku. Akhirnya ku mengerti setelah Rini menunjuk ke seseorang itu. “Eh iya kak. Boleh kok. Duduk aja,” ucapku pada mahasiswa yang menguasai jabatan ketua BEM itu. Kak Dion.
“Kalian berdua aja?” Dia membuka sepatunya lalu bergabung dengan kami duduk di atas koran bekas.
“Iya, Kak. Kita berdua aja," jawab Rini cepat.
“Satu fakultas?”
“Ngga, Kak. Cuma kita berdua udah temenan dari SMP,” jelas Rini sedikit grogi.
“Oh ... e-e namaku Dion. Kalau boleh tau nama kalian siapa.” Kemudian Rini mengenalkan diri dan namaku. Aku sedari tadi hanya terdiam mengaduk-aduk bakso. Perbincangan kami terus berlanjut. Rini cepat sekali akrab dengan Kak Dion. Sementara aku hanya mendengarkan mereka berdua berceloteh. Sulit sekali bagiku cepat membaur seperti Rini.
“Kalo kamu fakultas apa, Amara?”
“Fakultas Psikologi, Kak,” singkat jawabanku. Aku baru bersuara saat ditanya. Lalu kembali diam tanpa bersuara. Selanjutnya aku terus mendengarkan obrolan Rini dan Kak Dion. Sesekali ketua BEM itu melirikku, dan saat itu aku hanya menunduk. Atau melemparkan pandangan ke tempat lain.
Jarum jam kurasakan mulai bergerak malas. Dunia seakan berhenti berputar. Aku seolah berada di dimensi lain. Dimensi di mana orang sekitarku tidak berpindah. Diam cukup lama di tempatnya. Hanya bibir yang bergerak. Dan tanpa suara terdengar. Semuanya terlihat slow motion dipandanganku. Lalu aku menggelengkan cepat kepalaku. Dan semua kulihat kembali ke adegan normal. Ah, aku memang selalu over thingking pada apapun. Kadang sesuatu yang belum terjadi sudah terekam di kepalaku.
Makanya aku ambil jurusan Psikologi untuk mengetahui fenomena over thingking pada otak manusia. “Amara!” Aku tersentak saat Rini memanggilku. “Kok bengong sih. Mikir apaan lu?” Aku tak menjawab. Hanya nyengir–lagi, yang kesekian di hari ini. Memperlihatkan senyum indahku. Dan barisan gigiku yang putih dan rapi. Kak Dion memperhatikanku, tanpa sadar senyumnya ikut mengembang. Aku kembali menunduk tak berani membalas pandangannya.
“Ehhemm," Rini iseng mengusik Dion. “Eh Kak Dion. IG-nya apa sih?”
“Dion underscore aleyndra, Rin. Kita mutualan ya."
“Beres, Kak.”
Kak Dion pun pergi meninggalkan kita berdua yang masih duduk terengap. Aku tak sanggup menghabiskan semangkuk bakso seperti Rini yang tampungannya besar, bahkan kuahnya pun tidak tersisa. Kalau tidak ada yang melihat mungkin tuh semangkuk kecil sambal sudah dihabisin. Kadang suka geli sendiri melihat Rini makan. Tidak ada kata jaim untuknya.
Kulirik jam di tangan. Sudah pukul 14.00, masih ada setengah jam lagi menunggu mata kuliahku selanjutnya. Kuperhatikan Rini tengah asik scrolling benda ajaib yang berharga melebihi 20 juta itu, melihat-lihat laman di sana. Matanya mengerjap sesekali dan sudut bibir yang melancip ke atas. Aku penasaran, sedang lihat apa dia. “Lu liat apaan sih, Rin. Senyam senyum sendiri.”
“Kepo ya?" jawabnya sambil tertawa kecil. Sedikit meledekku tawanya itu.
Aku geregetan. Kurebut saja handphonenya. Saat kulihat, foto-foto Kak Dion terpampang mentereng, “Ganteng ya Amara”
Aku tak mengindahkan ucapan Rini. Kukembalikan handphonenya. “Biasa aja. Banyak yang kaya gitu. Bosen diliatnya.”
“Sombong bet lu!”
Aku cekikikan. Lalu berdiri dan pergi dari sahabat terkutuk itu.
“Semangat bestie!” teriaknya. Kulambaikan tangan ke Rini sambil berjalan menjauh. Ah, aku terlalu sayang pada sahabatku itu.
Masih begah, mager sekali jalan ke kelas, tapi kupaksakan. Aku kembali ke kelas menjemput mata kuliah selanjutnya, sebenarnya aku malas kembali lagi, masih malu dengan kejadian tadi. Ini kedua kalinya aku dipermalukan karena kecerobohanku sendiri. Yang pertama tentu dengan Bu Margaret, si guru Bahasa Inggris di SMA yang masih kuingat betul bentuk wajahnya.