FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #9

BAB 8 - KEJARLAH TUJUAN UTAMAMU

BAB 8


“Fokus pada tujuanmu

Ingat masa depan ada di genggamanmu

Karena hanya kamu yang bisa menolong dirimu sendiri kelak."


Siang di satu jam menjelang tengah hari. Di luar terik masih belum berganti musim. Seharusnya Jakarta tidak lagi dibawah naungan kemarau kering. Sudah di awal lembabnya udara di musim hujan. Mungkin baru memasuki bulan Oktober, jadi derasnya tangisan langit belum tercurah semuanya.

Di pojok perpustakaan kampus, aku duduk sendiri, tengah membaca buku tentang Psikologi dari penulis terkenal. Walaupun Rini mengatakan kalau aku terlalu keras untuk cepat menguasai jurusan yang kuambil, tapi aku tidak peduli, aku tetap membaca banyak buku selagi aku mampu membacanya. Bagiku buku adalah mata kehidupan. Dari buku aku bisa mengetahui lebih banyak tentang dunia. Aku juga melihat yang orang lain tidak melihatnya. Dari buku aku bisa berpikir kritis. Tetapi alasan utamaku adalah tidak ingin membuang banyak waktu percuma. Dan menghindari Rini yang selalu mengajakku makan atau sekedar cuap-cuap tak jelas.

Hampir seperempat halaman kubaca. Cepat sekali diantara waktu yang sempit. Aku menandakan halaman terakhir yang kubaca dengan stiker kecil berwarna kuning. Kutulisi AMARA RENATA. Kalau ada waktu luang aku akan kembali membaca buku itu. Aku menetesi mataku yang terasa perih akibat terlalu banyak membaca dengan obat tetes yang selalu kubawa. Aku cek handphoneku, ada tiga pesan dan dua kali panggilan telepon dari Rini. Sengaja tak kuangkat karena memang ingin berkonsentrasi membaca buku. Mumpung perpustakaan ini sedang sepi.

Akhirnya baru kujawab pesan Rini ketika buku-buku itu sudah kukembalikan ke rak. Aku mengatakan pada Rini kalau handphoneku sedang dicas sedari awal masuk ke perpustakaan ini.

Masih ada satu mata kuliah yang harus kujalani. Masih sejam ke depan. Kuputuskan untuk mencari buku yang ringan saja. Untuk menyegarkan otakku. Pusing juga baca yang berat-berat.

Kutelusuri rak-rak di lorong sebelah. Aku mencari barisan buku fiksi. Satu per satu kubaca judul buku-buku tersebut tanpa mengambilnya dari rak. Ada satu yang menarik perhatianku, buku novel mengenai perjuangan orang tua menghidupi anak-anaknya yang masih kecil dengan segala keterbatasannya.  Aku jadi teringat mamah dan almarhum papah. Walaupun aku anak satu-satunya, aku tahu benar perjuangan orang tuaku. Kubaca prolog buku ini, sangat menyentuh.

– Tidak perlu menunggu banyak harta, untuk menyenangkan hati anakmu –

Sebaris kutipan di halaman pendahuluan buku tersebut, menggugah hatiku. Bagaimana kalau dibalik, seorang anak yang tidak perlu menunggu sukses untuk bisa membahagiakan orang tua. Kutipan itu lebih baik. Dunia tidak selalu tentang orang tua yang bertanggung jawab pada anaknya. Dunia juga tentang anak yang memikul tugas membuat orang tuanya bahagia.

Selagi perhatianku terpusat pada buku yang kubaca, tanpa kusadari sudah berdiri di dekatku–Fajar. Sedang memegang sebuah buku fiksi.

Dia kikuk menegurku. Aku tersenyum. Mencoba biasa saja. Tapi kegrogianku tidak bisa disembunyikan.

“Hai," kataku terdengar aneh.

“Jam kuliah lagi kosong?” Kulihat Fajar juga grogi. Mungkin sudah lama kami tidak berdua seperti ini.

“He’eh," anggukku. Lalu aku kembali beralih ke buku yang kupegang. Namun aku tidak benar-benar membacanya. Tidak bisa fokus. Sudah kucoba, tapi bola mataku selalu bergerak ke sudut kelopak untuk meliriknya.

“Kuliah kamu gimana, Amara?”

So far lancar aja.” Bohong kamu Amara. Kadang kamu juga mengalami kesulitan kan. Jujur aja. “E-e, kadang ada yang sulit aku pahami sih," akhirnya kutambah sekecap kalimat. Fajar terkekeh rendah.

“Sayang ya, jurusan kita beda. Kalau sama kita bisa diskusi.” Giliran aku yang terkekeh. Kekehanku terdengar meledeknya. Aku menaruh buku yang kupegang tadi. Kemudian aku hendak mengambil buku yang lain. Tetiba tanganku dan tangan Fajar berbarengan mengambil buku yang sama. Fajar menyentuh punggung tanganku. Semriwing rasanya. Merinding. Tangan itu yang pernah menyentuhku di rumah saat belajar bersama. Aku menarik tanganku cepat. Aneh menyetubuhi jiwaku dan Fajar. Kugeser kaki berdiri menjauh tiga langkah darinya. Aku tidak mau ada kesalahpahaman nantinya. Salah paham dengan Fajar, dan salah paham dengan Maya. Kami sempat berdiam diri dalam momen yang mencanggungkan ini.

“E-e, Maya, kabarnya gimana?” Pertanyaanku memecah kesunyian.

“Baik. Dia lagi ada kelas sekarang.” Aku dan Fajar kembali diam. Tirai tipis tak terlihat membatasi kami. Semenit kemudian aku teringat kelas selanjutnya. Masih setengah jam lagi, tetapi aku harus secepatnya pergi dari perpustakaan ini. Kalau dipergoki teman kami sedang berdua atau ada orang yang mengenali, aku tidak mau menjadi pusat pergibahan di seantero kampus. Atau kalau Maya yang memergokinya, aku tidak mau di sebut dengan sebuah kata yang bermakna rendah. Berkonotasi negatif.

“Aku ke kelas ya, Fajar.”

“Oh oke. Aku anterin.” Fajar bergegas mau mengembalikan buku ke rak di lorong sebelah. Aku mencegahnya mengantarku, “ngga perlu.” Suaraku mengagetkannya. Dan mengagetkan mahasiswa yang lain. “Fajar, aku masih ingat kelasku di mana,” ucapku berbalik badan membelakanginya. Aku setengah berlari meninggalkannya. Fajar menatapku hingga aku menghilang di balik pintu gedung perpustakaan.


-)(-


“Amara!”

Keras suara seorang pria memanggilku. Aku mengenalinya. Sudah beberapa bulan  aku belum akrab dengan cowok-cowok di kampus ini. Satu pun tidak. Tujuanku sangat jelas. Aku telah berusaha keras lulus dari PTUN, dan sekarang aku di sini, tidak akan pernah kusia-siakan kesempatan ini.

Aku berhenti. Tak langsung menoleh. Pemanggil namaku itu sudah mensejajarkan diri di sampingku. “Kak Dion. Ada apa?” Kak Dion memberikan sesuatu padaku. Dengan senyum seratus juta rupiahnya. Manis sekali. Coklat diikat pita warna putih. Perasaan tanggal 14 Februari masih lama. “Ini apa, Kak?”

“Coklat. Buat kamu.”

“Dalam rangka apa, Kak?” Tanyaku seolah pura-pura tidak mengerti. Padahal memang aku tidak mengerti maksud pemberian coklat ini untuk apa.

“Mm ini untuk kamu aja,” jawabnya. Kalau memang ini untukku tanpa maksud apa-apa, kenapa pakai pita.

“Dion!” Serempak kami berdua menoleh. Dua orang mahasiswa–satu cowok dan satu cewek menghampiri kami. “Dion, ayo kita rapat.” Mahasiswi itu mengajak Kak Dion untuk rapat. Tapi aku tidak pernah melihat keduanya di jajaran Badan Eksekutif mahasiswa. Siapa mahasiswa senior ini?.

“Rapat?” tanya Kak Dion.

“Iya rapat untuk kegiatan baksos.” What! Aku tidak salah dengar. Kak Dion ternyata suka melakukan kegiatan sosial. Ah mungkin karena dia Ketua BEM-nya.

"Oh ya, kenalin ini Amara,” ucap Dion dengan menunjukku. “Amara, ini Devi dan Bima. Kita berkoodinasi untuk melakukan kegiatan bakti sosial ke daerah-daerah sekitar Jakarta ”

Kami saling bersalaman. Kak Devi bercerita kalau mereka bertiga adalah pencetus kegiatan bakti sosial sejak semester dua. Jadi Kak Dion sudah melakukannya sebelum menjadi Ketua BEM. “Amara kalau suatu hari mau ikut boleh kok,” ujar Kak Devi ramah.

“Iya, kita suka ke luar Jakarta tapi yang deket-deket aja sih. Kaya dalam waktu dekat itu mau ke daerah Lebak.” Daerah Lebak itu bukannya jauh banget, di ujung Banten. Mungkin mereka sudah terbiasa, jadi yang jauh dianggap dekat. Aku mengucapkan terima kasih pada mereka yang sangat menghargaiku. Tetapi aku menolak secara halus karena kegiatan kuliahku yang masih padat.

“Aku tertarik sih Kak. Cuma masih harus fokus kuliah.” Kak Devi mengacungkan satu jempolnya padaku. Dan kukatakan kalau ada waktu luang aku akan ikut. Aku pamit ke kelas setelah mengucapkan terima kasih pada kak Dion untuk coklatnya.

“Ceritanya lagi pedekate nih, bro?” Sepintas aku mendengar gurauan Kak Bima pada Kak Dion. Dan tawa kak Devi. Tetapi aku tidak mendengar jawaban yang ditanya. Langkah kakiku berhenti di depan kelas. Ternyata ada Maya yang sedang berbincang dengan Cindy. Mau apa Maya. Dan Sejak kapan dia kenal dengan Cindy. Apa yang mereka bicarakan.

Aku langsung masuk saja. Enggan berurusan dengan Maya, dan aku tidak mau mencampuri semua yang tidak berhubungan denganku. Tetapi aku penasaran apa yang dilakukan Maya. Sudah dua kali aku melihatnya ke gedung ini. Selang beberapa menit, Cindy masuk ke kelas dan duduk di sampingku. Tidak ada yang ganjil setelah pertemuannya dengan Maya. Kami pun saling bersapa. Dosen mata kuliah Biopsikologi datang setelah semua mahasiswa masuk ke dalam kelas. Mata kuliah ini adalah salah satu yang wajib prodi. Jadi aku harus memusatkan pikiranku dari setiap penjelasan dosen.


-)(-

Lihat selengkapnya