“Meskipun kamu berusaha keras menjadi orang baik
Tetapi kalau orang menganggapmu buruk
Kamu akan tetap seperti yang mereka pikirkan."
Menit mata kuliah terakhir menyudahi penjelasan di depan kelas. Hari ini Pak Richard berhalangan hadir. Hanya Asisten Dosen yang menemani kami menyelami bab berlanjut dalam mata kuliah menarik ini. Aku melihat Cindy tergesa keluar meninggalkan kelas. Sebenarnya ada apa sih dengannya. Sampai sekarang aku masih bingung apa yang terjadi. Oh Tuhan, sulit sekali mencari teman yang setia. Teman yang yang bisa dipercaya. Awalnya aku berharap banyak pada Cindy bisa menjadi teman akrabku, tetapi belum genap satu semester berakhir pertemanan kita berubah. Hanya Rini yang bisa saling mengerti. Aku sudah hampir tujuh tahun bersahabat dengannya. Konon persahabatan akan langgeng kalau sudah menginjak usia pertemanan di tahun ketujuh.
“Azka, yuk jalan.” Aku mengajak Azka yang belibet dengan buku-buku catatannya yang masih berserakan di atas meja. Kalau mahasiswa lain hanya butuh satu buku tulis untuk mencatat, tidak dengan Azka. Dia tipikal cowok yang terencana. Banyak sekali daftar yang harus dijalaninya hari ini. Setiap hari daftar-daftar itu berubah sesuai rencananya. Sangat terorganisir. Aku seperti tertinggal satu windu darinya.
“Yuk,” jawabnya seraya bangun dari kursinya lalu memberikanku sebungkus biskuit yang masih tersegel rapat.
“Biskuitnya ngga di makan?” Aku iseng bertanya. Padahal aku senang sekali dikasih biskuit ini, perutku sudah keroncongan.
“Tadi gue makan pas asdos nerangin, abis ngantuk banget.” Sama saja ternyata denganku. Orang pintar pun kalau sedang terkendala sesuatu pasti random juga kelakuannnya. Dan aku setuju. Tidak ada satu pun penjelasan asisten dosen itu yang kumengerti. Makanya mencari buku-buku bekas untuk referensi adalah jalan lain untuk memahami materi mata kuliah.
Rintik-rintik gerimis menemani aku dan Azka mencari buku-buku d pasar loak. Dari mulai lapak-lapak yang berdiri di pinggir jalan besar hingga ke pelosok-pelosok gang kecil dengan pemukiman yang padat. Mencari buku tidaklah semudah membeli barang lainnya. Mencari buku bekas harus dibuka halaman per halaman, takutnya ada bab yang hilang atau halaman yang sobek. Melelahkan memang, tapi mengasikkan. Puas rasanya kalau sudah mendapatkan buku yang kumau.
Rintik tak lagi merintik, namun semakin membesar menjadi hujan terderas di minggu awal Oktober. Aku dan Azka menepi. Mencari tempat tongkrongan untuk melepas lelah dan haus. Di seberang sana, terdapat kafe kecil. Kami memutuskan untuk menunggu langit meredakan tangisannya. Menyewa satu payung dari seorang gadis kecil yang berjibaku dengan kotornya dunia hanya untuk mencari tambahan uang jajan yang jarang mereka terima. Kepalanya ditutupi plastik kresek dan pakaiannya basah kuyup. Ngenes melihatnya. Anak seusianya sudah harus berjuang keras menghadapi hidup yang tak pernah mudah bagi kaum papa. Dan gadis kecil itu berkata kalau ngojek payung ini sudah biasa baginya.
Kami sudah sampai di seberang jalan. Selembar uang berwarna biru diberikan Azka pada gadis kecil itu. Aku tersenyum lepas melihatnya, “Makasih om.” Dua kata itu membuat kami bahagia. Bahkan gadis kecil itu meneruskannya dengan mencium tangan kami. Jarang sekali aku melihat anak-anak di kota besar dengan etika yang baik seperti itu. Dia berlari kegirangan atas rezeki besar yang didapat hari ini. Hujan membawa berkah.
"Yuk Azka.” Aku mengajaknya masuk ke dalam kafe kecil itu dan langsung memesan dua kopi panas di tambah roti sandwich. Kubayar dengan uangku, karena Azka sudah mengeluarkan uang sewa payung tadi. Sebenarnya hujan-hujan begini enaknya makan semangkuk bakso. Tapi teringat dengan bakso yang kumakan seharian bersama Rini. Perutku berubah eneg. Ya roti sandwich yang kupesan tadi bisa mengganjal perutku–dan perut Azka.
Jarum panjang jam sudah bergerak setengah perjalanan sekali berputar. Namun belum bertanda langit akan mengurangi curahan airnya. Sambil kuseruput kopi yang mendingin. Aku memperhatikan lalu lalangnya orang-orang di luar kafe. Kuperhatikan sekelompok anak kecil yang mengojek payung. Tidak kulihat lagi gadis kecil tadi. Mungkin sudah terlanjur senang mendapatkan rezeki yang cukup besar bagi gadis seusianya.
“Azka, kira-kira ada ngga ya dampak psikis untuk anak-anak yang masih kecil sudah mencari uang?”
“Gue pikir pasti ada, Amara. Tapi dampak seperti apa kita ngga tau. Setelah besar akan terlihat. Itu pun kalau mereka jujur pada orang terdekat. Kalau tidak, bisa saja menyebabkan depresi.”
“Menurutlu dampaknya akan seperti apa?”
“Bisa jadi trauma psikis karena masih kecil sudah bekerja. Tapi bisa juga menguatkan mental mereka karena ditempa oleh kerasnya hidup.”
Aku kagum dengan jawaban Azka. Terdengar smart. Tidak rugi berteman dekat dengannya. Sepertinya aku sefrekuensi dengannya. Kalau kuperhatikan Azka tidak banyak teman. Ketika jam kuliah selesai, Azka langsung pulang. Tidak nongkrong-nongkrong dahulu seperti kebanyakan cowok-cowok di kampus. Apa dia sedikit introvert, sama denganku.
Ilmuku belum menyamainya, banyak buku yang sudah kubaca belum bisa membuatku berpikir cerdas dan menjawab praktis. Aku harus banyak belajar dari Azka. Diskusi inilah yang kubutuhkan. Saling bertukar pikiran.
Hujan tak lagi deras. Kembali ke gemerintik yang sangat jarang. Aku dan Azka keluar dari kafe kecil itu. Bau tanah setelah tersapu derasnya air turun dari langit tercium harum. Menciptakan daya magis yang mampu menghipnotis alam bawah sadarku.
“Amara, lu pulang naek apa?”
“Gue pesen ojol aja. Pengen cepet sampe rumah. Kasian nyokap."
“Oke gue juga ojol aja.” Aku dan Azka memesan layanan ojek online. Hujan yang mereda membuat aku kesulitan untuk memesannya. Mungkin banyak yang menggunakan layanan ini setelah usainya hujan deras.
Dari seberang jalan, aku melihat Kak Dion sedang berjalan membawa tentengan plastik kresek. Sepertinya Kak Dion juga habis membeli buku-buku bekas. Kenapa dia membeli buku-buku di pasar loak itu. Padahal dia kan mampu membeli yang baru.
Dan dia melihatku yang sedang memperhatikannya. Aku menoleh ke Azka. “Lu udah dapet ojolnya?”
“Belum, Amara, susah banget.”
Feeling-ku Kak Dion akan mengajakku pulang bareng. “Kita pesen taksi online aja. Ke rumah gue, kan ngelewatin daerah rumah lu.” Tanpa persetujuan Azka, aku buru-buru membuat orderan taksi online. Keberuntungan berpihak padaku. Taksi online terdekat berhasil kudapatkan. Dan benar saja dugaanku, Kak Dion berjalan mendekat.
“Amara, sedang apa kamu di sini?” Suara maskulin itu menyapaku.
"Tadi habis dari pasar loak kak. Cari buku.” Kujawab apa adanya. Lalu aku basa basi bertanya dari mana dia yang sebenarnya sudah kuketahui.
“Habis cari buku juga di pasar loak. Kamu kenapa ngga bilang, Amara, kan kita bisa bareng.” Aku menjawabnya kalau aku tidak berencana mencari buku di sini. Terpaksa kali ini aku berbohong.
“Pulang bareng aku ya, Amara.” Firasatku benar lagi–jangan main-main dengan firasat cewek. “Yah kak maaf, aku udah dapet taksi online. Kebetulan pulang bareng, Azka”
Azka menyela, “Eh ngga pa-pa kok Amara, kalo mau bareng Kak Dion."
“Loh kita kan ada tugas kelompok, Az.” Aku mengedipkan mataku. Merajuk Azka untuk sekata denganku.
"Oh iya tugas kelompok dari Pak Richard,” sambung Azka menatap Kak Dion.
“Itu taksinya udah dateng,” ucapku. Driver taksi tersebut memanggil namaku. Aku dan Azka meninggalkan Kak Dion yang mematung tak bergerak.
-)(-
Jahatkah aku pada Kak Dion tadi. Padahal niatnya baik, ingin mengantarku pulang. Malah Azka bilang kalau aku sudah menyiakan niat baiknya padaku. Bukan, bukan aku tak mau Az. Aku hanya risih. Iya risih didekati terus seperti itu.
Benarkah aku risih. Atau sesusungguhnya aku takut jatuh cinta ...