FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #11

BAB 10 - BERANDA HIDUPKU

“Rencana tanpa melibatkan Tuhan niscaya sia-sia

Dan

Rencana tanpa meminta restu orang tua niscaya tiada bertemu ujungnya."


Sudah di akhir semester. Sudah selesai perkuliahanku di semester pertama ini. IP yang kuraih lumayan untuk membuat mamah bangga padaku. Dan artinya aku bisa bersaing di fakultas ini. Rencana yang sudah kususun sejak dua bulan lalu untuk mendapatkan kerja magang di sebuah perusahaan akhirnya terealisasi. Aku mendapatkannya dengan usahaku sendiri. Mencari melalui internet perusahaan-perusahaan yang menerima pegawai magang. Dan aku lolos seleksi dari belasan mahasiswa yang melamar. Terima kasih Tuhan.

Mamah adalah orang yang paling sibuk mempersiapkan semuanya setelah mengetahui aku akan kerja magang. Mamah bercerita, “Dulu Almarhum papah juga selalu magang setiap libur semester.” Ternyata menurut mamah aku menuruni sifat almarhum papah. Pekerja keras. Berarti mamah dan Almarhum papah sudah menjalin cinta sejak mereka menjadi mahasiswa. Andai papah masih bersama kami pasti bangga atas usahaku ini.

Mamah juga bertanya apa Rini juga bekerja selama libur semester ini. “Rini, Mah? Magang? Bisa-bisa ayam berenti bertelur kali mah.”

"Hush! Kalo ngomong sembarangan aja.” Aku terbahak atas dampratan santai mamah.

“Mana mungkin Rini mau magang. Yang ada dia selfi terus bukannya kerja, Mah.” Aku cekikikan sendiri membayangkan kalau satu kantor dengannya. Mungkin kerjanya tidak serius, bercanda terus. Tapi semakin dibayangkan semakin seru kalau memang aku bisa sekantor dengannya. Pasti tidak akan membosankan. Ah sudahlah, aku fokus saja pada persiapan magangku. Di sana nanti aku akan bertemu dengan orang-orang baru. Orang-orang berpengalaman. Aku akan tahu dunia kerja yang sesungguhnya. Dunia yang katanya tempat berkumpulnya manusia-manusia toksik, penjilat, pemilik seribu wajah. Dan masih banyak cerita tak mengenakkan yang aku dengar. Tapi dari sekian banyak cerita jelek, pasti ada hal baik yang bisa diambil. Karena Tuhan selalu menciptakan dua sisi berlawanan. Baik dan buruk. Dan aku yakin ada orang-orang yang akan mau membantu.

Tak perlu memikirkan hal yang belum terjadi. Cukup melakukan yang sudah pasti. Baju-baju yang dibeliin mamah akhirnya terpakai. Biasanya kalau kuliah hanya kukenakan celana jeans dan kaus saja.

Duniaku akan berkembang. Berkala menjadi dewasa. Aku tidak mau lagi menjadi cewek cuek. Dengan aku bekerja magang, itu artinya aku akan memperhatikan hal-hal kecil dan bertanggung jawab. Aku ingin menjadi lebih peduli pada diriku sendiri.

Pagi-pagi sekali mamah sudah membelikanku sarapan. Sekotak nasi uduk komplit dengan topingnya. Padahal aku tak pernah makan berat di awal pagi. Aku sempat protes, tapi mamah bilang bisa buat makan siang nanti jadi aku tak perlu banyak mengeluarkan uang. Mamah memang sangat pengertian. Bersukur aku dilahirkan dari rahimmu, mamah.

Berbekal tas backpack berisi laptop serta peralatan make up. Kutatap langit berawan sebagian. Antara mendung dan cerah. Seakan ingin berkata semangatlah masa depanmu ditentukan saat ini. Rini juga mengirimiku pesan semangat. Saat kutanya apa yang akan dilakukannya hari ini, dia menjawab akan berlibur bersama Azka. Hmm. Apakah mereka menjalin hubungan lebih dari pertemanan dekat. Kalau memang benar, biarlah mereka menikmati indahnya semu percintaan. Karena belum tentu mereka saling berjodoh. Bisa jadi saat ini mereka sedang saling menjaga jodoh orang lain.

Sampai di kantor magangku sepuluh menit sebelum jam setengah sembilan. Sudah ada beberapa karyawan yang datang. Aku menyapa mereka. Beramah tamah dengan karyawan di perusahaan ini. Kalau kuperhatikan, perusahaan ini sepertinya perusahaan bonafide. Terlihat dari gedungnya milik sendiri. Dan saat kucari profil perusahaan ini di laman internet beberapa waktu lalu, perusahaan ini adalah salah satu bisnis dari pengusaha terkenal di Jakarta.

Masih terkagum-kagum dengan gedung yang wah ini. Ada seseorang yang menegurku. “Amara, selamat pagi ...” Senyum hangat menyambutku.

“Pagi, Bu Fransiana.”

“Yuk masuk.” Aku diajaknya masuk lalu menunggu langsung di dalam ruangan HRD. Aku akan membantu pekerjaan di Department Human Resourches. Sesuai sekali dengan jurusan yang ku ambil. “Duduk Amara. By the way, semua karyawan di sini memanggil saya Bu Anna.”

“Iya, Bu fransiana, eh maaf, Bu Anna.”

“Its oke. Nanti kamu akan terbiasa. Sekarang kita berbincang-bincang dulu di sini. Kamu akan saya arahkan tugas-tugas kamu sebagai staf HRD magang. Kemudian sejam kemudian akan saya perkenalkan dengan karyawan lainnya. Siapa tahu kinerja kamu bagus, bisa jadi referensi kita merekrut kamu.” Senyum ramah bu Anna membuatku terasa di terima di kantor ini.

Sikap optimis kurasakan saat mendengar Bu Anna berkata demikian. “Baik, Bu Anna.” Kubuka laptopku selagi Bu Anna mempersiapkan tugas-tugas untukku. Aku akan belajar banyak darinya. Berusaha yang terbaik di magang pertamaku ini. Setelah beberapa pertanyaan yang kulontarkan, ternyata bu Anna lulusan yang sama dengan kampus tempatku menimba ilmu. Wow, everything is conected. Dan Pak Richard adalah dosen favoritnya.

Obrolan tidak formal mengakrabkan kami. Tentang kampus, tentang perkuliahan, tentang dosen bahkan tentang mahasiswa di sana. Tak ada detik terlewati mengawali statusku di perusahaan ini. Aku benar-benar sibuk.

Sejam berlalu, sesuai di awal aku masuk ke ruangan. Bu Anna mengenalkanku pada semua karyawan. Mengitari semua meja. Menyalami satu per satu karyawan. Lumayan banyak karyawan di perusahaan ini. Bu Anna mengatakan kalau ini adalah anak perusahaan dari sebuah perusahaan besar di pusat Jakarta.

“Masih ada satu karyawan. Dia karyawan baru sih, Amara. Office Boy. Sekarang sedang di minta ke kantor pusat. Baru juga dua minggu di sini. Nanti kalau dia sudah balik ke kantor ini, saya kenalkan ke kamu ya.” Kuanggukkan kepalaku. Apapun jabatan karyawan di kantor ini, mereka adalah bagian penting sebuah perusahaan. Aku harus respect pada mereka.

Aku menuntut diriku sendiri untuk beradaptasi dengan cepat.

Sukses hari pertama, tak mengedurkanku mempelajari apa yang hari ini aku dapatkan. Aku mengulanginya lagi meski tubuhku didera lelah seperti digebuki pentungan hansip di komplekku. Mamah lagi-lagi sangat pengertian, membawakanku secangkir teh hijau dengan donat kentang buatannya sendiri.

Banyak pertanyaan-pertanyaan mamah tentang kerjaku tadi. Aku jawab tidak ada masalah. Aku bisa belajar dengan cepat. “Hari pertamaku baik-baik aja, Mah. Orang-orang di sana sangat membantuku.” Mamah angguk-angguk mendengar ucapanku. Doanya menyertaiku agar selalu mendapatkan kelancaran.

Lihat selengkapnya