“Kamu tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja
Butuh banyak waktu dari setiap kebersamaan jika ingin mengetahui keasliannya."
Aku memasuki gerbang kampus yang selama dua bulan lebih ini kutinggalkan. Kangen juga tidak menginjakkan kakiku selama itu. Kangen dengan situasi di Kampus. Kangen dengan suasana belajar di kelas. Kangen bertemu dosen-dosen pengajar. Semua yang berhubungan dengan kampus ini begitu kurindukan. Tetapi ada yang beda setelah aku berdiri di halaman kampus ini. Semua mata tertuju padaku. Ada yang salahkah?
Kikuk langkahku menyusuri kampus. Mata-mata terus menatapku liar, terutama cowok-cowok. Aku berjalan cepat menuju kantin. Kebetulan belum sarapan pagi ini. Sampai di depan kantin, situasinya sedang penuh sesak. Semua tingkatan mahasiswa sedang menunggu jam kuliah perdana di semester baru ini. Dan mereka sama saja, menatapku tak berkedip. Seakan semua mata sedang menelanjangiku.
“Amara ...” Dua suara berbarengan memanggilku. Dua suara berbeda jenis. Aku menengok ke belakang, memastikan siapa yang memanggilku. Rini dan Azka. Apa kabarnya mereka, dua bulan lebih menghilang hanya sekali berkabar.
"Wow, wow, wow!” Azka berteriak padaku. “Ini Amara?” Tak percaya pada penampilanku. Dua temanku itu menganga kala menyaksikanku. Kedua bola mata Azka seolah ingin mengulitiku. Memandang tak bercilap dari atas ke bawah. Lalu balik lagi ke atas. Rini mulai tersenyum seraya menyilangkan tangannya di atas perutnya.
“Gila lu, Amara. Abis magang malah makin cantik gini.” Risih aku mendengar pujian dua temanku yang terdengar aneh.
Aku menyangkalnya.
“Apaan sih lu berdua. Biasa aja ih.”
“Ih! Beneran bestie. Lu cantik banget. Udah cantik makin cantik.”
“Nah bener tuh, Rin. Dia ini dilahirkan udah seperti bidadari. Sekarang makin cantik. Gue rasa lu bisa jadi ketua genk bidadari.” Rini dan Azka terpingkal kencang. Menarik perhatian mahasiswa lain di sekitar kantin ini. Ya memang penampilanku beda sekali dengan enam bulan pertama masa kuliahku. Kali ini aku mengenakan dres berwarna biru muda sepaha bermotif bunga mawar dari bawah hingga ke bagian pinggang. Dipadu jeans hitam slim fit. Pas dengan lebar kakiku. Mungkin pakaian ini yang membuat mahasiswa lain terperangah sesaat, karena biasanya aku mengenakan celana jeans kedombrang berataskan kaus oblong tak membentuk lekuk tubuh. Tak menarik dilihat sama sekali. Agak membosankan.
Kuperhatikan Rini dan Azka jadi bertingkah aneh seperti ini–menurutku. Dan yang kulihat justru perubahan ada di diri Azka. Yang awalnya kukenal sebagai mahasiswa pendiam di kelas, sekarang menjadi pelawak seperti ini. Azka itu kan sama denganku, sedikit introvert. Kenapa jadi ekstrovert seperti ini setelah liburan bareng Rini. Dia sudah dirusak oleh sahabatku itu. Atau jangan-jangan benar dugaanku. Mereka pacaran.
Aku menyergapnya dengan sindirian sehalus tisu. “Yang beda mah lu berdua kali. Abis liburan bareng jadi berubah gitu.”
"Maksud lo!” Rini memelototiku. Bulat tajam kedua bola matanya menembus lapisan terdalam mataku. Azka agak terkejut dengan kalimat satir yang keluar begitu saja dari mulutku. “Dan lu Azka. Lu tiba-tiba aja jadi sok asik gini. Biasanya kan lu mengkeret di kelas, kek kura-kura yang suka ngumpet di tempurung.” Dia nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal, jurus seribu bayang semunya Azka.
“Bukannya itu katak dalam tempurung ya, Amara?” Polos Rini menyanggahnya.
“Kalo itu jurus lari dari pinjol, Rin ” Kami bertiga malah saling berbalas tawa. Dan kembali menimbulkan perhatian dari khalayak kaum muda intelek. Aku mendapati beberapa potongan kardus yang tersandar di samping dust bin berwana hijau. Ku ambil beberapa lembar setelah berizin dengan petugas kebersihan. Dan kugelar kardus tersebut di tempat biasa–tempat aku dan Rini biasa lesehan makan siang.
“Kayaknya lu harus bawa kain untuk kita lesehan di sini, Amara.” Tukas Rini. Azka sedang memesan makanan.
“Trus mau gue bawa-bawa ke kelas gitu Rin?”
“Yee, cerdas dikit ngapa. Lu titipin lah di warung langganan kita. Ya masa tuh kang warung ngga mau dititipin mahasiswi tercantik di kampus ini.”
Aku jenggut rambutnya yang indah itu. Kutarik cukup kencang. Rini berteriak. Kembali untuk kesekian kalinya mengundang tatapan mahasiswa lainnya. “Rin ...” Mumpung Azka belum kembali, aku ingin menanyakan sesuatu ke dia.
“Paan?”
“Lu pacaran ya sama Azka?” Rini tertegun atas pertanyaanku. Sekarang belagak tidak mengerti. Padahal tadi kan sudah kusindir, masa masih belum paham juga. Azka datang membawa tiga bungkus makanan dan tiga gelas minuman.
“Noh tanya aja sama orangnya.” Dengan cueknya Rini merebut minuman dari tangan Azka lalu menyeruputnya.
“Kenapa, Rin?” tanya Azka. Yang ditanya masih cuek, dan sekarang membuka bungkusan stereofom. Dilahapnya bubur ayam tersebut. “Amara, ada apa?” Kini giliran pertanyaan Azka ditujukan padaku. Ah dasar Rini, selalu aku yang dijadikan tameng terakhir.
Gelagapan pastinya saat ditanya Azka. Kualihkan saja dengan mengajaknya sarapan. Dan mengalihkan pertanyaannya. “Lu berdua kemana aja sih. Ngga pernah ngasih kabar. Mentang-mentang lagi liburan, pada lupa sama gue.”
“Dih ... yang penting kan oleh-olehnya ngga lupa bestie.” Kucibir saja Rini.
“Iya makasih,” ucapku datar. Aku memasang muka cemberut. “Iya nanti kita liburan bareng,” ucap Rini merayu sambil memelukku.
“Gimana pas kan?” tanya Azka.
“Pas, pinter banget sih lu berdua milihnya."
“Kalo gitu, besok pake.” Azka dan Rini berteriak kompak. “Mentang-mentang udah pacaran, kompakan banget.” Rambutku diacak-acak keduanya. Aku merajuk disambut gelegar tawa keduanya. Tertawa aja kompakan begini.
Indah sekali pagi ini. Baskara menyinari awal hari dengan lembutnya. Tak pernah letih menyinari dunia. Berpindah dari satu belahan ke belahan lainnya. Tak pernah berhenti. Tak pernah mengeluh. Apalagi protes pada sang pencipta. Baskara menerimanya dengan ikhlas. Menjalani tugasnya dengan sabar sampai di akhir masa nanti.
-)(-
Kumasuki kelas yang telah kurindukan. Kelas yang telah terisi penuh. Aku dan Azka orang terakhir yang memasukinya dan duduk di dua bangku kosong di depan, yang seharusnya terisi aku dan Cindy. Yang kulihat temanku itu menempati bangku di belakang yang biasa ditempati Azka–tepat di belakangku.
Sudah kuacuhkan. Kuanggap Cindy hanya sebagai penghibur di awal perkuliahan. Masih ada teman baikku yang lain, Azka. Tetapi aku masih penasaran mengenai hubungan Azka dengan Rini. Nanti saja aku tanyakan setelah jam kuliah usai hari ini.
“… Oke saudara. Sudah semester dua. Pastinya saudara sudah mulai bisa meraba. Mata kuliah fakultas ini akan semakin berkembang dan sulit. Jadi saya minta untuk fokus. Hargai orang tua kalian yang sudah menyediakan dana untuk saudara kuliah di fakultas ini …”
Hargai orang tua. Aku jadi teringat mamah. Mamah memutar otak dengan uang tabungan almarhum papah untuk kuliahku sekaligus biaya hidup kami. Walaupun mamah bilang cukup untuk kuliahku, tapi aku yakin kalau persedian uang kami tidak lebih baik dari yang mamah katakan. Ada dusta di raut wajahnya.
Sepertinya aku memang harus kuliah sambil kerja. Tapi apa bisa. Mengingat jam kuliah sedang berebut eksis di semester dua ini. Nanti saja, aku akan diskusi meminta pendapat dua temanku. Sekalian mengamati gejala diantara mereka. Aku memang yakin ada sesuatu yang disembunyikan.