FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #13

BAB 12 - PERSELISIHAN ITU ....

“Bungamu sedang mekar

Harumnya tercium oleh kumbang-kumbang jantan

Kelak bungamu akan menjadi rebutan

Dijagalah dengan segenap jiwa ragamu

Hingga kamu memutuskan siapa yang berhak mencium semerbaknya bungamu yang memabukkan bagi si kumbang jantan."


Kak Dion pulang setelah beramah tamah ke mamah. Selama Kak Dion bertamu dan berbincang seru, aku hanya diam saja mendengarkan. Mamah tampak sudah akrab sekali dengan mahasiswa yang menjadi idola di kampus itu. Seraya memainkan handphone, aku sedikit banyak menelaah setiap kata yang keluar. Kuperhatikan satu per satu kata yang diucapkannya. Sangat tertata. Pun ketika dia berbincang mengenai bisnis yang suatu saat ingin dia jalani setelah lulus menjadi seorang sarjana. Sangat berkelas. Bagaimana mungkin seorang petugas kebersihan bisa berkata mengenai bisnis. Walaupun dia seorang mahasiswa, tapi jurusan yang diambilnya bukanlah jurusan bisnis. Bahkan tidak bersinggungan sedikitpun dengan bisnis. Tetapi kenapa Kak Dion lihai sekali mengutarakannya. Apa memang benar dia lahir dari keluarga kaya raya yang sedang menyamar menjadi orang biasa. Ah, mungkin saja Kak Dion belajar secara otodidak. Mencari tahu sendiri. Banyak baca. Atau dia mengambil kelas bisnis di tempat lain. Semua itu kan bisa terjadi. Sama halnya mamah yang cukup mengerti mengenai pekerjaan almarhum papah.

“Sering maen ke sini ya nak Dion,” ucap mamah ketika dia hendak beranjak pulang. “Saya ada teman bertukar pikiran.” Aku memperhatikan wajah Kak Dion sumringah. “Baik tante.” Dia senang dengan ajakan mamah yang kuanggap pintu masuk bagi Kak Dion untuk selalu datang ke mari.

“Memangnya Amara ngga pernah ngajakin ngobrol tante?”  tanya Kak Dion sekaligus melirik ke wajahku. Mamah menggeleng. “Dia sibuk banget akhir-akhir ini.”

“Sibuk apa tante? Pacaran?” Mamah mengangguk sambil tertawa lepas. Kak Dion ikut tertawa. Dalam hatiku pun ikut tertawa. Dasar mamah, bikin aku senewen aja. Namun kalau aku perhatikan ucapan kak Dion barusan, ada nada pengharapan di sana. Mungkin berharap aku tak memiliki pacar.

Sudah hampir dua jam melewati asar. Aku mengajak mamah naik ke atas. Ke balkon rumah. Kegiatan bersantai yang sudah lama tidak ku nikmati bersama mamah. Selalu terjadi perselisihan waktu. Kalau bukan waktuku yang sibuk, mamah yang malas. Sekarang mamah sedang bergembira, jadi mau kuajak menunggu senja. Gembira karena kedatangan Kak Dion.

Seperti biasa, sepiring gorengan yang kubuat sendiri. Dan kali ini ditemani es campur yang sempat dipesan Kak Dion melalui aplikasi untuk kami sebelum meninggalkan rumahku. Menikmati sejuknya udara di sore hari. Menunggu senja yang akan datang, yang sudah lama tak kunanti.

Mamah mulai berbasa basi menanyakan kuliahku hari ini. Di awal aku masuk kuliah semester pertama, gencar sekali pertanyaan yang datang. Setiap pulang, aku tak diberikan kesempatan bernapas lega. Hanya istirahat malam saja yang menjadi penjeda pertanyaan-pertanyaan yang terkadang aku lelah manjawabnya. Keesokan paginya, mamah akan kembali bertanya. Itulah mengapa mamah mengatakan pada Kak Dion, tentang teman bicara. Ya, aku sudah lama tidak menemaninya untuk sekadar berbincang seperti ini.

Di ujung cakrawala. Baskara mulai menurunkan keangkuhannya. Sedikit demi sedikit. Silau meredup. Berganti semburat meneduhkan.  K|}Menyamankan. Warna jingganya membias mata menjaga misteri yang tersembunyi di atas sana. Dilingkupi warna sendu di sekitarnya. Luar biasa memanjakan mata. Lebar senyumku menyambut arsir warna yang terlukis sempurna. Dan aku bersukur masih diberi kesempatan menikmati senja bersama mamah.  

Lewati kumandang azan yang bergema dari masjid di ujung komplek. Aku dan mamah bergegas mengerjakan kewajiban sebagai seorang hamba Tuhan. Karena kami sebagai manusia selalu menumpuk dosa setiap harinya, makanya dibutuhkan waktu sesaat memohon ampunan. Bermunajat pada-Nya.

Selesai menengadahkan tangan, memohon selusin keinginan baik. Aku dan mamah bersama menghabiskan malam. Mamah seperti biasa menonton televisi dan aku mengulang materi yang aku dapatkan hari ini. Menyenangkan sekali seandainya masih bersama almarhum papah, aku bisa berdiskusi dan bertukar pikiran. Terasa sekali di waktu seperti ini, sepi menemani. Hanya berdua. Obrolan kami pun terbatas. Tak ada sela canda. Apalagi bergurau sampai terpingkal. Dan terpaksa berlari ke kamar mandi membuang cairan tak berguna. Kurindu sekali dengan situasi itu.

Ahhhh ... Aku menyandarkan punggungku. Menghela sisa-sisa tenaga. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Aku ingin beranjak ke kamar, tetapi tak tega meninggalkan mamah sendirian yang sedang menonton televisi. Kalau sudah di depan televisi, seakan jiwa mamah meninggalkan raganya. Hanya diam, menyaksikan tontonan di layar kaca dari benda kotak yang menampilkan gambar bergerak. Aku belum menggantinya dengan televisi berlayar datar yang sedang trend. Nanti aku pesan saja di marketplace, banyak yang harganya terjangkau. 

Ada banyak kejadian hari ini yang membuatku me-restart ulang pikiranku. Kejadian yang memunculkan vertigo ringan di kepalaku. Terpikir kembali seolah semua sudah di setting.

Apakah Fajar akan menyudahi hubungannya dengan Maya setelah tahu yang sebenarnya. Lalu siapakah mahasiswa senior yang bersama Kak Dion, setelah setengah tahun di kampus aku baru melihatnya. Dan terakhir, apakah mahasiswa senior itu cermburu padaku, teringat jelas tatapan mematikannya di pakiran motor kampus tadi siang.

Dari pada pusing-pusing memikirkan jawaban teramat menyulitkan itu. Lebih baik aku pamit tidur pada mamah, agar hariku cerah esok paginya. Dan wajahku bersinar seperti hari ini -sambil membayangkan wajah Kak Dion ketika berbicara dan bersenda gurau dengan mamah.


-)(-


“Amara ... Amara ....”

Suara cewek yang sempat kukenal berteriak lantang memanggilku. Dari kejauhan berlari tergopoh menghampiriku yang sedang berjalan ke perpustakaan. Cindy, tumben banget dia teriak-teriak manggil namaku. 

"Ada apa, Cin?” tanyaku datar.

“Itu ... Cindy tersengal. Napasnya tercekat. Tangannya sibuk mengatur kacamatanya yang melorot karena wajahnya berkeringat ditambah bentuk hidungnya yang mungil. Aku masih menunggu dia menguasai keadaannya. “Itu, Amara, Rini sama Maya berantem. Rame banget."

“Hah! Dimana?”

“Depan gedung Fakultas Ekonomi,” jawab Cindy. Tangannya menunjuk ke arah selatan dari gedung fakultasku. Aku berlari secepatnya ke arah yang ditunjuk Cindy. Tak peduli dengan jam kuliah yang telah memanggilku. Rini dan Maya kuliah di jurusan yang sama.

Dari kejauhan aku mendengar suara-suara berteriak dan gemuruh. Riuh membuncah. Sangat gaduh. Tapi beberapa mahasiswa lainnya justru bertepuk tangan dan menyemangatinya. Berkerumun lebih dari sekompi. Aku saksikan Rini dan Maya saling jambak dan cakar.

Aku langsung terjun ke pusat kerumunan itu. Memisahkan dua temanku yang sedang berseteru, meskipun yang satu sudah menjauh dariku. Aku sampai berteriak pada mahasiswa yang sedang bertepuk tangan untuk menjauhkan Maya, sementara aku menjauhkan Rini. Kondisi dua peseteru itu acak-acakan, rambutnya seperti habis bangun tidur. Kulihat pakaian Rini robek. Kututupi dengan sweater yang kupakai. Pun Maya tak berbeda jauh dengan kondisi Rini. Kacau amburadul.

Serapah kata-kata buruk keluar dari keduanya. Dari pada aku ikut tersulut emosi mendengar ocehan Maya, aku rangkul Rini dan membawanya dari tempat memalukan itu. Kutenangkan dia. Walaupun tindakannya salah tapi aku bangga karena Rini telah membelaku. Kasihan sekali Rini, napasnya sesak karena emosinya yang meledak-ledak. Sebotol air minum kuberikan padanya. sedikit menenangkannya walau dendam membara di sorot matanya.

Kupeluk dia. Kusandarkan kepalanya ke tubuhku. “Makasih ya, Rin, lu emang the best.”

“Lu ngga marah, Amara?”

“Kenapa gue harus marah. Lu kan udah belain gue. Lu udah ngasih paham ke Fajar. Lu udah kasih tau Cindy yang sebenernya. Lu yang ngelakuin semuanya, Rin."

Gantian Rini yang memelukku setelah melihat setitik air jatuh di pipiku. “Tapi lu ngga ikut mata kuliah gara-gara gue,” ujar Rini menyesal.

“Its ok, bestie. Sekali-sekali bolos ngga pa-pa kan. Capek jadi anak baik-baik terus.”

Lihat selengkapnya