“Tidak selamanya diam-mu adalah emas
Kamu wajib membela dirimu apabila dizalimi."
Sejak kejadian dua cowok caper berebut lahan perhatianku. Hari-hariku disibukkan dengan kata tidak dan gelengan kepala. Beberapa kali aku diajaknya kencan. Atau hanya sekadar nonton. Makan. Jalan menyusuri taman kota. Atau berlari pagi. Aku selalu mengatakan kalau prioritasku adalah kuliah. Belum berpikiran mencari teman dekat. Bukan itu saja. Kak Dion dan Fajar juga berebut perhatian mamah.
Fokus kuliahku sedikit terganggu dengan kelakuan mereka berdua. Kadang menyebalkan. Bagaimana tidak, tiba-tiba ada sekuntum bunga mawar merah ada di meja yang biasa kududuki. Aku yakin itu dari Kak Dion atau Fajar. Besokannya ada satu buket mawar putih dititipkan ke dosen pengajar untukku. Kebayang gimana malunya aku kala dosen itu mengumumkan kalau aku mendapatkan sebuket bunga dari seorang cowok.
Dan tidak sampai di situ saja, satu karangan bunga sudah berdiri angkuh di depan pintu kelas. Mengundang kehebohan seisi gedung, apalagi tercantum namaku. Duh malunya aku. Dan yang lebih bikin aku gondok, Azka dan satu teman kelas berfoto di depan karangan bunga itu. Meng-uploadnya di sosial media. Tentu tidak ketinggalan sahabat fomo-ku, Rini. Aku sering jadi bahan olokan mereka.
Aku tidak lagi bebas jika sedang berada di kampus. Entah itu jam mata kuliah sedang berlangsung, atau jam bebas. Ditambah kelakuan Azka dan Rini yang makin kompak kalau Kak Dion dan Fajar sedang mengeluarkan jurus pamungkasnya –jurus merayu seribu wajah, dan jurus nyanyian penyair. Kadang suka ketawa geli sendiri melihat effort mereka. Ulah yang mengeluskan dada. Minggu yang melelahkan mentalku, belum lagi tekanan beban mata kuliah.
Kebingunganku menghadapi makhluk-mahkluk ajaib di kampus. Bikin jiwa introvertku melayang seketika. Bagus sih, untuk melatih mentalku. Aku bisa lebih terbuka walaupun kadang susah. Tetapi mengganggu sekali. Aku kan juga butuh privasi.
Hari menjelang siang, menjelang memanjakan cacing di perutku. Tetapi aku masih gamang, makanan apa yang harus ku beli untuk mengisi perutku yang sudah lowong. Tepukan di bahu agak mengagetkanku. Biasanya teman-teman yang mengenalku akan memanggil namaku. Wajahku berbalik. Dan sudah berdiri di hadapanku. Dia mahasiswi senior yang menatap sinis padaku. Mau apa dia?.
“Ada hubungan apa lu sama Dion?” Dia langsung menodongku dengan sekalimat tanya yang merisaukanku. Ngga punya attitude banget nih orang.
“Hubungan? Maksud lu apa?”
“Ngga usah pura-pura lu! Kemarin gue liat lu jalan bareng sama Dion. Boncengan motor."
Ternyata benar dugaanku. Dia tidak suka aku dekat dengan Kak Dion. Aku membalas senyum sinisnya tadi dengan ketidakpedulianku. “Sori kemaren itu ngga ada urusannya sama lu!” Aku berlalu meninggalkannya.
Baru selangkah, dia memakiku, “Kurang ajar banget lu.” Mahasiswi senior itu menarikku. Lalu menampar pipi kiriku. Bunyi tamparannya mengundang mahasiswi lain menoleh. “Lu apa-apaan sih maen tampar aja.”
"Heh! Rasain lu tamparan gue.”
Aku tak tinggal diam. Aku tampar balik dia dengan seluruh tenaga yang kupunya. Dia terhuyung ke kanan. Lalu wajahnya berubah seram melototiku. Seribu rencana ada di otaknya. Dia maju menyerangku. Rambutku jadi sasarannya. Ingin dijambak. Tapi aku bisa menghindarinya dengan gerakan yang gesit. Tangan lainnya kembali ingin menjambak rambutku. Tetapi aku bisa menepisnya. Dan kembali dengan tenaga yang kumiliki, aku menamparnya. Kali ini ke bagian kepalanya. Dan kembali dia terhuyung ke kanan. Dia mengambil batu bata merah dari tempatnya berdiri. Lalu dia maju membawa batu bata merah itu. Tangannya mengayun hendak menghantam kepalaku. Tapi ada tangan lain, tangan kekar yang menahannya. Tangan Kak Dion. Cekatan merebut batu bata merah itu dan melemparnya ke tanah. Kak Dion juga mendorong tubuh cewek gila itu.
“Apa-apaan lu Sil! Lu maen nyerang orang lain seenaknya. Lu bisa dituntut!” Cewek itu menahan geram. Menatap penuh amarah. Matanya merah penuh dendam. Bergantian melihat Kak Dion dan aku. Banyak mata menatap penuh heran ke kami. Semuanya ingin tahu.
“Pergil lu dari sini. ngapain masih di sini,” bentak kak Dion mengagetkannya. Dan tentu juga mengagetkanku. Aku belum pernah melihatnya semarah itu. Selama ini yang kulihat kalau Kak Dion mempunyai perangai yang baik. Ramah dan sangat menghargai orang lain.
Akhirnya dia pergi berlari tanpa sepatah kata pun mendebat ucapan Kak Dion. Dan cowok ganteng ini menggandeng tanganku beranjak dari sini. Pergi meninggalkan mata-mata yang penuh tanya. Tidak terlalu jauh dari jarak lima belas meter seorang mahasiswa berdiri menatapku kecewa. Dia Membawa sekantung makanan. Fajar.
Dan selain Fajar. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada Maya yang sejak tadi melihat pertengkaranku dan Silla. Dan aku tahu itu.
-)(-
Desas desus di kampus terjadi. Setelah geger pertengkaran Rini dan Maya. Kini geger jilid dua, pertengkaranku dengan mahasiswi Senior yang dipanggil ‘Sil’ oleh Kak Dion. Banyak konspirasi kecil yang menghubung-hubungkan geger pertama dan geger kedua. Karena lakon di geger pertama bersahabat baik denganku.
Ungkapan maaf langsung diucapkan Kak Dion. Aku menepis tangannya saat dia ingin menyentuh pipiku. Tamparan itu masih terasa sakit. Bergemang–nyut-nyutan. “Maaf,” ucap Kak Dion. Lalu diam. Kita berdua sama-sama diam.
“Siapa sih kak dia?” tanyaku memecah keheningan. “Beberapa kali dia ngeliat aku seolah mau memakan mentah-mentah.” Kak Dion melihatku. Aku sempat melihat matanya. Bertubrukan. Tapi cepat kuhempaskan pandanganku ke tempat lain.
“Namanya Silla. Fakultas Kedokteran. Seangkatan aku.”
Kuperhatikan raut wajahnya. Tak ada kebanggaan sama sekali saat menyebut namanya. Apalagi menyebut fakultasnya. “Memangnya dia siapa, Kak. Kenapa nyerang aku?”
Kak Dion enggan menceritakannya. Wajah malasnya tak bisa disembunyikan. Tapi pada akhirnya meluncur pula kalimat mengejutkanku. “Aku dijodohkan sama Silla.” Dia menunduk. Menahan malu setelah berkata jujur. Ada kegeraman sedikit.
“Oh dia cemburu,” ucapku. “Kalo gitu aku ngga boleh dekat-dekat sama, Kak Dion.”
“Ngga gitu, Amara.” Kak Dion cepat menyanggahnya. “Aku memang dijodohkan sama Silla. Tapi aku kan ngga mau.” Tangannya merapihkan rambutnya yang tidak berantakan. “Aku sudah lama meninggalkan rumah.”
“Kak Dion ngekos?”
Pertanyaanku dijawab anggukan lemah Kak Dion. “Makanya kemarin aku ambil pekerjaan sebagai cleaning service. Untuk cari pengalaman di dunia kerja.” Gantian aku yang mengangguk lemah. Ibaku cepat saat menatap wajah sendunya. Aku memang seperti ini. Punya empati tinggi. Namun semakin kuperhatikan lebih dalam, aku melihat ada ganjalan di sana. Ada yang disembunyikan. Apa itu? Dan aku tidak mau mengoreknya. Bukan areaku untuk mengetahui kehidupan pribadi orang lain. Cukup tahu saja kalau Kak Dion sudah memiliki ‘jodoh’ meskipun masih memakai cara seperti zaman Siti Nurbaya.
Kulihat dia tampak mengetik sesuatu. Lalu, ”Amara, aku masuk kampus lagi ya.” Anggukku menyilahkannya beranjak pergi. Tak lama Azka datang. Bersama Cindy. Dengan penuh kegeraman, Azka bertanya siapa yang sudah melukaiku. Lantas aku bertanya sebelum menjawab, siapa yang sudah memberitahunya. “Ee, itu banyak yang bilang. Jadi berita heboh di dalem. Bener kan Cin?” Cindy mengangguk. “Asumsinya udah kemana-mana, Amara," jelas Cindy, yang kali ini bergabung dengan Azka masuk ke grup kami bertiga.
“Lu bilang yang mana orangnya, Amara?”
“Udah Az, ngga usah diperpanjang. Gue ngga pa-pa kok.” Aku adalah orang yang paling malas bermasalah dengan orang lain. Tadi hanya caraku membela diri. “Rini mana Az?” Azka menggeleng.
“Kalian ada yang mau minum ngga, aku beliin.”
“Boleh Cin."
“Gue juga mau,” ucapku pada Cindy. Berbaiknya Cindy sedikit mengkhawatirkanku akan kondisi psikis Maya. Ditambah dengan putus hubungannya dari Fajar. Entah kenapa kalau ada orang bertindak jahat padaku, aku tidak mau membalasnya. Kecuali sudah melakukan kekerasan fisik.
-)(-
Di gedung Fakultas Kedokteran, Dion melabrak Silla. Masih geram dengan tindakannya yang ingin melukai Amara dengan batu bata merah. Umpatan kasar keluar begitu saja dari mulutnya. Yang lebih mengherankan, ada Rini disampingnya. Pun Rini juga tak kalah, ikut-ikutan mengumpat kasar. Dia ingin sekali menampar Silla seperti yang mahasiswi senior itu lakukan pada sahabatnya. Setidaknya itu yang dia dengar. Tapi Rini menahan dirinya, dia sudah mendapat teguran karena pertengkarannya dengan Maya.
Puas memaki, Rini pergi. Disusul Dion.
-)(-