FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #15

BAB 14 - DI ANTARA DUA PILIHAN

“Bahagia dengan pilihan sendiri

apapun itu

Jauh lebih menyenangkan daripada menerima sesuatu dengan terpaksa."


Aku panik bukan kepalang. Kepalaku seolah berputar. Sakit rasanya. Kaca-kaca jendela di rumahku berantakan. Batu-batu itu juga menyasar jendela di balkon. Begitulah pengakuan mamah. Aku tidak bisa membayangkan ketakutan mamah tadi. Mamah bersembunyi di kamar, hanya sesekali keluar kamar, melihat keadaan di ruang tamu. Naik ke atas lalu turun lagi.

Pecahannya membuatku naik pitam. Pun dengan Rini. Wajah khawatir Kak Dion, terutama sama mamah. Azka dan Cindy bersitatap memandang tak percaya. Siapa yang sudah tega berbuat menjurus kekerasan ini. “Ibu ada yang luka?” tanya Kak Dion. “Mamah ngga pa-pa?” tanyaku sama khawatirnya. Seharusnya aku tidak meninggalkan mamah sendirian di rumah. Sementara Rini merasa bersalah karena telah mengajakku jalan-jalan.

“Tenang, Dion, saya baik-baik aja,” jawab mamah seraya mengelus pipiku.

Kekesalanku memuncak tatkala mamah bercerita. Dia berteriak-teriak meminta pertolongan, namun tak ada satu pun yang menanggapinya. Entah karena takut atau memang enggan terlibat. Akhir-akhir ini aku merasa tetanggaku menjauhi kami, sejak aku diterima di PTN sementara anak mereka tidak.

Akhirnya aku datangi rumah Pak RT setelah teman-temanku memberi saran. Ditemani Rini, aku melaporkan kejadian barusan. Dan meminta Pak RT untuk membuka CCTV di seberang rumahku–rumahku tidak memiliki CCTV.

“Jahat banget sumpah tuh orang-orang,” ucap Cindy. Aku pun mendengar umpatannya sebelum melaporkan kejadian. “Keselnya, tetangganya ngga ada yang aware,” sela Azka. Lalu Cindy bertanya kenapa sampai seperti itu. Azka menceritakan kalau itu semua berawal dari diterimannya Amara di PTN, sehingga tetangga-tetangganya yang memiliki anak sepantaran Amara yang tidak di lolos PTN merasa iri. Lalu dengki ke Amara dan mamahnya.

“Picik banget pikirannya, Az. Kasian Amara.”

"Iya makanya gue simpati sama dia. Banyak banget yang musuhin. Padahal Amara dan Tante Inge ngga pernah ngusilin orang lain."

"Itu dia, Az. Gue juga ngerasa bersalah sama Amara kemarenan."

“Udah, Cin, ngga pa-pa. Yang penting lu udah tau yang sebenernya.”

Azka berasumsi, kalau serangan ini ada hubungannya dengan Maya. “Bisa jadi, Az. Maya orangnya iri-an,” sanggah Cindy. Azka mengangguk mengerti. Rupanya Cindy telah tahu banyak mengenai sifat Maya. Makanya dia sudah tidak sreg bergaul dengannya.

Pak RT datang ke rumah. Aku dan Rini berjalan mengikutinya. Kondisi berantakan memang sengaja belum dibersihkan. Sebagai barang bukti. Sesuai permintaanku, Pak RT menyuruh sekuriti untuk memeriksa CCTV di seberang rumah. Kalau aku yang meminta rekamannya sendiri tidak akan diizinkan.

Teman-temanku memunguti batu-batu di ruang tamu dan teras, setelah pengurus RT mengambil foto untuk bukti. Selesai di sana keduanya ke atas. Menemani pengurus RT yang akan memotret kekacauan yang ditimbulkan para pelempar batu koral itu.

Tiga orang bertopeng terpantau di CCTV tengah melempari rumah Amara. Bertubuh tegap. Bertopeng seluruh kepala dan wajah–buff. Sekitar 5 menit digunakannya untuk beraksi. Hanya 5 menit menimbulkan ketakutan Bu Inge. Hanya 5 menit sudah meluluhlantakkan jendela rumah dan balkon. Terornya berhasil. Bu Inge sempat ketakutan.

Sekali lagi aku geram. Marah. Kesal. Pun dengan Rini, sahabatku sedari kecil. Azka dan Cindy sebagai temanku sejak di kampus menggerutu tak berhenti. Dan tentunya Kak Dion yang selalu memberikan perhatian padaku. Dengan sikap dewasanya dia bisa menenangkan mamah. Di sini aku takjub padanya. Aku memandangi mamah. Selintas rasa bersalah telah meninggalkannya. Tetapi mamah justru menenangkanku, yang penting selamat katanya.

Pak RT mulai berinvestigasi. Bertanya padaku, apakah memiliki musuh di kampus. Atau di tempat lain. Aku langsung teringat dengan Maya dan Silla. Kemarin dua orang itu menyerangku.

Aku bersitatap dengan Rini. Saling memberi kode rahasia. Akhirnya aku mengatakan kalau aku tidak memiliki musuh di kampus. Azka ingin protes, namun disikut oleh Rini di sebelahnya.


-)(-


Sepulangnya Pak RT, pengurusnya berencana melaporkan ke pihak berwajib. Tetapi kutolak. Aku mengatakan tidak perlu sampai pihak terkait karena tersangka utama belum ketahuan siapa. Kak Dion sekata denganku. Aku sebenarnya masih menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah terornya akan berlanjut. Atau hanya sekali saja.

Hari semakin menghitam. Menyisakan langit kelam tanpa bintang. Sendu. Tak lagi tersisa kebahagian. Wajahku tegang menanti malam melewati. Kak Dion dan Azka berinisiatif untuk menginap malam ini. Mengikuti jejak Rini. Ketakutan akan terjadi penyerangan lagi. Sementara Cindy sudah kembali ke rumahnya. Aku dibantu temanku menutup kaca jendela yang hancur dengan potongan-potongan kardus.

Malam ini menjadi malam tak terlupakan bagi aku dan mamah. Bahkan mamah sampai berkata, sepeninggal almarhum papah banyak sekali orang yang memakai topeng lalu membukanya. Menampakkan wujud aslinya. Aku setuju dengan mamah. Karena tinggal kami berdua, mereka yang selama ini baik sekarang terbuka sifat buruknya.

Kusarankan mamah tidur terlebih dahulu. Aku dan yang lainnya duduk-duduk di teras sambil berbicara mengenai hal ini. Ku tak menyangka kejadian ini baru saja dialami. Aku dan Rini akhirnya jujur kalau kemarin malam kita berdua bertengkar dengan Silla dan Maya.

“Untungnya dateng Rini yang bantuin gue,” ucapku merangkulnya. Disambut Rini dengan rangkulan yang lebih erat.

“Kak Dion tau ngga kalo Rini dan Maya pernah berantem di kampus?” tanyaku pada Kak Dion dan dijawab dengan gerakan kepala ke kanan ke kiri. “Itu kejadiannya sebelum Silla menyerang aku, Kak.”

“Apa itu ada hubungannya dengan Fajar?” tanya Kak Dion memandang bergantian Rini dan aku.

Rini mengangguk. Kak Dion diam mencerna. Seraya berpikir keras. “Apa ini ada kemungkinan mereka pelakunya. Dan menyuruh orang lain melakukan teror,” selidik Kak Dion.

“Aku ngga mau berspekulasi, Kak. Soalnya aku juga ngga tau Maya kenal Silla di mana.” Rini dan Azka pun mengangkat bahunya.

“Kayaknya besok pagi-pagi kita ke rumah Maya. Gimana?” usul Azka.

Kami bertiga setuju. Memang Maya harus dikasih sedikit pengertian. Tak terasa malam sudah mendekati paruhnya. Kuputuskan mengajak Rini beristirahat. Dan aku sudah menyuruh kak Dion dan Azka tidur di kamar kosong. Di lantai atas. Namun mereka memilih di ruang tamu saja. Menjaga segala kemungkinan.

Sesuai usul Azka, pagi-pagi akan mendatangi rumah Maya. Aku tidak diizinkan ikut, dengan alasan mamah sendirian di rumah. Masih jelas terekam di benakku, saat Silla dan Maya menyerangku kemarin. Apa benar ini ada sangkut pautnya dengan mereka. Inikah balas dendam mereka?. 

Aku memeriksa ruang tamu ini. Kusapu lagi. Takut masih ada pecahan kaca. Atau menghilangkan pecahan-pecahan kecil yang bisa menusuk telapak kaki.

Mamah meminta izin ke rumah Pak RT selagi aku membersihkan rumah. Aku tak bertanya untuk apa. Hanya menawarkan diri menemani. Tetapi sekali lagi mamah tak pernah mau merepotkan. Sudah terbiasa mandiri. Yang kulihat mamah hanya membawa map putih. Aku tidak tahu isi di dalam map putih itu. Mamah seperti menyembunyikan sesuatu.

Menghilang di balik pagar, aku melanjutkan bersih-bersih. Dan benar, masih kutemukan pecahan kaca yang belum tersapu. Sangat membahayakan. Tidak sampai 10 menit, mamah sudah kembali. Mamah berlalu di depanku tanpa bicara. Buru-buru ke kamar. Tak lama, mamah keluar lagi. Dia membawa selembar surat berukuran sebesar kertas hvs. Aku penasaran, sebenarnya apa yang dilakukan mamah. Dan kemana.

Di depan rumah Maya. Dengan emosi Azka dan Rini melabraknya. Maya berkeras dia tidak melakukannya. Apalagi sampai menyuruh orang melakukan tindakan teror.

Lihat selengkapnya