FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #16

BAB 15 - HARI ISTIMEWA AMARA

“Jangan menolak cinta yang datang

Karena bisa jadi, itulah cinta sejatimu.”


Pertengahan semester tiga ini beban kuliahku semakin berat, namun aku justru semakin menikmati kesibukkanku sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi dan tak lagi khawatir meninggalkan mamah dalam rentang waktu yang lama di kampus. Karena rumahku sudah terpasang CCTV. Aku bisa memantaunya melalui handphone. Ini semua berkat Kak Dion. Dialah yang memasangnya. Setelah kujawab pesan cinta darinya. Pesan yang ku kira akan menyakitinya. Tapi ternyata tidak. Kak Dion tidak terpengaruh sama sekali, dia justru datang paginya untuk memasang CCTV di sudut-sudut rumah. Aku salut padanya, begitu juga dengan mamah.

Libur semester dua kemarin aku tak mendapatkan perusahaan untuk magang. Berarti aku harus jauh lebih hemat sekarang. Senang sebenarnya, karena aku bisa menghabiskan banyak waktu bersama mamah. Tetapi sekarang pantauan di rumah ada di tanganku. Aku bisa pulang kapan saja kalau ada sesuatu yang mengganggu ketentraman mamah.

Sudah beberapa bulan ini, kulihat Kak Dion dan Fajar berjalan sendiri tanpa berpasangan. Mereka sibuk dengan teman-temannya. Kak Dion sibuk dengan kegiatan sosialnya dan panjat tebing sebagai olahraga kesukaannya. Fajar sibuk dengan kegiatan di klub motornya. Saat ini Silla tak pernah menggangguku lagi, meski sering sekali sinis menatapku saat berpapasan. Aku masih menganggapnya normal. Silla juga tidak pernah terlihat dengan Maya. Selain beda tingkatan, persahabatan mereka di dasari karena ingin menyakitiku -merasa cowoknya aku rebut. Padahal prasangka selalu berbanding terbalik dengan fakta.

Aku pun semakin tenang. Fokus pada kuliahku. Selalu berbarengan dengan Azka dan Cindy. Kadang diskusi mata kuliah berlanjut di rumah. Hariku tak ada celah untuk meladeni orang-orang yang ingin menghancurkanku. Hampir semua perhatianku tertuju pada kuliahku dan Mamah.

Semester tiga yang seru buatku, aku merasakan cepatnya bulan berganti. Banyak sekali kegiatan yang menyita waktu. Aku senang menjalani ini semua. Tak ada beban. Dan berakhirnya juga dengan nilai memuaskan. Aku tidak lagi mencari tempat magang saat liburan. Karena setiap perusahaan punya peraturan yang harus ditaati. Yaitu tidak boleh seenaknya pada absensi. Itu yang aku takutkan, kalau terjadi sesuatu pada mamah, aku tidak bisa kembali ke rumah dengan cepat karena terikat dengan kontrak perusahaan.

Menuju separuh perjalananku di kampus itu. Aku kembali ke rumah dengan perasaan puas pada diriku yang membuat mamah bangga. Aku akan mewujudkan mimpiku. Mimpi orang tuaku. Beberapa tahun ke depan.

Hari-hariku berlangsung datar. Seperti tanpa ekspresi. Tak bernada. Tak berwarna. Polos. Hingga akhirnya di suatu pagi. Mamah berteriak histeris. Menatap jendela. Kaku berdiri. Aku segera menghampiri. Mamah mematung. Telunjuknya mengarah ke jendela. Aku melihatnya ke sana. Ada tulisan yang menggunggah emosi jiwaku. Lebih tepatnya mengerikan. -TINGGALKAN RUMAH INI!- Tulisan menggunakan cat berwarna merah darah, membuatku merinding. Meremang. Membangunkan bulu-bulu di tanganku. Aku segera bertindak. Mengecek rekaman CCTV di handphone-ku.

Terpantau pukul 04.15 pagi. Itu artinya hanya sepuluh menit dari kumandang azan subuh. Tidak ada yang mengetahuinya. Atau pura-pura tidak tahu. Mereka melompati pagar tanpa bersuara. Mereka beraksi. Mamah langsung berucap. Dugaannya selama ini mendekati kebenaran, kalau pelakunya adalah dari keluarga almarhum papah. Mereka menginginkan rumah ini. Sekaramg aku juga berpikir seperti itu. Tidak mungkin ini perbuatan orang suruhan Silla atau Maya.

“Mah, kabarnya sertifikat rumah gimana?”

"Tenang aja, Nak. Sudah beres. Sudah pakai nama kamu. Mamah minta maaf ya, selalu lupa kalo mau kasih tau kamu.”

“Ngga pa-pa, Mah."

Aku membuang napasku. Panjang dan perlahan. Harusnya rumah ini pakai nama mamah. Kenapa pakai nama aku. Tetapi ketika mamah menjelaskan alasannya, aku mengerti. Menurutnya, kalau pakai nama mamah akan membuang waktu dan biaya. Dua kali balik nama. Suatu saat akan balik nama ke namaku. Karena rumah ini akan menjadi milikku nantinya.

Selesai mengambil gambar, aku membersihkan tulisan cat itu memakai air yang sudah tercampur dengan sabun. Tidak begitu sulit. Karena tulisannya belum terlalu kering. Belum terpanggang hebatnya jilatan sinar mentari pagi. Kukirimkan gambar yang kuambil tadi ke Pak RT. Dan kukatakan kalau tulisan tersebut sudah kuhapus. Pak RT memberikan solusinya untuk memperketat keamanan di portal depan. Sekuriti akan ditugaskan menyeleksi tamu yang masuk ke dalam komplek.

Aku memberitahu Rini. Yang berlanjut menyebarkannya ke Cindy dan Azka. Karena rumah Rini yang tidak jauh, dia cepat datang ke rumahku. Tak lama Cindy sudah tiba diantar kekasihnya–Andre, yang baru dikenalin ke aku dan Rini. Mendekati zuhur, Azka datang bersama Kak Dion yang mengendarai mobil yang kemarin dia bawa saat mengajakku jalan-jalan.

Sekelumit tanya, dimana mereka ketemuan. Bukankah rumah Azka jauh dari tempat Kak Dion ngekos. Atau kebetulan bertemu di depan komplek. Atau mungkin saja janjian di tempat lain, karena tidak enak hatinya Kak Dion datang ke rumahku setelah penolakan di pagi itu. Aku pun sempat bertanya. Dan akhirnya Kak Dion mengatakan yang sejujurnya. Mengenai hubungannya dengan Azka. Sebenarnya mereka berdua adalah saudara sepupu. Cukup terkejut aku mendengarnya. Tapi tidak dengan Rini. Seolah dia sudah tahu itu.

“Maaf, Amara. Ngga pernah cerita,” kata Azka menyela sambil terkekeh.

Sebenarnya tidak masalah denganku. Hanya keheranan sedikit. Apa selama ini tidak ada yang namanya kebetulan setiap kali aku jalan dengan Azka, selalu bertemu dengan Kak Dion.

“Its oke Az,” senyumku setelah menjawabnya. Kak Dion berdiri kikuk. Ketahuan kan. Batinku. Aku akan bertanya sesuatu yang mengganjal pada Azka nanti.


-)(-


Kami sudah berada di sebuah tempat yang sangat asri. Pepohonan pinus berjajar tinggi menjulang. Rimbun. Kios-kios pedagang saling berjarak 10 meter menjadi penghias tempat ini. Pemandangan hijau tersaji memanjakan mata. Dan batin. Pegunungan terlihat megah nun jauh di seberang. Terlihat tirai tipis kabut sesekali menghalau pandangan. Udara yang sejuk melonggarkan dada karena setiap hari selalu bersentuhan dengan polusi.

Dengan menggunakan satu mobil milik Kak Dion, kami bertujuh menyembuhkan diri. Kak Dion duduk di belakang setir berteman Azka di depan. Aku, Rini dan Mamah duduk di tengah. Sementara Cindy dan kekasihnya duduk di baris belakang. Mobil Kak Dion berkapasitas besar. Dan mewah. Inilah yang membuatku semakin yakin, kalau Kak Dion memang datang dari keluarga berada. Kelima temanku ini memang berencana menghibur aku dan mamah yang kembali mengalami goncangan.

Mengambil dua meja bundar di atas bukit. Di tempat wisata. Kami ngaso sambil memandangi horison luas di depan mata. Rini dan Azka memesan makanan di salah satu kios. Sekilas aku menengok keduanya. Rini melingkarkan tangannya ke pinggang Azka. Mm, sudah kuduga sebelumnya. Semakin mendekati kenyataan dugaanku kalau ada apa-apa diantara dua sahabatku.

Wajah mamah tampak riang. Sumringah. Sudah lama tak merasakan pelesiran seperti ini. Terakhir ya ketika papah masih ada. Aku pun senang memandanginya. Lalu bergantian memandangi wajah Kak Dion. Gelagapan aku tatkala dia menangkap basah saat tersenyum kecil menatap lekuk wajahnya dari samping. Wajahku memerah. Sesak sekali dada ini.

Kulihat semburat di matanya. Binar cemerlang. Gerak tubuhnya agak canggung. Seakan perasaan Kak Dion tak pernah pudar padaku. Seakan masih sama seperti sebelumnya. Meskipun dia tidak pernah mengungkapkannya secara langsung, tapi perhatiannya menunjukkan itu semua. Serta perlakuannya padaku dan mamah.

Di sela-sela, mamah datang menghampiri. Mengatakan kalau pilihan seperti pagi itu, antara Kak Dion dan Fajar, “Mamah pilih yang pertama.” Aku menatap serius padanya. “Kalau yang kemarin itu mamah bilang ke kamu untuk fokus kuliah. Ternyata kamu bisa menjalaninya. Kalo sekarang mamah di suruh memilih, mamah pilih Nak Dionlah. Ganteng, sopan, salatnya rajin ”

Mamah sudah terhipnotis oleh sosoknya. Kak Dion bukan hanya merebut hatiku, tapi meraih tempat terlembut surgaku. Hari terindah untuk jiwa yang tulus. Dan menurut mamah, Kak Dion memiliki ketulusan itu. Mamah mengatakan kalau dia tidak menemukannya di diri Fajar. Mungkin perbedaan usia yang membuat Kak Dion terlihat lebih dewasa.

Kunikmati indahnya nirwana dunia. Di bukit hijau. Suasana syahdu. Dingin menyentuh kalbu. Bersenda gurau menikmati hari kebersamaan ini. Aku tak menduga, hingga hari ini aku dikelilingi orang-orang yang baik. Orang yang menjagaku dari mereka yang berniat buruk. Rini dan Azka berpencar dari kami menikmati rindangnya pepohonan pinus. Bersama Cindy dan Andre. Aku tidak mau mengganggunya.

Aku sendiri berizin ke mamah, jalan tidak jauh dari tempat duduk. Ratusan bahkan ribuan pohon pinus ini sangat memanjakan mata. Tanpa sepengetahuanku, Kak Dion mengikuti dan sudah berdiri di dekatku.

"Keindahan hutan pinus ini tidak kalah dengan gemerlapnya cahaya senja, bukan?” Aku menoleh. Menatap pemuda tampan di belakangku. Dia tersenyum. Aku menunduk. Wajahku kembali memerah.

“Aku tetap penikmat senja Kak," lirihku. "Senja yang selalu bisa kulihat setiap hari,” tambahku. Sejauh mata memandang, pohon pinus terbentang berdiri layaknya barisan prajurit siap berlaga.

“Tetapi senja terlalu jauh untuk digapai, Amara."

“Memang senja itu sangat jauh di angkasa. Sulit bagi kita meraihnya. Filosofinya begini kak. Kalo tujuan kita terasa mustahil, hanya keyakinan yang membuat kita kuat bertahan dan membuat kita semangat untuk menggapainya.” Kembali kulihat binar di matanya. Aku tahu itu pujian halus untukku.

“Bener kata orang-orang yang deket sama kamu. Kamu itu adalah cewek cerdas, tangguh luar dalam, dan mandiri.”

Aku menepis sanjungannya. Tak biasa aku menerima dari lawan jenis sepertinya. Bahkan dari Fajar sekali pun sejak di bangku SMA. Aku mulai teringat sejumlah pertanyaan untuknya. “Kak, sebenarnya Kak Dion orang berada ya?”

Lihat selengkapnya