FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #17

BAB 16 - ASA DAN HARAPAN

“Tuhan-lah tempatmu berharap dan menggantungkan diri

Serahkanlah segala urusanmu Pada-Nya

Jangan pernah berharap pada manusia

Karena harapan yang tidak sesuai dengan keinginamu akan membuatmu terjatuh."


Di taman di depan ruang VVIP rumah sakit. Gadis itu duduk sendiri menatap ke depan. Memegangi perutnya. Tak satu titik pun yang di tuju. Pandangannya kosong. Menerawang. Terbang melayang ke langit terselubung awan gelap. Memikirkan kekasih terbaring tanpa daya. Namun raganya belum lelah berharap keajaiban, tersadar dari koma berkepanjangan. Orang tua kekasihnya sudah jarang menjenguknya. Hanya orang kepercayaannya yang kerap datang. Itu pun hanya beberapa menit saja. Formalitas pada pegawai rumah sakit. Tak pernah masuk ke kamar tersebut.

Gadis itu kembali berdiri di depan jendela kaca. Di depan kamar pesakit. Memandang ke dalam ruangan. Melihat pesakit berjuang untuk bertahan. Mencapai kesadaran. Namun waktu belum berpihak, pesakit masih terbaring. Jiwanya masih tersesat di dunia yang asing. Belum mau terbangun menemui dirinya.

Sesekali dia ditemani sahabatnya yang setia. Sahabat yang selalu bersama dirinya, baik suka atau pun duka yang hadir. Dan sering kali hanya dirinya sendiri yang hadir setia menemani raga seakan tak bertulang.

Berbagai upaya sudah dilakukan. Namun belum membuahkan hasil. Hanya bisa pasrah, menanti keajaiban turun. Gadis itu sabar menunggu. Sabar menemani. Tak peduli kondisi terkasih. Layaknya senja yang selalu hadir tak peduli apapun situasi langit yang bersanding.

Masih berdiri. Berjam-jam tak merasa letih. Belum kunjung jenuh pula. Hatinya sudah telanjur tertambat. Tak ada celah mendekati yang lain, tak ada waktu jua didekati yang lain. Kehadirannya kadang terganggu oleh pecinta lainnya. Yang juga dengan setia menunggu.

Gadis itu terus menyaksikan sang terkasih terbaring. Menyaksikan mesin elektrokardiograf bergerak perlahan. Garis bersudut ke atas dan ke bawah belum berhenti. Merambat pelan seakan berjalan. Berarti masih ada harapan terselip di hati.

“Mbak." Sebuah panggilan nyaris tak bersuara dan tepukan lembut di bahu gadis itu. Namun suaranya terdengar jelas di telinganya. Karena kondisi sepi di koridor VVIP. Pengunjung dibatasi. Hanya orang tertentu yang bisa masuk ke ruangan ini. Dan hanya keluarga tertentu yang bisa di rawat di area ini –saking mahalnya biaya sehari.

“Iya, Sus."

“Mbak di tunggu sama Dokter di ruangannya. Mari saya antar ke sana."

Gadis itu mengangguk lemah. Tak menjawabnya. Tetapi raut wajahnya serius, seakan sudah menebak apa yang akan Dokter Irawan bicarakan.


-)(-


Kuliahku agak terganggu seminggu setelah makan malam tersebut. Aku terus kepikiran makan malam itu. Penerimaan yang tidak baik di jamuan yang tidak kuharapkan. Mentalku semakin diuji. Makan malam itu tersebar di kalangan mahasiswa kampus. Olok-olok dan gosip recehan menyebar masif. Yang kutahu setelah sahabatku menyelidikinya, Pak Hardjo bercerita pada Silla. Dan sudah bisa ditebak, dia yang menceritakannya ke semua orang. Dasar biang gosip. Silla tidak mencerminkan sedikitpun kalau dia datang dari keluarga berkelas.

“Tuh cewek emang mancing keributan terus,” geram Rini. Aku pun sebenarnya geram bukan kepalang. Aku merasa tak pernah mengusilinya, tapi kenapa dia selalu senang menggangguku. Senang melihatku terpuruk. “Biasa, dia cemburu Amara. Cintanya berbalas satu tangan pun tidak.” Cindy pun ikutan geram.

“Tenang. Gue akan kasih tahu, Dion,” tukas Azka. Aku melarangnya. Aku tidak mau meluaskan keributan di dalam kampus ini. Aku yakin mahasiswa-mahasiswa sudah tahu kalau Silla cemburu padaku. Namun tanpa sepengetahuanku, Azka tetap memberitahukannya ke Kak Dion. Dan seperti biasa, Silla kena damprat Kak Dion.

Sebenarnya aku tak bahagia sama sekali. Aku tidak mau persoalan ini semakin rumit. Selalu aku berdiskusi dengan Kak Dion. Dan dia bilang tidak rela kalau ada yang menyakitiku. Siapapun akan dihadangnya. Aku menyerahkan sepenuhnya pada dia. Orang yang kusayang walau belum sepenuhnya kudapat. Ada tembok besar penghalang diantara kami.

Pernah kutangkap dari kejauhan, Fajar berbicara pada Kak Dion. Entah apa yang mereka bicarakan. Dengan polemik yang terjadi, aku bisa menangkap pembicaraan mereka. Setelah kutanyakan pada Kak Dion, Fajar memintanya untuk melepasku. Karena menurut Fajar, bersama Kak Dion aku tidak bahagia –karena penolakan di restauran itu. Lantas, adakah jaminan aku bahagia bersama Fajar. Ini bukan bersama siapa, tapi soal perasaan yang tidak bisa kupaksa. Pada awal masuk ke kampus ini, aku memang masih berharap padanya. Tetapi jam waktu yang terus berputar, sudah tak ada lagi rasa terpendam dalam hati. Hilang tak berbekas. Dan aku tak mau memaksakan perasaanku untuk sebuah rasa tak enak di hati.

Berkesan tak peduli dengan anggapan tak bertanggung jawab, padahal hati ini bukan sekeras batu pualam. Dan kepala ini tidak berhenti memikirkan tanpa ingat waktu. Apalagi tempat. Aku insecure.

Mamah selalu mengatakan kalau jodoh tak kemana. Apapun rintangannya, orang tercinta akan kembali bersama kita. Itulah yang dinamakan cinta selalu menemukan jalan untuk kembali pulang.

Dukungan mamah dan sahabat sangat berarti untukku. Tanpa mereka aku sudah terpuruk sangat dalam. Kak Dion berusaha mendekatkanku dengan Papinya. Aku diajak ke rumahnya. Kadang ke kantornya. Dan sesering itu pula Pak Hardjo menolakku. Banyak alasannya, dari meeting. Ketemu pejabat negeri. Ketemu petinggi perusahaan yang masih ada hubungan kerja sama. Sampai melakukan kujungan ke negara lain.

Aku memang tak berharap lebih. Hanya diterima dengan baik saja sudah membuat hatiku bahagia. Bu Susan yang awalnya menerimaku dengan terbuka, kini berbalik lebih dari 180 derajat. Aku masih berpikiran positif, mungkin saja Bu Susan mendapatkan tekanan dari Pak Hardjo.

Karenanya, hariku selalu berakhir dengan kegalauan. Yang kasihan mamah ikut terkena imbasnya. Sedih memikirkanku.


-)(-


Lihat selengkapnya