FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #18

BAB 17 - IKHLAS

“Tidak perlu membalas dendam atas perbuatan buruk orang lain ke kamu

Karena,

Hanya Sang Pencipta langit dan bumi-lah yang berhak memberikan pelajaran hidup untuk semua tindak tanduk kejahatan."


Sudah beberapa minggu setelah teror terakhir di rumahku, tidak ada lagi kejadian aneh. Penjagaan ketat di portal depan menangkal orang tak dikenal masuk ke dalam komplek ini. Aku pun tak lagi memperhatikan CCTV di rumah yang bisa kuakses melalui layar handphone-ku. Aku lega, karena janji Pak RT ditepati. Aku juga belum tahu siapa sebenarnya pelaku teror tersebut. Apa benar dari keluarga almarhum papah yang menginginkan rumah ini, seperti dugaan mamah. Atau ada orang lain yang usil pada hubunganku dengan Kak Dion. Waktu yang akan menjawabnya.

Kuliahku semakin lancar. Nilai-nilai yang kudapatkan selalu memuaskan. Kerja kerasku menambah pengetahuan sendiri terbayarkan. Aku memang tidak mau mengecewakan mamah. Dan almarhum papah. Juga Kak Dion. Makanya aku berusaha keras meraih yang terbaik di fakultas ini. Kerapkali Azka dan Cindy bertanya padaku, aku senang bisa membantu mereka. Azka yang awalnya sangat memukauku karena kepintarannya, dua semester ini tertinggal jauh. Aku tahu itu karena efek hubungannya dengan Rini. Sebagai sahabat baiknya, aku hanya memberikan wejangan untuk fokus mengejar pendidikan. Dan menyemangatinya.

Aku kembali duduk di perpustakaan. Kali ini hanya memainkan handphone-ku dan menemani Kak Dion mencari bahan untuk tugasnya. Dia sudah memasuki semester akhir. Persiapan menyusun skripsi dan menghadapi ujian akhir dilakukannya lebih awal. Kak Dion tidak lagi aktif di organisasi kemahasiswaan kampus. Bahkan sudah mengurangi kegiatan panjat tebingnya. Hanya kegiatan sosial yang masih aktif dilakukannya. Kak Dion hanya mengajak aku jika ada kegiatan sosial yang hanya dilakukan di kota ini.

Kini hariku cenderung datar. Tapi tidak membosankan. Karena ada Kak Dion di sisiku. Yang setiap hari selalu menjagaku dan mamah. Dan setiap detik yang ada di kepalaku, selalu terisi mata kuliah yang harus kujalani. Kepalaku sudah dipenuhi ratusan rencana kedepan. Salah satu daftar rencanaku terabaikan, yakni magang setiap libur semester. Lagi-lagi karena khawatir keadaan mamah karena teror itu.

Hingga suatu hari, di siang sepi yang terik. Di kala mentari menunjukkan keangkuhannya. Di saat jiwa-jiwa sedang malas beraktivitas. Teror itu kembali datang. Tepat jam 14.00, di saat penghuni komplek beristirahat. Tidur siang. Mungkin juga sekuriti di pos samping portal. Hari itu bukan hanya sebaris kalimat dengan cat merah, tetapi juga penghancuran melalui pelemparan batu cukup besar. Dari lantai bawah dan atas. Bahkan yang lebih parah, satu bom molotov menembus jendela dan membakar gorden. Mamah yang sedang di kamar, keluar karena suara gaduh. Lalu berteriak histeris, mamah segera mengambil tabung APAR di dapur. Kemudian menyemprotkan busanya untuk memadamkan api yang mulai membakar gorden –untungnya Kak Dion pernah mengajari mamah cara memakainya ketika memberikan tabung APAR itu.

Aku yang sedang berada di rumah Rini ditelpon oleh mamah. Setelah diceritakan aku dan Rini berlari ke rumah. Termasuk Bu Heni dan suaminya. Panik. Aku sangat panik. Memikirkan keselamatan mamah. Di depan portal komplek, kulihat Maya dan Silla berlari ke arah berlawanan denganku. Aku dan Rini saling berpandangan. Kemudian kembali berlari ke rumah.

Sampai di depan rumahku, berkerumun tetangga yang hanya melihat. Tidak berbuat apa-apa untuk membantu mamah. Aku pun berlari ke dalam. Diikuti Rini. Berteriak-teriak memanggil mamah yang ternyata bersembunyi di dapur. Di samping kamarku.

Kupeluk mamah. Kupastikan surgaku tidak kenapa-kenapa. Kulirik Rini sedang menelepon seseorang. Pasti Azka. Pikirku. Setelah itu Rini memvideokan semua kerusakan. Di bawah dan lantai atas. Pak RT datang bersama sekuriti. Langsung mengecek CCTV di rumahku. Bu Heni yang menyusul bersama suaminya datang beberapa menit kemudian, lalu ikut menenangkan mamah. Memeluknya. Memberikannya segelas air minum. Dan tak lama Kak Dion dan Azka datang. Cindy baru saja tiba bersama Andre. sahabat-sahabatku berkumpul kembali di rumah ini. Dengan kejadian yang sama. Tapi sekarang lebih parah. Aku menangis di pelukan Kak Dion. Kenapa semua ini kembali terjadi.

Setelah memantau CCTV, belum diketahui juga identitas pelaku karena sama seperti teror-teror sebelumnya, mereka menggunakan topeng. Lantas aku meminta Pak RT untuk membuka CCTV di tempat lain. Di mulai dari depan portal komplek. Pak RT mengabulkan permintaanku. Tiap-tiap rumah dicek rekaman CCTV hingga ke depan portal komplek. Ternyata terpantau tiga orang berpakaian serba hitam tanpa menggunakan topeng buff bersama dua orang gadis. Walaupun rekaman video itu tidak begitu jelas alias burem namun aku sangat mengenali dua orang itu. Dari gerak-geriknya dan dari pakaian yang dipakai sama dengan pakaian yang dikenakan Silla dan Maya tadi. Aku heran, bukankah Silla sudah tidak memiliki hubungan dekat lagi dengan Maya. Kenapa sekarang mereka dekat kembali.

“Bener, Pak. Tadi di depan kita liat Silla sama Maya lari keluar komplek. Baju yang dipake juga sama kaya di video,” ujar Rini membenarkan keteranganku. Kata-katanya berapi. Menahan geram. Pun yang lainnya. Kak Dion yang paling marah. Dia bahkan yang paling bersemangat ingin melabrak kembali Maya di rumahnya, tetapi di cegah oleh Azka. “Ini udah perbuatan kriminal. Biar polisi yang bertindak.”

Para pelaku teror itu telah membaca situasi, kalau malam sekuriti pasti akan berjaga. Jadi mereka menerornya siang hari, karena dirasa aman keadaan komplek. Dan sepi.   

Dan teror itu datang lebih berat dari sebelumnya. Hampir membakar ruang tamuku. Kami belum membersihkan kekacauan ini, sampai polisi datang menyelidiki. Pak RT telah menelepon kantor polisi terdekat.

Hanya setengah jam, polisi sudah tiba. Menggunakan mobil dinasnya. Polisi itu masuk ke dalam rumahku. Memeriksa detil setiap inci. Setiap sudut. Mengumpulkan barang bukti. Batu-batu, pecahan botol yang digunakan untuk bom molotof, gorden yang terbakar. Mengambil foto untuk bukti penyelidikan. Polisi juga meminta kumpulan video CCTV. Foto yang diambil oleh Rini sebelum banyak orang yang datang ke rumahku. Serta kesaksian beberapa orang yang melihat kejadian itu. Aku lega, polisi telah mengambil alih kasus ini. Berharap ini menjadi teror terakhir. Dan semoga polisi menemukan pelaku dibalik teror ini.

Aku bersama Kak Dion dan sahabatku membersihkan rumah setelah diperbolehkan oleh polisi. Kutolak keinginan polisi yang akan memasang garis kuning di depan rumahku karena aku dan mamah menempati rumah ini. Aku takut tidak bisa menempati rumah ini selama proses penyelidikan yang pastinya akan berbelit itu. Aku bahkan tidak tahu harus tinggal di mana kalau rumah ini tidak bisa ditempati untuk penyelidikan.

Memandang lemah ke mamah. Aku tak tega. Setiap teror selalu disaat aku sedang tak di rumah. Kalau memang Silla dan Maya benaran terlibat, aku tidak bisa memaafkan mereka. Peringatan dari Kak Dion tidak membuat mereka jera. Justru semakin menggila. Aku tak habis pikir dengan sikap mereka. Segitunya dendam karena merasa cintanya direbut. Padahal aku tidak pernah merebut Kak Dion dari Silla. Atau merebut Fajar dari Maya. Dua cowok ganteng itulah yang menjauh dari Silla dan Maya. Kesal hati aku dibuatnya. Kenapa kejadian seperti ini selalu berulang di hidupku, sepeninggal papah. Tidak bisakah aku hidup tenang bersama mamah.

Sepenggal sinar mentari bayangnya seujung galah. Muram cahaya menyinari sore itu. Menyudutkan bayangan kelam. Sapuan sinar semakin menyilaukan. Sedih raut wajah tak dapat disembunyikan.

Aku duduk di teras. Bersama sahabatku. Ragaku berdiam diri, namun jiwaku melayang menembus pikiranku sendiri–termenung.

Benakku berpikir keras, kalau memang teror ini ada hubungannya dengan Silla, berarti ada hubungan pula dengan Pak Hardjo. Papihnya Kak Dion. Karena perjodohan Silla dan orang yang kusayang. Apalagi Pak Hardjo sangat menginginkan Silla jadi pendamping Kak Dion. Dan mamah salah, teror ini tidak berhubungan dengan keluarga almarhum papah yang ingin menguasai rumah ini. Lantas kalau memang benar Silla pelakunya, dan Pak Hardjo ikut andil, apa aku memang harus mengundurkan diri dari hubungan ini. Entahlah, aku tidak mau berpikir sejauh itu. Berani membayangkannya pun tidak.


-)(-


Aku masih bersama Kak Dion dan sahabatku, baru saja selesai menutup kaca jendela yang bolong dengan potongan kardus yang ku simpan –potongan kardus yang pernah kupakai untuk menutupi kaca jendela rumah beberapa waktu lalu. Aku masih duduk-duduk di depan teras. Beristirahat dari lelah fisik. Beristirahat meredam emosi yang memuncak. Kehadiran orang terkasih dan sahabat menguatkanku. Tanpa mereka aku akan terpuruk dalam sekali. Bu Heni dan suami kembali ke rumahnya, sempat mengajak mamah untuk menetap sementara di rumahnya. Mamah menolak halus karena tidak mungkin dengan statusnya sekarang menetap di rumah orang lain. Takut akan fitnah itulah alasannya.

Lihat selengkapnya