FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #19

BAB 18 - MELUPAKAN DAN MEMAAFKAN

“Suatu hubungan harus didasari kejujuran bukan kebohongan

Karena,

Kebohongan dengan alasan apapun akan menghancurkan hubungan itu sendiri.”


Aku belum mendapatkan kabar apapun mengenai kasus teror terakhir itu. Ketika aku bertanya pada Azka, dia bilang belum mendapatkan kabar dari Kak Dion. Kemudian aku berkonfirmasi pada Kak Dion, menanyakan kelanjutan kasus ini seperti apa. Kak Dion menjawabnya akan menjelaskan di rumahku nanti.

Waktu seakan melambatkan putarannya. Menguji kesabaran. Yang kutunggu dari jernihnya kasus teror belum mendapatkan jawabannya. Aku menanti kehadiran Kak Dion di rumah. Ketidakpastian membuatku gelisah. Siapa sebenarnya pelaku utama teror yang berlangsung beberapa kali. Yang pelakunya tidak pernah tertangkap. Licin bagai belut berenang di dalam lumpur.

Hari ini ada mata kuliah yang wajib kuhadiri. Aku sudah di kampus menunggu jam kuliah tersebut. Rini sedang berada di kelas. Dua teman yang satu jurusan denganku belum datang. Terpaksa aku duduk sendiri di taman kampus menikmati wara wiri mahasiswa. Setelah beberapa semester aku menempuh ilmu psikologi, aku semakin mengerti berbagai karakter hanya dengan melihatnya. Aku senyam senyum. Dari raut wajah aku pun bisa menebak pikiran mereka.

Dari hilirnya mahasiswa mahasiswi itu, aku melihat Silla bergegas menuju ke sebuah tempat. Loh seharusnya kan dia masih dalam penyelidikan kepolisian, tetapi kenapa dia sudah bebas. Apa dia dinyatakan tidak bersalah? Aku penasaran mau tahu kemana dia. Kuikuti langkahnya. Tentunya dari jarak yang tidak terlalu dekat. Wangi parfumnya masih tertinggal padahal langkahnya sudah menjauh. Memang ketara sekali kalau Silla dari keluarga sangat berada. Dari style-nya pun mudah ditebak.

Tak ada kecurigaan sedikitpun. Silla melangkah mulus menuju suatu tempat. Aku terus menguntitnya. Sampailah dia di depan ruang organisasi kemahasiswaan kampus. Sepertinya ingin bertemu Kak Dion. Dan sepertinya Kak Dion sedang berada di dalam. Kak Dion sempat memberitahuku tadi pagi akan memberikan pembekalan untuk mahasiswa yang masuk sebagai pengurus BEM. Aku berhenti. Di belakang tanaman monstera deliciosa. Tanaman yang memiliki daun sangat lebar yang bisa menutupi tubuhku.

Beberapa menit kemudian Kak Dion keluar dari ruangan tersebut. Menemui Silla. Hatiku bergetar menyaksikan mereka bertemu diam-diam di belakangku. Tetapi aku harus berpikir rasional. Aku harus tahu terlebih dahulu untuk apa mereka bertemu.


Sayup terdengar pembicaraan mereka. Tidak terlalu jelas. Tetapi sekilas aku melihat wajahnya menekuk menahan amarah. Dan kebencian. Lalu aku mendengar Kak Dion menyebutkan tentang teror itu. Dan menyebutkan papinya. Aku semakin penasaran. Apa yang mereka ketahui mengenai teror itu. Tampak mimik serius wajah Kak Dion. Sesekali matanya melotot. Gerakan tangannya mengudara. Kadang bergetar. Seperti sedang melakukan ancaman. Tapi untuk apa. Dan siapa. Aku tak tahan ingin keluar dari persembunyian ini. Kupantau terus pergerakan mereka. Sekali waktu keduanya memandang ke arah lain. Jauh ke depan. Dan tidak memperhatikan sekitar ruang organisasi kemahasiswaan ini. Aku berlari cepat dari balik tanaman monstera deliciosa ke tanaman yang sama yang letaknya tidak jauh dari mereka berdiri. Di posisi ini aku mendengar jelas pembicaraan mereka.

“Denger ya, Sil. Gue ngga ada hubungan apa pun sama lu. Gue menolak perjodohan ini!"

Silla diam. Lagi. Sementara aku masih berhati-hati. Masih fokus mendengarkan. “Gue peringatin ke lu, jangan ganggu Amara dan mamahnya lagi. Kalo sampe ganggu lagi. Gue laporin ke polisi. Dan ngga bakalan gue cabut laporannya!”

Silla memandangnya sinis. Senyum meremehkan. “Kamu pikir keluarga aku ngga punya pengacara, Dion?”

“Gue tau. Dan gue juga tau lu punya duit. Tapi yang namanya salah akan tetap dihukum. Ngga ada orang yang kebal hukum. Kecuali pejabat!” Emosinya naik. Ubun-ubunnya membara. Dadanya panas sesak.

“Oke, yang kemarin aku emang salah. Tapi papi kamu kan juga terlibat. Dia mau bayar pelaku teror di rumah Amara”

Thegg!

Lemas aku mendengarnya. Memerah wajahku menahan amarah. Bergelimang air di pelupuk mataku. Terjatuh dua bulir dari masing-masing bola mataku. Aku keluar dari persembunyianku. Dari balik tanaman hias yang indah ini. “Itu beneran, Kak?”

Melongo Ka Dion menatapku keluar dari persembunyianku. Seribu kata tertambat tak keluar. Kelu lidah tak bertulang. Kaku raga.

Tanpa ada jawaban, aku berlari meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Kak Dion yang termangu mematung. Aku sempat melihat Silla terkekeh rendah. Berlaku riang atas terbongkarnya pelaku teror itu. Tapi aku sempat pula mendengar suara tamparan keras. Ketika ku tengok ke belakang, Silla memegangi pipi kirinya. Menahan kesakitan. Bagaimana mungkin tidak sakit, pipi mulusnya tersambar telapak tangan kekar Kak Dion. Aku tak peduli dengan kejadian itu. Aku kembali berlari menjauh. Kudengar teriakan namaku tersebut berulang-ulang. Ku tak bergeming dengan suara itu. Aku terus berlari meninggalkan kampus ini. Menumpang ojek pangkalan yang berdiam tak jauh dari danau indah tempat tongkrongan mahasiswa gabut. Sejauh belasan meter, aku tak mendengar lagi suara Kak Dion memanggil-manggil namaku. Apa dia menyerah mengejarku? Ah, aku tidak mau memikirkan. Aku juga tidak memikirkan jam kuliahku lagi. Aku ingin sampai di rumah secepatnya.


-)(-


Dua hari sebelum kesalahpahaman itu terjadi, pengacara Pak hardjo menjamin client-nya bebas dengan jaminan -termasuk Silla dan Maya karena mereka yang berhubungan langsung dengan pak Hardjo. Lega hati Dion, papinya bisa kembali ke rumah setelah menginap semalam di hotel paling dihindari itu. Sementara tiga orang bertopeng dan keluarga almarhum papahnya dijebloskan ke penjara.

Mengenai keluarga almarhum papahnya, yang terdiri dari bapak dan ibu mertua Bu Inge, adik perempuan dan adik laki-lakinya adalah benar pelaku teror berulang kali. Dan benar keluarga tak tahu diri itu menginginkan rumah peninggalan Almarhum Erlangga Arasy –anak pertama keluarga tak tahu diri itu. Rumah yang seharusnya sudah menjadi hak Bu Inge dan Amara. Apalagi bertahun-tahun dua keluarga ini tidak saling berhubungan. Bukan karena Bu Inge dan suaminya kala itu yang mengucilkan diri. Tetapi pencoretan suaminya dari daftar keluarga yang menyebabkan mereka dikucilkan. Tidak dihiraukan oleh keluarga tak tahu diri itu. Setelah lama tak menjalin temali persaudaraan. Setelah Pak Erlangga pergi bertemu sang pencipta. Keluarga tak tahu diri itu menginginkan rumah hasil jerih payah sendiri tanpa bantuan siapa pun. Jelas Bu Inge menentang keras. Dia mati-matian mempertahankannya. Salah satu caranya mengganti nama sertifikat rumah tersebut menjadi nama Amara Renata.

Harta selalu menjadi biang masalah hidup. Kadang bisa membuat orang berbuat nekat. Lupa diri. Tak berakal. Sering sekali terjadi tindak kriminal. Aku dan mamah merasakan itu.


-)(-


Lihat selengkapnya