“Cinta akan selalu hadir untuk orang-orang yang selalu menebarkan cinta kasih."
Satu setengah bulan setelah aku dan Kak Dion memproklamirkan diri sebagai sepasang kekasih. Dan hampir dua bulan setelah kejadian teror terakhir yang melibatkan Pak Hardjo. Aku semakin intens bertemu. Berdua setiap hari dengan mahasiswa tertampan di kampus. Mata-mata mahasiswi kerap iri melihatku. Mata-mata mahasiswa tajam menusuk jantung kak Dion. Aku dan kak Dion menjadi pasangan yang paling mencuri perhatian. Kita bagaikan magnet yang menyedot daya sekeliling. Menyedot sisi negatif. Aku semakin sering main ke rumahnya Kak Dion yang megah itu. Saat ini kak Dion sudah kembali ke rumah orang tuanya. Tidak tinggal terpisah lagi di tempat kos. Beberapa kali aku bertemu dengan pak Hardjo. Sambutannya tidak sesinis sebelumnya, walau masih ada ketidaksukaan. Wajahnya masih dingin kala melihatku. Aku teringat ucapan Kak Dion. Saat Pak Hardjo berada di Polsek sebagai salah satu terduga teror, dia harus menerimaku sebagai kekasih anaknya untuk sarat mengeluarkannya dari tahanan polisi. Anggap saja itu sebagai konsekuensi untuk papinya. Cerita Kak Dion.
Bulan kedua. Bulan yang masih hangat-hangatnya bagiku dan kak Dion. Bulan mendekatnya segala janji manis di luar logika. Kata-kata manis berupa puisi. Pantun. Quote. Hingga diksi indah selalu menemani malamku. Aku dibuat melayang ke lapisan atmosfir tertinggi. Melayang ke dalam mimpi yang pernah ku singgahi –mimpi bertemu almarhum papah di padang rumput hijau.
Beberapa kali mamah dan Bu Susan bertemu. Berhubungan baik. Semakin mendekat satu sama lain. Pun aku yang juga akrab dengan maminya Kak Dion. Banyak sekali aktivitas yang kami lakukan tanpa melibatkan Kak Dion. Masak, belanja hingga bergosip bersama. Kak Dion pun sudah hapal benar kalau maminya sedang tidak di rumah. Pasti ke rumah Amara.
Hari-harinya yang sibuk mengerjakan skripsi dan mempersiapkan sidang akhir, sedang tak fokus padaku dan mamah. Kak Dion berjibaku mencari bahan untuk skripsiku. Berkomitmen menyelesaikan skripsinya tepat waktu. Dia sudah tidak sabar menamatkan kuliahnya. Dan selanjutnya meminangku. Niat baiknya selalu ku iringi doa terbaik.
Di bulan kedua ini. Di tengah kesibukkan Kak Dion menyelesailan skripsi. Suntuk yang menganggu pikirannya. Dan letih yang mendera tubuhnya. Kak Dion mengajakku jalan ke pinggiran di kota sebelah. Tepatnya ke daerah puncak.
“Aku mau lihat yang hijau-hijau, Sayang. Mau menyegarkan pikiran.” Aku mengerti sekali. Sulitnya membuat skripsi itu seperti apa. Almarhum papah pernah bercerita. Seringnya mendapat penolakan dan harus revisi dari dosen pembimbing. Hanya mahasiswa yang tangguh yang bisa menghadapi uletnya proses penyelesaian skripsi. Lelah fisik dan pikirannya yang menginginkan Kak Dion mengajakku melipir ke tempat berhawa sejuk.
Seizin mamah. Setelah beribu kata dariku dan Kak Dion, memohon diizinkan untuk melepas penat. Kami jalan pagi-pagi sekali, selepas Kak Dion salat subuh berjamaah di masjid komplek rumahku. Sengaja dia datang ke rumah sebelum seruan muazin di masjid berkumandang. Ingin menikmati hijaunya pemandangan kebun teh yang tersulap bak permadani besar menutupi bukit.
Menggunakan motor sport yang selalu setia bersamanya–aku tidak mau Kak Dion membawa mobil karena ingin merasakan suasana romantis berboncengan di jalanan puncak. Aku duduk di jok belakang memeluknya membelah jalanan di pagi yang dingin. Berangkat pagi untuk menghindari kemacetan karena ini tengah pekan. Masih hari kerja. Sesekali berhenti untuk sekadar sarapan bubur ayam yang mangkal di pinggir jalan. Atau berhenti mengisi bahan bakar. Dan ke toilet.
Melanjutkan perjalanan menuju dataran tinggi yang banyak di tuju warga kota. Beristirahat sebentar di sebuah kafe untuk menghangatkan tubuh dengan kopi panas. Memelekkan mata Kak Dion yang mulai mengantuk. Lalu berlanjut memulai perjalanan naik ke atas.
Motor Kak Dion mulai memasuki jalanan yang diapit oleh ratusan meter persegi kebun teh. Semakin naik semakin menghijau bukit ini. Udaranya semakin sejuk. Kueratkan lingkaran tanganku di perut rata kak Dion. Kusandarkan tubuhku dipunggungnya, Kak Dion sempat mengelus tanganku dengan telapak tangan kirinya. Romantis sekali. Jiwaku tenang. Ragaku terjaga. Dia malaikat pendampingku. Cintanya tak kuragukan lagi. Motornya melaju perlahan. Menikmati jalan panjang di tengah ruwetnya kendaraan. Sampai di jalan berliku menanjak, Kak Dion membuka helmnya. Aku pun begitu. Sepoinya angin membelai rambutku. Memainkannya. Sapuan lembutnya menyentuh wajahku. Kadang sedikit mengiris dinginnya.
Berhenti sejenak di seberang masjid yang banyak disinggahi pelancong dari luar Puncak. Walaupun jalanan tak ramai, tetapi di masjid itu penuh parkir kendaraan roda dua dan empat. Terlihat dari tempat berhentinya motorku. Adem melihat bangunan masjid itu. Kak Dion melanjutkan lagi naik ke atas. Terus membawa motornya ke sebuah telaga yang sedang viral di sosial media. Terletak agak ke dalam. Cukup sulit motor kak Dion melewati jalan berbatu. Licin karena kabut yang turun. Aku semakin merapatkan tubuhku ke punggung Kak Dion. Lututku diusapnya. Kubalas memegang punggung tangannya, sementara tangan kananku mengusap perutnya. Kita sampai di telaga ini. Ternyata pemandangannya sesuai ekpektasiku, seperti yang kulihat di akun-akun sosial media yang sering kali FYP.
Aku duduk di pinggir telaga ini. Menikmati syahdunya suasana. Merapatkan diriku ke Kak Dion. Hangat sekali. Rintik hujan mulai turun. Makin lebat mengguyur. Makin merapatkan diri. Kak Dion membelai rambutku yang terurai bergelombang. Meletakkan kepalaku di pundak kokohnya. Tanganku berpangku dipahanya. Kak Dion mengecup keningku. Dan mencium lembut bibirku. Gerimis lebat berubah menjadi hujan deras berkabut. Kak Dion mengajakku menepi.
Di tepian telaga. Di bawah pohon dengan lebatnya dedaunan. Aku dan Kak Dion berlindung. Kulepaskan jaket kulitku. Aku basah kuyup. Jaket ini tak cukup kuat menahan derasnya gempuran air hujan.
“Dingin banget, Kak.” Bibirku bergetar menahan amukan suhu menurun. Kak Dion kembali merangkulku. Menghangatkanku. Jaketku dan jaketnya sudah basah kuyup sampai ke dalam. Beberapa lama berdiri di bawah pohon ini, menunggu redanya hujan.
Kak Dion terus mengusap-usap lenganku. Memindahkan panas tubuhnya ke tubuhku yang sudah tidak tahan. Jari-jari tanganku mengerut. Bibirku membiru. Bahkan hangat wedang jahe yang dipesan kak Dion tak cukup menghilangkan rasa menggigil yang terus kurasakan. Akhirnya hujan deras sedikit mereda. Meski masih bergerimis cukup lebat, Kak Dion memutuskan meninggalkan tempat ini. Gesit menarikku ke motor yang terparkir tidak jauh. Lalu memacu motornya mencari toko pakaian.
Hanya menurun sedikit. Toko pakaian itu beberapa meter di bawah. Dan di toko itu Kak Dion membelikanku beberapa helai pakaian. Juga untuknya sendiri. Setelah Kak Dion membayarnya, aku buru-buru berganti pakaian di ruang ganti. Hangat rasanya. Sweater yang dibelikan Kak Dion ini cukup membantuku mengusir dingin yang menembus tulang. Kak Dion juga berganti pakaian, dia terlihat tampan sekali dengan jumper berwarna biru langit. Kami saling melempar senyum. Lalu keluar dari toko ini.
Menjelang siang, kami masuk ke dalam rumah makan. Mengisi perut yang dipaksa lapar oleh suhu yang terus mendingin. Suhu seperti ini melahapkan makanku. Kak Dion hanya memandangku. Simpul bibirnya mengundang tanyaku. “Kenapa sayang ngeliatin gitu?”
“Mm, kamu makin cantik, Sayang, kalau lahap begitu makannya.”
Aku tersadar. Malu. Langsung menghentikan makanku. “Ih apa sih kamu, Sayang.” kupukul lengannya. Bikin senewen. Akhirnya kulambatkan makanku. Sedikit menjaga image di depannya.
Kulihat ke langit membiru, gerimis sudah sedikit mereda. Walau tidak sepenuhnya. Kutadahkan tanganku terbuka ke atas. Masih menyisakan gemerintik, tapi menjarang rintikannya. Meski tidak membasahkan, namun suhu dinginnya belum mau beranjak pergi. “Hujan hanya membasahi. Tapi tidak melukakan, Sayang,” ucap Kak Dion. Aku memeluknya dari samping. Kak Dion merangkulkan tangannya. Dari arah bawah satu motor dan satu mobil kepolisian patroli berjalan pelan menanjak. Polisi yang memegang speaker mengumumkan sesuatu dari dalam mobil. Terjadi longsor parah di bawah. Banyak kendaraan tertahan tak bisa melintas. Aku mengatakan pada Kak Dion, untuk tetap di sini sampai sore nanti.
“Siapa tahu longsornya bisa diatasi, Sayang,” ucapku penuh harap pada Kak Dion. Aku memikirkan mamah yang sendirian di rumah. Kukabarkan secepatnya dengan pesan pendek yang sudah terbaca. Mamah membalasnya dengan pesan menyentuh. Hati-hati ya nak. Cuma kamu yang mamah punya sekarang.
“Kamu yakin, Sayang. Ini bukan Jepang yang masalah jalan rusak bisa cepat selesai.”
Aku merenungi ucapannya. Benar juga. Di kota besar saja jalanan rusak bisa berlarut-larut perbaikannya. Bisa berbulan. Hingga bertahun. Lalu bagaimana di daerah puncak ini. Aku melenguh, memikirkan nasibku di puncak ini. Memikirkan mamah di rumah yang khawatir denganku. Kak Dion merasakan itu, mencoba menenangkanku. “Semua akan baik-baik aja, Sayang.” Tenang hati ini. Walau masih terselip gelisah. Aku bersama orang yang tepat.
-)(-