“Cinta sejati adalah cinta yang mampu menerima apapun kondisi orang yang kita cintai
Bukan cinta sesaat karena kondisi fisik yang masih sempurna ataupun harta yang masih melimpah.”
Hari-hari beratku terlewati. Berbaring menyembuhkan diri dengan kekuatan orang-orang terkasih yang terus memberi keyakinan. Selama empat hari ku tak berdaya –berasa sebulan. Menanti kesembuhan dan kepastian. Diawal diagnosa, Dokter Irawan mengatakan kondisiku tak mengkhawatirkan. Namun akibat retaknya dua tulang rusukku yang menurut dokter tak seberapa itu, justru sangat mengganggu pergerakanku. Ditambah lengan kananku yang membengkak. Saat ini berangsur membaik. Aku sudah bisa berjalan-jalan dengan bantuan kursi roda. Kepalaku masih terpasang kain kasa yang mengitarinya, kain kasa ini baru saja diganti. Lenganku yang diperban kini dililit kain dan digantungkan di leherku, agar tidak terlalu banyak bergerak.
Di atas kursi roda. Aku memandang mamah yang memegangi kursi yang akan membantuku sementara. Memandangi pula Rini dan Cindy yang selalu setia menemani. Dokter melarangku berjalan karena rasa sakit di tulang rusukku yang belum menghilang. Lembut tangan mamah menyentuh kepalaku. Mulutnya tak berhenti bersukur, aku sudah jauh membaik. Lalu beliau mengantarkanku ke kamar rawat Kak Dion.
Tak sabar ingin melihat keadaannya. Beberapa hari ini tak ada yang mau memberitahuku. Beberapa hari yang menjenuhkan. Tidak ada yang mengerti perasaanku. Aku hampir putus asa setiap detik memikirkan Kak Dion. Sedikit hilang akal, kenapa sampai dirahasiakan.
Sampailah aku di depan kamar rawatnya. Kamar rawat VVIP. Aku tidak diperkenankan masuk, hanya diperbolehkan melihat dari jendela luar yang kacanya masih tertutup tirai berwana hijau. Perasaan tak menentu terus bergelayut. Napasku tak beraturan menunggu suster jaga membuka tirai penutup kaca ruang rawat itu. Lama sekali.
Sepuluh menit berlalu, suster jaga itu kembali bersama Dokter Irawan yang menegurku ramah. Dan menatap mamah.
“Kamu sudah siap, Amara?” tanya Dokter Irawan. Kenapa dokter itu pakai tanya segala. Seharusnya dia tahu kalau aku sudah bertanya sejak aku tersadar dari jebakan ketidaksadaranku. Aku bersungut-sungut dalam hati. Yang kuinginkan sekarang adalah, tirai penghalang kaca ini cepat disingkap. Aku ingin mengetahui kondisinya.
Dokter menjentikkan jarinya, memberi kode suster jaga untuk menyingkap tirai hijau itu. Perlahan suster di dalam membuka tirai tersebut. Hingga tersingkap sampai di ujung. Aku akhirnya menyaksikan tubuh Kak Dion terbaring di atas tempat tidur di dalam sana. Terbaring lemah. Tak bergerak. Hanya dadanya yang terlihat naik turun. Aku menangis sejadi-jadinya. Air mataku tumpah tak terbendung. Mataku sembab. Tetesan air mata ini tak mau berhenti mengalir. Aku menyaksikan seseorang terbaring dengan alat bantu pernapasan. Selang infus berdiri menemani. Mesin elektrokardiograf memunculkan garis lurus bersudut runcing ke atas dan ke bawah merambat ke kanan, mendeteksi kehidupan di dalam raga terbujur lemah bak kehilangan jiwa. Dan orang itu adalah orang yang aku sayangi. Kak Dion.
Ragaku ikutan lemah bak tak bertulang. Layu bersandar di kursi roda. Reaksi apa yang hendak kulakukan, aku pun tak tahu. Aku dilanda kebingungan. Kesedihan. kekacauan batin. Mamah memelukku. Rini dan Cindy menenangkan. Mengusap punggungku, membesarkan hatiku untuk menerima keadaan. Dan meyakinkanku semuanya akan kembali seperti semula. Jadi teringat akan kata-kata Kak Dion yang selalu optimis menata hidupnya.
Dokter Irawan mengangkat tangannya, memberikan kode kembali ke suster untuk menutup tirai. Suster mengikuti perintahnya. Aku diberitahu Dokter Irawan, sebenarnya menutup tirai itu adalah permintaan khusus dari orang tua Kak Dion. Kalau ada yang ingin berkunjung, bisa melihat sendiri dari luar kamar. Jadi tidak perlu masuk ke dalam. Dengan begitu perawatan penuh tanpa gangguan penjenguk bisa dilakukan pihak kedokteran rumah sakit ini. Dan Kak Dion bisa terjaga dari orang yang tidak berkepentingan.
Mamah mendorongku kembali ke kamar rawatku. Tetapi aku menolaknya, aku memintanya ke taman di depan kamar rawat VVIP ini. Taman indah yang diperuntukkan untuk pasien yang berada di kelas termahal di rumah sakit ini. Aku ingin menghirup udara segar.
Di taman ini, aku tak tega membayangkan Kak Dion terbaring lemah menunggu keajaiban. Aku mengharapkan takdir baik datang. Kembali seperti dulu lagi, di beberapa bulan yang menyenangkan.
Benakku kosong menyelam ke alam pikiranku sendiri. Teringat mimpiku yang dua kali datang. Dan aku teringat sosok pemuda dengan wajah bercahaya sampai tidak bisa melihatnya. Pemuda yang bersama almarhum papah di mimpiku. Pemuda yang juga mengenakan pakaian suci seperti papah. Tetapi di mimpi keduaku, pemuda itu tidak berada di sana. Apakah mimpi itu pertanda pemuda itu akan bersama papah selamanya. Dan apakah pemuda itu Kak Dion. Kutepis pikiran buruk itu. Aku tidak mau memikirkan sesuatu yang belum terjadi.
“Nak jangan melamun. Doakan yang terbaik untuk, Nak Dion.”
Ucapan mamah justru membuatku menangis lagi. Tak sanggup membayangkan kondisinya. Kak Dion berjuang sendiri di kamar rawatnya. Berjuang menemukan jalan dari keterasingan. Berjuang dari ketersesatan. Dan berjuang menemukan dunianya kembali.
Benakku kembali kosong. Mataku menerawang jauh ke depan tanpa titik jelas tertuju kemana sambil memegangi kepalaku.
-)(-
Berbulan sudah berharap kepastian. Berharap hidup kembali sedia kala. Aku menggantungkan pada takdir baik. Meski belum datang, tapi doa tidak terputus. Aku memegangi perutku. Mengelusnya. Meremasnya. Usianya sudah 4 minggu. Di dalam tubuhku. Hasil buah cinta dari orang yang sangat kusayangi. Aku belum mengatakan ini pada mamah. Juga pada orang tua Kak Dion.
Kulihat perutku, air mata menetes membasahi kemeja berbahan chifon yang kukenakan. Ikatan talinya membentuk pita di leher terombang ambing tertiup angin di taman ini. Di taman di depan ruang VVIP, tepat di depan kamar rawat Kak Dion.
Pak Hardjo dan Bu Susan sudah tidak pernah menjenguknya. Hanya orang-orang kepercayaannya yang datang. Itu pun hanya sebentar, tidak pernah lebih dari sepuluh menit. Orang kepercayaannya datang hanya membayar biaya rumah sakit. Tak pernah masuk ke dalam. Hingga hari ini, aku tidak diperkenankan masuk ke kamar tersebut. Namun Dokter Irawan adalah dokter yang sangat pengertian, dia kerap memberikan kesempatan untukku berinteraksi langusung dengan Kak Dion. Menyuruhku berbicara di dekat telinganya. Memintaku mengungkapkan isi hati dan kenangan indah bersamanya. Bagian usahaku untuk membuatnya sadar kembali.
Hari ini aku hanya berdiri di depan jendela kaca. Di depan kamar rawat Kak Dion. Memandang ke dalam ruangan. Melihat Kak Dion berjuang untuk bertahan. Mencapai kesadaran. Namun waktu belum berpihak, Kak Dion masih terbaring. Sama seperti berbulan lalu. Jiwanya masih tersesat di dunia yang asing. Belum mau terbangun menemuiku.