“Berpisah, satu kata yang menyesakkan
Tetapi selalu ada pelajaran penting yang bisa diambil.
Bahwa tak selamanya kita akan selalu bersama dengan orang yang kita sayang.”
Tiga bulan setelah kecelakan. Dan tiga bulan setelah Kak Dion terbaring tak berdaya tanpa tanda kehidupan. Bersamaan dengan usia nyawa kedua di dalam tubuhku yang sudah delapan minggu. Semakin hari akan semakin membesar. Semakin sulit disembunyikan. Bagaimana kalau tetangga tahu, pasti aku dan mamah akan semakin dinyinyirin. Dan takut dampak negatifnya, kami akan diusir. Atau kembali mengalami teror. Itu baru tetangga, belum lagi tatapan sinis seisi kampus
Tuhan, berikan aku jalan keluarnya. Kuatkan aku menghadapi semuanya.
Itu adalah sebaris doa yang aku panjatkan, jam empat kurang sepuluh menit di pagi ini. Sekitar lima belas menit dari azan di awal pagi yang sunyi. Dinginnya suhu memalaskan orang untuk keluar ke masjid. Ini adalah salat malam pertamaku setelah bertahun-tahun tidak mengerjakannya. Aku malu pada sang maha melihat, hanya menemuinya ketika sudah tidak tahu harus konsultasi masalahku pada siapa. Dan ketika aku tidak memiliki jalan keluar. Harusnya Tuhan-lah yang pertama kutemui sebelum aku menumpahkan masalahku pada manusia.
Jam tujuh pagi. Sedang kunikmati jalan santai berdua mamah, di selasar rumah sakit. Selasar khusus untuk pasien rawat kamar VVIP. Selasar yang memiliki pemandangan indah dibuat berkesan alami agar pasien merasa tenang. Dan pengunjung merasa nyaman. Tidak terganggu hilir mudiknya orang di kelas gratis biaya pemerintah. Duit memang bernilai tinggi, bisa membayar apapun yang diinginkan. Dan orang-orang berduit selalu meminta diistimewakan –tidak mau disamakan dengan orang kebanyakan. Orang-orang berduit selalu mencari kenyamanan yang jarang sekali mereka dapatkan.
Obrolanku mengalir tak jemu. Membicarakan masa depanku dan nyawa kedua di tubuhku. Sampai saat ini aku belum menemukan solusinya, apa yang harus aku lakukan untuk menutupi dampak perbuatan yang tidak kupikirkan sebelumnya. Terpikir di benakku untuk pindah rumah dan cuti kuliah kalau perutku semakin membulat. Tapi itu adalah pilihan terakhir, pilihan yang sudah tidak ada pilihan lainnya.
Selagi berjalan terus menyusuri selasar rumah sakit ini, terpanggil namaku dari belakang. Tidak begitu keras suaranya, namun terdengar jelas di telingaku. Aku tahu itu Fajar.
“Fajar ... Kamu sengaja ke sini?”
“Pagi,Tante.” Fajar menyapa mamahku terlebih dahulu baru menjawab pertanyaanku.
“Pagi, Nak”
“Eh iya, Amara, tadi sempat ke rumah kamu mau ajak ke sini bareng. Ternyata kamu udah di sini”. Fajar memberikanku sekotak makanan. Dia mengajakku ke taman di depan kamar rawat Kak Dion. Aku dan mamah mengikuti. Wajahnya serius seakan ada yang ingin dibicarakan.
Di taman nan indah dengan wewengian bunga yang baru saja bermekaran. Kami duduk di atas kursi terbuat dari besi. Meja pun dari material yang sama. Aku meminta izinnya untuk memakan di dalam kotak yang di bawa Fajar. Nyawa kedua di tubuhku ini sudah meminta asupan dari sejak aku terbangun. Untungnya tidak pernah meminta sesuatu yang memberatkanku, sangat pengertian dengan kondisiku yang sedang terpuruk.
Selesai memakan aku bertanya pada Fajar, apa yang mau dia sampaikan. Ragu dia menjawabnya. Pemuda seumuran di depanku ini tampak gugup untuk berbicara. Wajahnya sedikit memerah. Lantas aku berkata lembut, menenangkannya dari kegugupan.
“Begini, Amara, Tante.” Suaranya pelan. Namun aku masih bisa mendengarnya. “Saya sudah tahu apa yang dialami Amara. Jujur aja, Rini dan Cindy dateng ke rumah cerita semuanya”
Gantian wajahku yang memerah.
“Aku berniat menikahi kamu, Amara."
Wajahku semakin memerah. Tak percaya dengan yang kudengar barusan. Mamah melongo.
“Aku tahu mungkin Tante sama Amara tidak percaya dengan perkataanku. Menganggapku tidak serius. Terutama Amara. Aku tahu kamu takut aku akan mempermainkan kamu. Karena kamu lebih memilih Dion dari oada aku. Mm, aku cuma mau bantu kamu menghindari gunjingan orang lain. Terutama gunjingan tetangga dan teman kampus”
Napas terhela lega. Aku memandang mamah. Mamah membalas pandanganku. Aku menunduk. Tiba-tiba sekali aku mendengar langsung ucapan Fajar seperti ini. Apa ini jawaban dari doaku semalam. Sesungguhnya aku belum siap mengambil keputusan, masih berharap kak Dion terbangun dari tidur yang panjang.
“Nak Fajar. Saya ucapkan terima kasih atas niat baik Nak Fajar. Tapi semuanya harus dipikirkan matang-matang. Harus dipersiapkan, nak. Dalam hal ini tante yang bertanggung jawab, karena hanya tante yang dipunya Amara”
Fajar mengangguk. “Baik, Tante. Saya mengerti”
“Tante minta waktu ya nak Fajar. Secepatnya akan tante jawab.” Fajar mengerti keadaannya. Dia mau menunggu waktu tersebut. Waktu yang dijanjikan mamah untuk menerima bantuannya.
Tengah serius berbincang sambil menikmati makanan yang Fajar bawa, seorang suster jaga datang mendekati kami. Membawa berita yang tak ku harapkan. “Keadaan pasien atas nama Dion Aleyndra memburuk. Mbak Amara diminta Dokter Irawan ke ruang rawat inap.” Aku menengok ke arah kamar VVIP tempat Kak Dion di rawat. Sudah menunggu Dokter Irawan berdiri di depannya.
Wajahku tegang. Aku segera berlari ke kamar tersebut. Di bantu Fajar, mamah mengikutiku berjalan terhuyung di belakang. Aku tak mengingatnya lagi. Yang ada dipikiranku hanya Kak Dion.
-)(-
Aku berdiri gontai di depan kamar rawat VVIP. Lesu wajahku melihat jendela kamar yang tertutup tirai hijau. Menunggu cemas bersama mamah dan Fajar. Menurut suster yang biasa berjaga, orang tua Kak Dion sudah diberitahu dan dalam perjalanan ke rumah sakit. Fajar pun menyebarkannya ke teman-teman terdekatku.
Kumendengar suara benturan tempat tidur. Kencang sekali. Aku menebak dokter sedang melakukan prosedur pengejutan jantung. Mengerikan mendengarnya. Aku pasrah. Aku hanya berdoa yang terbaik untuk Kak Dion. Jika hari ini harus melepasnya ke tempat keabadian, aku ikhlas. Tergopoh orang tua Kak Dion menuju ke ruang rawat ini ditemani supir pribadinya.
Sesaat ku menggerutu, kenapa baru sekarang datang ke rumah sakit ini. Padahal pesan dari Dokter Irawan sudah kusampaikan. Aku menganggap mereka memang tidak peduli pada anaknya. Mereka lebih mementingkan bisnis keluarga.
Beberapa menit menyusul, sahabatku satu per satu datang. Mereka memelukku, menenangkanku. Menguatkanku. Aku terharu dengan dukungan tiada henti. Sahabatku luar biasa, aku selalu menyusahkan dan sebaliknya mereka tak pernah mengeluh.