FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #23

BAB 22 - KEPUTUSAN BERAT

“Tidak selamanya hidup ini bersama cahaya

Sesekali terselip kegelapan.”


Kampus di hari ini tidak seramai di semester pertama aku merasakan bangku kuliah. Seangkatanku dari fakultas lain pun tidak seramai dulu. Sudah mulai berbeda jadwal mata kuliahnya. Aku datang tidak terlalu pagi hari ini. Sebenarnya hari ini tidak ada mata kuliah yang harus kuikuti. Aku hanya ingin bertemu teman-temanku setelah seminggu ini tidak ke kampus. Kangen sekali dengan mereka. Dan kangen suasana kampus ini.

Kupandangi sekitar kampus. Tidak ada hal menarik di sini. Aku berjalan-jalan santai berkeliling sambil menunggu teman-temanku datang. Kita janjian di kampus untuk bertemu. Sendiri mengelilingi kampus, melihat-lihat gedung fakultas lain. Aku tak sengaja bertumbukkan dengan Silla. Aku dan dia saling menatap. Matanya menyorot kebencian. Kemarahan. Aku mencoba tenang menghadapinya. Dia datang mendekat. Aku juga melangkah mendekatnya. Kami berdekatan, tiga langkah berjarak. Aku sudah siap kalau Silla ingin menyerangku seperti biasa. Makanan yang kubawa kuletakkan di bawah. Aku tidak mau makanan itu jadi sasaran penyerangan lagi.

Aku tidak menunjukkan tubuhku yang lemah karena efek kehamilan usia muda. Justru tubuhku semakin menguat karena adrenalin yang terpacu. Ada kekuatan dari dalam yang mendorongku.

“Pembawa sial! Gara-gara lu Dion meninggal kecelakaan."

“Kalo lu ngga tau apa-apa jangan asal ngoceh. Lu barusan bilang kecelakaan, ya artinya meninggal karena kecelakaan bukan karena gue!”

“Ya kalo bukan karna lu ngajakin Dion ke Puncak, ngga bakalan kecelakaan.”

“Bener kata temen gue. Waktu pembagian otak lu ngga ada. Jadinya kosong. Gimana bisa Fakultas Kedokteran nerima lu. Jangan-jangan lu beli kursi masuk ke sini.”

“Jaga mulut lu! Jangan sembarangan ngomong lu.” Silla menunjukku. Tepat satu jurus dari keningku. Aku kasar menepis tangannya.

“Lu yang ngomong sembarangan! Orang ambisius kaya lu, apa aja bisa dilakuin.”

Silla mendekat selangkah. Aku pun mendekat selangkah. Wajahku dan wajahnya berdekatan. Dia sengaja menghembuskan napas panasnya, terasa di wajahku. Kubalas dengan melakukan yang sama. Namun dengan kecepatan yang tak kukira, Silla meninju perutku. Cukup keras. Aku tersungkur mengaduh. Memegangi perutku. Silla yang melihat aku kesakitan, langsung berlari meninggalkanku. Terbirit-birit dengan heel-nya.

Aku berteriak sekencang-kencangnya. Meminta pertolongan. Untungnya ada beberapa orang mahasiswa tingkat akhir yang sedang lewat. Mereka berlarian ke arahku. Lalu mengangkat tubuhku bersamaan. Mahasiswa satunya menenteng makanan yang kubawa. Aku dilarikan ke klinik terdekat di kampus ini yang terletak tidak jauh dari Fakultas Kedokteran.

Di dalam klinik ketika aku diperiksa, tidak kukatakan yang sebenarnya kalau aku sedang membawa satu nyawa kehidupan di dalam jiwaku. Aku tidak mungkin bercerita, takut akan tersebar. Apalagi kalau sampai di telinga Silla dan Maya. Kutunggu kedatangan sahabatku. Mahasiswa tingkat akhir yang mengantarku, kembali ke klinik ini menyerahkan bukti rekaman dari kamera pengintai. Bukti ini yang akan aku pakai untuk melaporkan Silla.

Lihat selengkapnya