FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #24

BAB 23 - HARI YANG DINANTI

“Cinta sejati tak akan pernah pudar

Walaupun hati telah terisi oleh cinta yang lain

Dan ...

Cinta pertama tak akan pernah mati

Meskipun banyak cinta memghampiri."


Mentari pagi membawa kabar menggembirakan melalui Rini, Silla diciduk oleh Polisi. Rini bilang Azka yang melaporkan kemarin dengan membawa bukti rekaman CCTV. Aku lega mendengarnya, mudah-mudahan ini yang terakhir dia menggangguku. Aku tidak bermaksud memenjarakannya, hanya memberikannya pelajaran. Kejahatan tidak perlu dibalas dengan perbuatan yang sama. Karena aku terbiasa diajarkan tersenyum kala dunia sedang tidak bersahabat. Tetapi aku tidak tahu laporan apa yang dibuat Azka. Dan pagi ini aku harus ke kantor polisi memberikan kesaksian. 

Malas kakiku ingin melangkah. Morning sick kembali membuat tubuhku berat, maunya rebahan terus. Aku bangun lalu duduk di tempat tidurku. Segelas teh manis hangat sudah ada di meja rias sekaligus meja belajarku. Hawa panasnya masih ngebul-ngebul ke udara.

Kuhirup hawanya. Harum sekali bau teh melati ini. Mood booster-ku di pagi ini. Nikmat sekali minum teh hangat di pagi hari. Tenggorokanku serasa lega, tak serak lagi. Dalam segelas teh hangat ini, kembali terbayang wajah almarhum Kak Dion. Terbayang sosoknya. Aroma tubuhnya. Ketampanannya selalu membiusku. Dia sangat sempurna dilihat dari berbagai sisi.

Rinduku tak bertepi. Luas tanpa dinding penghalang. Entah bagaimana caranya aku melupakannya. Aku sendiri pun tidak mau berusaha melupakannya. Kehampaan. Kepedihan. Rasa sakitnya yang luar biasa, kunikmati. Kenangan-kenangan indah setiap hari bersamanya selalu menggelayut tak mau lepas dari pikiranku. Tiap langkahnya di tempat-tempat yang biasa kami kunjungi selalu menjadi obat pembias rindu. Obat penawar sakit. Sesak dada ini. Perih seluruh tubuh. Menyayat sayat hati setiap mengingatnya.

Bagaimana bisa aku bertahan dalam kerinduan dan kekosongan hati sambil menopang buah cintanya.

Lemas aku bangun dari tempat tidur kesayanganku, tempat tidur yang tak pernah terganti sejak aku kelas 2 SMP. Setia sekali tempat tidur ini menemaniku. Aku tidak pernah mau menggantinya pula dengan yang baru. Aroma tubuhku sudah melekat kuat di kasur ini. Rini pun betah tidur di atasnya.

Keluar kamar sudah tercium bau menyengat masakan. Sudah tersedia di meja, makanan-makanan kesukaanku. Dari jam berapa mamah masak semua ini. Banyak sekali. Seperti ingin menjamu orang penting. Dan kemana pagi-pagi sekali sudah tidak ada di rumah.

Aku duduk sendiri sambil menghabiskan teh hangat tadi. Mataku menatap kosong, membayangkan Kak Dion duduk di seberangku. Membayangkan keluarga kecil kami, menanti buah hati yang dinanti hingga masanya bersama kami. Segera tersadar tatkala mendengar suara pagar digeser. Dan suara gaduh di teras rumah.

Salam terdengar. Ada suara ketawa ketiwi masuk ke rumah. Lalu memanggil namaku. Rini dan Cindy datang membawa banyak kudapan. Namun kentara sekali harum bunga. Kemudian menyusul mamah masuk sambil membawa sekantung plastik helaian bunga yang sudah terendus penciumanku dari tadi. Untuk apa?

“Hei, Tuan Putri, ayo kita ke makam.” Seloroh Rini membangkitkan mood-ku sedikit. Cindy duduk di sebelahku memeluk erat.

"Nak kita keluar yuk. Ada yang mau ketemu,” ujar mamah seraya menuangkan sekantung bunga ke dalam keranjang rotan berukuran sedang. Keranjang-keranjang yang di bawa Rini dan Cindy saat masuk ke dapur.

“Loh, makanannya buat apa, Mah, sebanyak ini?"

“Tadinya mamah mau ngajak yang lain sarapan. Tapi takut kesiangan. Ya udah buat nanti makan malam saja.”

“Udah lu tenang aja. Gue sama Cindy bantuin ngabisin nih makanan,” ucap Rini seraya menunjuk ke semua makanan ini. Disambut tawa Cindy.

Dasar semar mendem. “Yang lain, Mah?” tanyaku mengulang kata-kata mamah.

“Iya. Makanya yuk ketemu mereka di depan,” ajak mamah sambil terus memindahkan ratusan helai bunga ke dalam keranjang.

Aku bangun dari dudukku. Di papah Cindy dan diikuti Rini, aku berjalan gontai ke ruang tamu. Kondisi mual di pagi hari sangat menyiksaku. Mamah masih saja merapihkan dua keranjang yang sudah dipenuhi bunga untuk ditaburkan di makam kekasih abadiku nanti. Sedih sekilas melihat ratusan helai bunga itu. Aku akan menaburinya sendiri dengan tanganku. Hari ini akan kukunjungi kembali rumahnya. Peristirahatan terakhirnya.

Aku kangen, Kak. Lirih batinku memanggil namanya.

Terkejut aku, di ruang tamu sudah ada Bu Susan. Ada Bu Heni juga. Dan Azka. Apa mereka mau ikut ke makam juga? Aku mencium tangan Bu Susan seperti pertama bertemu dengannya. Bergantian Bu Heni. Mamah membawa dua keranjang yang sudah penuh dengan bunga ke ruang tamu. Di letakkan di atas meja. Lalu Bu Susan bertanya mengenai kandunganku. Kukisahkan saja apa yang kurasa. Simpati besar diberikannya, sampai berjanji akan memperhatikan buah cintaku dari anaknya.

“Ada satu hal yang ingin saya sampaikan, Amara.” Bu Susan mempersilahkan Azka untuk berbicara. Dia memberikan kepercayaan pada temanku itu, yang merupakan keponakannya–anak dari adik kandungnya. Azka mengungkapkan kalau Bu Susan akan memberikan apa yang menjadi hak Kak Dion untuk diriku dan calon cucunya. Peninggalan itu disebutkan apa saja, termasuk sebuah rumah.

“Saya sudah menyiapkan itu semua, jauh sebelum Dion mengenal kamu, Amara. Jujur itu untuknya saat Dion dijodohkan dengan Silla. Tapi sekarang semuanya dialihkan untuk kamu.”

Aku masih bingung. Belum mencerna jernih ucapan Bu Susan.

“Gini, Amara. Tante Susan akan memberikan bagian hartanya yang awalnya untuk Dion yang waktu itu akan menikahi Silla. Tapi Dion bersikeras menolaknya. Dan lebih milih lu, Amara.” Aku serius mendengarkan penjelasan Azka.

“Dan karena berbagai teror yang lu terima. Trus sekarang lu lagi membawa anaknya Dion, lebih baik secepatnya pindah dari sini. Untuk menjaga kesehatan janinnya. Dan keselamatan lu sama Tante Inge,” jelas Azka. Disetujui yang lain. Rini langsung memelukku dari samping. “Iya bestie, lebih baik pindah dari sini aja. Ya, kan, Tante ...” ujarnya sambil menanyakan persetujuan mamah.

Mengenai teror, aku jadi teringat keluarga almarhum papah. Aku dan mamah sudah sekali menghadiri sidang sebagai saksi. Mengatakan yang sejujurnya apa yang kami alami. Tiga orang pelaku pun sudah mengatakan dengan jujur, hanya tidak mengungkap teror terakhir yang melibatkan Pak Hardjo, Silla dan Maya. Sebab jaminan dari pengacaranya. Dan aku sudah mendapatkan surat hasil dari keputusan sidang tersebut. Semua keluarganya yang terlibat teror, dihukum kurungan selama 4 tahun. Aku sebenarnya tak peduli seberapa lama hukuman yang mereka terima, yang terpenting mereka mendapatkan ganjarannya dan aku bebas dari rasa ketakutan.

Dan bagi Silla yang sudah melakukan tindakan kekerasan, aku memaafkannya setelah dia berjanji hitam di atas putih. Bertanda tangan di atas materai. Dan tanda tanganku di wakili oleh Rini.

“Aku terserah, Mamah, aja,” jawabku.

“Kok kamu terserah Mamah, nak. Mamah justru ikut pendapat kamu aja.” Senyumnya meneduhkanku.

“Aku bingung, Mah. Semuanya serba mendadak gini.”

"Kamu ngga usah bingung, Amara. Anggap saja ini rezeki yang ngga kamu sangka-sangka,” ujar Bu Heni di tanggapi dengan anggukan yang lain. “Ini kan untuk masa depan kamu juga."

Aku tambah bingung. Nengok ke kanan dan ke kiri. Cindy menutup mulutnya menahan tawa yang hampir meledak ketika melihat tingkahku yang kebingungan.

“Kalo soal mindahin barang-barang di rumah ini, gue bisa cari orang-orang yang bisa bantuin. Jadi lu ngga usah kuatirin itu ...” sanggah Azka. Dia aktif sekali berbicara. Sepertinya, hubungan dirinya dengan Rini berjalan mulus. Dan sepertinya mendapatkan restu dari Bu Heni.

Aku melirik sekali lagi ke mamah. Mamah kembali melemparkan senyum meneduhkan. Sebenarnya aku tidak enak hati, aku kan belum terikat sumpah setia dalam janji suci dengan Kak Dion. “Apa aku pantas dapetin ini semua bu? Aku kan belum menikah dengan anak ibu.”

“Ya, kamu berhak untuk ini semua. Ini hak kamu.” Bu Susan meyakinkanku. “Selama ini saya suka menarik ulur sikap terhadap kamu, karena memang dalam tekanan papinya Dion. Kamu tau sendiri kan.” Bu Susan berhenti. Menunduk. Memandang dua keranjang rotan berisi ratusan helaian bunga yang wanginya menebar di ruangan ini. “Saya mohon maaf ya, Amara. Mungkin sudah terlambat. Harusnya saya restui ketika Dion masih ada.” Sebutir dua butir air matanya jatuh. Air mataku pun ikut terjatuh. Yang lain ikut merasakan kesedihan yang Bu Susan dan aku rasakan. Benar yang kuduga selama ini, Bu Susan mendapatkan tekanan dari Pak Hardjo.

“Sudah, Bu Susan, jangan merasa bersalah. Aku sudah ikhlas atas semua yang terjadi. Ya meskipun ingatanku bersama almarhum masih melekat kuat," ucapku lirih.

Lihat selengkapnya