FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #25

BAB 24 - UDUMBARA

“Selesaikan masa lalumu. Berjalanlah menembus waktu. Kejar takdirmu.

Tidak perlu lagi menoleh ke belakang ...”


Barang-barang yang bisa kubawa. Kurapihkan. Kubungkus satu per satu dan kututupi dengan lakban. Dan segera dipindahkan ke mobil bak terbuka yang sudah terparkir di depan rumah. Yang tidak bisa kubawa kuletakkan di halaman dan ruang tamu, kuberikan pada tetangga yang masih menjalin hubungan baik denganku. Dengan koneksinya yang luas, Azka berhasil membantuku menjual rumah ini. Hasil penjualannya ku beri semuanya ke mamah, aku tidak ingin mengambilnya sepeser pun. Bagiku rumah ini hak mamah, walaupun sudah berganti nama menjadi milikku. Tabungan almarhum Kak Dion sudah jauh lebih dari cukup untukku menata masa depan.

Ada wajah-wajah iri dari tetangga julid yang berkumpul di depan. Di seberang rumah. Tetapi kali ini aku menikmatinya. Aku tidak lagi terpengaruh dengan keisengan mereka. Saking banyaknya waktu luang, sibuk mengurusi urusan orang lain. Ketika meletakkan barang-barang yang akan dibawa pindahan. Sekali-kali Fajar memelukku. Menciumku dari belakang. Menunjukkan kemesaraannya di depan ibu-ibu julid itu. Aku tertawa, semakin kunikmati permainan ini. Fajar membuat mereka mati kutu. Menganga semakin kepanasan.

“Deehh, mentang-mentang masih baru. Ngga mau lepas,” canda Rini.

“Nempel terrusss ...” tambah Cindy.

Aku tersipu merah. Wajahku merona. Candaan Rini dan Cindy justru menyemangati menunjukkan kemesraan yang memuakkan ibu-ibu julid itu. Di hari terakhirku tinggal di komplek ini, aku mengeluarkan jurus andalanku untuk menaikkan tensi mereka semakin tinggi. Selama ini aku diam saja atas mulut jahat yang tak tahu apa-apa tetapi sering berkata menyakitkan. Dan selama ini aku diam bukan berarti takut melawan, tetapi mengalah untuk melambung tinggi meninggalkan mereka jauh di belakang.

Semua barang yang akan kubawa sudah berada di dalam mobil bak terbuka. Hanya sebagian saja, karena di rumah baruku nanti sudah terisi dengan perabotan yang kubutuhkan. Tinggal tetangga-tetangga yang sedang memilih barang-barang yang kutinggal. Akhirnya tiba waktuku dan mamah untuk berpamitan dengan Pak RT dan tetangga yang masih berbaik hati membantu. Mamah menahan tangisan dan menyembunyikan kesedihan. Sejak awal menikah dengan almarhum papah sudah tinggal di sini. Berarti sudah 20 tahun berdampingan dengan tetangga-tetangga di lingkungan komplek ini. Sedih sudah pasti.

Mamah tetaplah mamah, semuanya dipamitin. Meski diacuhkan. Mamah tetap meminta maaf jika punya salah. Aku? Tidak mau. Aku hanya berpamitan dengan Pak RT dan tetangga-tetangga baik. Bergandengan tangan dengan Fajar, aku masuk ke mobil yang pernah dikendarai Azka kini dikendarai Fajar. Tamparan keras buat ibu-ibu julid itu, sempat mengatakan kalau Fajar datang dari keluarga limited financial. Tertawa keras dalam hati, kalau seandainya mereka tahu mobil ini dari mana.

Rombongan kecil ini, terdiri dari dua mobil dan satu mobil bak terbuka meninggalkan komplek ini. Rini dan ibunya ikut mobil Azka. Aku bersama Fajar dan mamah. Sementara Cindy duduk di jok belakang motor Andre. Lega rasanya bisa keluar dari kampung penyiksaan batin ini. Di sini, aku seperti terpenjara dalam pikiran mereka. Semua yang kulakukan harus menyesuaikan pikiran mereka agar tidak dipergunjingkan. Lama sekali kami menahan semuanya, hingga hari ini kami bisa lepas dari kelakuan warga ber-SDM kurang meyakinkan itu.

Setiba di rumah baru, aku sudah disambut pihak sales dan manajemen perumahan ini. Menyerahkan kuncinya padaku, aku dipersilahkan masuk lebih dulu. Aku terpukau pada pandangan pertama. Interior di dalamnya benar-benar kelas atas. Sangat memanjakan mata. Terharu aku melihatnya. Kupeluk mamah yang sama-sama terharu bahagia.

Fajar menggandeng tanganku melihat-lihat semua ruangan, diikuti yang lainnya. Kutelusuri tiap sudut rumah ini. Aku berdecak kagum sendiri. Bergumam terima kasih pada Bu Susan untuk semua ini. Tak kusangka melalui dirinya, rezeki yang diberikan Tuhan begitu besar.

Sedikit demi sedikit barang-barang yang dibawa mulai dipindahkan dan di taruh di tempat-tempat kosong. Sampai selesai terpindah semuanya. Selanjutnya tinggal beberes dan merapihkan.


-)(-


Lihat selengkapnya