FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #26

BAB 25 - MENGEJAR

“Waktu akan datang tepat sesuai janjinya, tidak kecepatan atau terlambat."


Menemani Bara–nama panggilan anakku, tumbuh dari bayi menggemaskan kini telah menginjak setahun usianya. Saat-saat menyibukkan dari semenjak lahir. Dan benar saja, semua yang kutulis di jurnal menjadi kenyataan. Semua yang dirasakan mamah, sekarang aku rasakan.

Mengingat kembali lima bulan lalu, saat usia Bara tujuh bulan. Usia yang sudah kuanggap bisa kutinggalkan bersama mamah dan pengasuh. Ingin kembali ke bangku kuliah. Namun kutunda karena sedang lucu-lucunya. Usia dimana aku akan kembali bertanya pada Fajar mengenai kelanjutan rumah tangga ini.

Di sini, di sebuah restoran Perancis. Aku berkencan untuk pertama kalinya dengan Fajar. Berduaan yang hanya menjadi anganku waktu duduk di bangku SMA. Hanya ada dua kursi yang mendampingi meja bundar di ruang VIP ini. Lampu hias di atas menerangi redup, menambah suasana romantis. Sebuket bunga lili berada di tengah. Gelas-gelas kristal berjajar rapih di bagian kiri. Di rak lemari bergaya klasik terbuat dari kayu jati berwarna coklat tua.

Sendu memandangku. Fajar terus menatap. Membuatku salah tingkah. Bayang lekuk wajahnya terlihat sempurna di bawah temaram sinar lampu. Fajar memancarkan getaran cinta yang kuat ke dalam kalbuku.

Lembut kubalas tatapannya. Menerima sinyal cinta mendalam. Kemudian aku berbicara padanya, dari hati ke hati. Sesuai janjinya untuk menolongku terhindar dari pusat pergosipan sebelum menikahiku. Karena Bara sudah besar, Fajar bisa menceraikanku. Dari pada Bara semakin besar dan semakin mengerti kehadiran Fajar, tentu akan sulit kehilangan baginya apabila Fajar menunda perceraian. Menunggunya hingga bisa berlari.

Semua kuserahkan padanya. Terserah keputusannya. Aku pun sudah menimang konsekuensinya. Tak perlu lama membunuh waktu. Fajar cepat mengambil keputusan. Dan keputusannya tak kuduga. Dia ingin tetap bersamaku. Mengarungi hidup denganku. Bersama anakku. Dan mamah.

Terkejut sekaligus senang mendengar keputusan itu. Bibirku tak berhenti mengembang. Tawaku renyah menggetarkan hatinya. Aku tenang. Tak berpikiran macam-macam lagi. Aku tak akan merasakan kehilangan lelaki ketiga. Lelaki yang saat ini sangat kusayang.       

Menyudahi makan malam romantis ini, sekali aku menggodanya. Di luar restoran. “Memangnya kamu tidak menyesal hidup bersamaku."

“Menyesal? Ngga ada yang perlu disesali, Sayang. Hidup bersama orang yang kucinta sejak SMA. Aku bahagia hidup bersama kamu.”

“Masa ...?”

“Apa perlu aku buktikan cintaku padamu, Amara?”

Aku tertawa. Sedikit terpingkal. “Ngga perlu sayang. Ngga perlu kamu buktikan apapun. Aku percaya sama kamu. Aku percaya sama Bapak Fajar yang gantengnya selangit,” candaku.

“Hehe, bisa aja Bu Amara yang cantiknya melebihi bidadari,” ucapnya dengan mencubit ujung hidungku.

Kembali aku terpingkal. Lebih keras dari sebelumnya. Sekarang kami berdiri di depan restoran. Sedikit di samping pintu. Di mana terdapat ruang terbuka berisi 3 meja bundar yang kosong. Tak ada pengunjung yang makan di sana. Mungkin bukan tempat favorit, padahal dibatasi oleh dinding berselimutkan pohon merambat–pohon sirih gading.

Fajar menggenggam tanganku. Lalu menciumnya.

“Aku ingin mengarungi hidup bersama kamu. Menemani mamah kamu di usia senjanya. Mengajari Bara dan anak-anak kita nanti. Berjuang membesarkan mereka. menabung bersama untuk masa depan kita. Hingga berubah tua bersama kamu.”

“Hmm, kamu serius, Sayang?”

"Aku serius, Sayang. Aku tidak mungkin bercanda untuk masa depan kita. Kamu adalah cinta pertamaku,” ucapnya dengan mimik serius, tapi terlihat lucu. Kamu juga cinta pertamaku, sayang. Bisik hatiku.

“Aku juga kan, cinta pertama kamu.”

Bibirku mencibir sambil berlalu menuju mobil yang terparkir tidak jauh. Fajar terkekeh rendah melihat tingkahku. Dengar saja dia apa yang kukatakan dalam hati. Pintu kiri dibukakan olehnya. Menyilahkanku masuk. Tak lupa aku berterima kasih padanya. lalu fajar menutup pintu dan berjalan ke kanan. Duduk di belakang kemudi.

Perjalanan ke rumah malam ini menjadi perjalanan terindah dalam hidupku bersamanya. Janjinya padaku melebihi harapan semu yang kerap kubayangkan menjelang tidur. Menjelang malam bergulir ke pagi buta. Harapannya bukan lagi samar bayangan yang menggelitik pandangan, tetapi nyata mengiringi langkah.

Malam ini akan menjadi malam yang penuh arti. Dan menggairahkan.


-)(-



“Congratulation, Suamiku.” Kuucapkan dengan memeluknya. “Aku bangga sama kamu.” Kucium pipinya. Fajar berterima kasih atas ucapanku. Dia sudah lulus tepat waktu menjadi seorang Sarjana Ekonomi. Dan aku baru akan melanjutkan kuliahku yang tertunda karena cuti melahirkan. Aku masih harus berjuang menyelesaikan kuliahku. Melanjutkan mimpiku memiliki gelar dibelakang namaku, S.Psi.

Fajar menghampiri mamah yang sedang menjaga Bara di dalam stroller. Mengambilnya dan menggendongnya. Kebahagiaanku adalah melihat Fajar sangat menyayangi Bara dan mamah. Setahun ini hidupku penuh warna. Mendampingi Fajar bekerja keras menyelesaikan kuliah dan bekerja mengembangkan usaha yang dirintis almarhum Kak Dion. Sejuta rasanya. Naik turun bak roller coaster.

Aku juga mengucapkan selamat pada Rini dan Cindy. Yang hari itu mengenakan kebaya berbalut baju toga. Dan tak lupa pada sahabatku yang juga pamannya Bara. Sedih rasanya kala sahabat seangkatanku sudah terbebas dari pusingnya berjibaku dengan mata kuliah. Dan njelimetnya dengan urusan skripsi. Tinggal aku sendiri yang masih berjuang menyelesaikan itu semua.

“Seneng deh kalian sudah lulus. Ngga pusing lagi kan.”

“Kata siapa, Amara. Ini justru babak baru di hidup kita. Mencari pekerjaan yang sesuai itu babak selanjutnya. Menghadapi kehidupan yang sesungguhnya,” tukas Azka.

“Ya syukur-syukur kita dapet tempat kerja yang sesuai dengan passion kita, tempat kerja yang orang-orangnya ngga toksik,” sanggah Rini

Cindy menyela, “Mana ada!" Tawa kerasnya mengundang perhatian.

“Ada kok,” jawabku. “Kantor magangku dulu ngga toksik.”

“Oh kalo gitu minta sama Azka aja,” sambar Cindy.

Azka melipir, lalu berteriak. “Kabuurrr ...” Dia berlari sambil tertawa keras. Tinggal Rini dan Cindy yang misuh-misuh tak jelas.

Seangkatanku sudah menyelesaikan perjuangannya. Dan setelah melangkah keluar kampus ini, mereka akan berjuang masing-masing untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya.

Jauh pandanganku menatap gedung Fakultas Psikologi. Nilaiku diangkatan menjadi yang terbaik, tapi aku tidak bisa lulus sesuai target. Seakan Fajar mengerti yang kupikirkan, dia memakaikan topi wisudanya ke kepalaku. “Topi ini akan membawa kamu menjadi Sarjana Psikologi yang sukses, sayang”

“Aamiin ...” sahut Mamah cepat. “Makasih, Sayang. Makasih, Mah."

Jauh di depanku, melintas Maya yang sedang terburu-buru berjalan ke Ruang Aministrasi Kemahasiswaan. Dan tidak tampak mengenakan baju toga. Aku tidak tahu perkembangannya setelah Maya dan Silla di tangkap polisi bersamaan dengan Pak Hardjo. Kemudian dibebaskan karena jaminan pengacara pria kaya raya itu.

Lihat selengkapnya