“Jadi cowok, yang tegas Jedra! Jangan Kemayu! Langkah kakimu tegas biar arek-arek ngertos.” Suara mengelenggar milik oma menghiasi sanggar tari. Lagi-lagi, ia kena tegur. Salah langkah kaki dan tubuhnya sudah mulai kelelahan.
“Kemenyek! Kamu tau Indonesia itu penuh dengan budaya yang beragam sama kayak nari. Ini akibat dolanan karo arek wedhok ae makanya kemayu, jari kamu terlalu lentik gerakannya!” suara Oma meninggi, wanita bersanggul tinggi itu dengan kebayas hijau tua dan lipstick merah tua dibibirnya itu, mengeluarkan tanduknya.
Pasalnya seminggu lagi ada pementasan dan tarian yang akan diminta untuk pentas adalah untuk kesultanan keraton surakarta dalam rangka memperingati tingalan dalem jumenengan raja dan kirab agung dan ia diwajibkan melatih anak-anak yang terpilih dalam pentas tersebut.
Jedra hanya melempar senyum tipis, dan menyeka keringat didahinya, menguasai tarian bedhaya sangat rumit, ritmenya tidak sesuai dengan tubuhnya tegap dan jarinya yang panjang. Harusnya ini tarian yang dilakukan oleh wanita bukan pria ini hanya modifikasi singkat dari oma untuk mengajari anak-anak sanggar tari yang lain.
“Oma, sudah yah. Mas capek banget besok ujian masuk.” Pinta Jedra, ia memanggil dirinya mas, supaya bisa diikuti oleh anak pendopo yang lain. Oma mengangguk. Jedra turun dari saung dan berjalan dengan langkah pelan mencari udara segar. Ia sangat muak dimarahin oma.
Ia melihat seorang gadis dengan mengunakan skirt yang cukup minim dan nampak modis sedang mendorong ayunan wajahnya tampak murung, Jedra mendekatinya perlahan, hanya sekedar memastikan keadaan gadis itu.
“hei.. kamu gapapa?” Tanya Jedra, ia melihat mata gadis itu sembab. Gadis itu mengeleng pelan. Ia menarik napas berat.
“Tidak, ibuku meninggalkan ku karena kami bertengkar hebat.” Ujarnya, ada sedikit rasa iba dari Jedra, ia tersenyum kecil.
“Rumahku dekat dari sini, gimana ke rumahku dan aku antar kamu naik sepeda aja. Kayaknya kamu baru disini.” Ajak Jedra, membuat gadis itu sedikit was-was.
“Kamu… bukan penjahatkan?” Tanya Gadis itu ragu, matanya membulat dan wajahnya nampak gusar, Jedra mengelurkan tangannya perlahan dan menepuk bahu gadis itu.
“Kalau aku jahat… aku akan memberikanmu permen dan menculikmu,” Ujar Jedra dengan kekehan perlahan.
“ Aku serius.” Ujar gadis itu, dan Jedra mengaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Apakah, cowok ganteng dihadapanmu ini tampangnya kayak penjahat,” Gadis itu tertawa geli dengan kepedean jedra, ia menerima uluran tangan dari Jedra.
“aku anak tari sanggar daerah sini.” Ujar Jedra.
“Ayo ikut aku..” Ajak Jedra, Ajakannya di terima gadis itu dengan sedikit tidak nyaman dan Jedra paham akan hal itu. mereka berjalan menuju ke gadis itu.
“Tinggal nikung dikit, terus sampai deh..” Lanjutnya
“Kamu baru disini?” Tanya Jedra sekedar mencairkan suasana, gadis itu mengangguk pelan.
“Ya..” ujarnya membuat Jedra menarik lengkungan garis tipis.
“Rencananya mau masuk SMA mana?” Tanya nya kemudian, suasana mencair gadis itu melempar senyuman manis, matanya ikut tersenyum.
“Aku, mau masuk SMA 1 Taruna.” Ujarnya kemudian.
“Wah, tujuan kita ke sama. Asik, aku senang banget kita bisa satu sekolah bareng jangan asing yah.” Sambut Jedra membuat gadis itu mengangguk dengan pasti.
“Ga bakalan kok.” Ujarnya, wajahnya yang kecil dan hidung mungil.
Mata gadis itu tersenyum seperti bulan sabit. Ia mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Kamu, ga masalah kalau aku nemanin aku kayak gini, apalagi aku orang asing?” Tanya gadis itu kemudian.
“Baiklah, orang asing, Aku Nesranda Jedra Bramasta. Kelas 1 SMA Taruna, kamu?” Tanyanya, ia terlihat tersenyum saat nampak dari belakang gadis yang ia temani itu.
“Natalia Kirani Arunita.” Cicitnya pelan.
“Nama yang cantik yah, kirani sama kayak orangnya” Jawabnya.
bibir gadis itu melengkungkan tipis bibirnya dan pipinya memerah, wajah gadis itu semerah senja langit sore itu, semilir angin dan kumbang menyaksikan dan diam membisu, cerah, hati gadis itu menghangat.
“Kamu orang yang baik jedra,”