“Hari ini Anita harus konsultasi lagi yah, non…” Ujar Bi Asih sembari membantu mengenakan baju yang cukup kebesaran untuknya, langit nampak tidak bersahabat dan semua burung-burung dilangit berputar, Anita tidak dapat diam ia berputar mengikuti gerakan burung.
“Burungg… terbangg.. wushh..” Teriaknya.
Jedra melewati kamar Anita dan melempar lengkungan tipis yang menciptakan lesung pipi yang dalam diwajahnya, matanya melengkung layak bulan sabit.
Baju cherry kesayangan Anita itu yang kebesaran dan ia kenakan hari ini adalah peninggalan Bunda.
Jujur saja, ia tidak berani membuka kembali buku diary bunda, ia takut akan fakta selanjutnya, ketakutanya terbaca dengan jelas, hingga tidak menyadari ada sang paman; Thommy disampingnya.
“Mikirin apa, Jedra?” tanya Thommy membuyarkan lamunan Jedra.
“Nggak ada kok om…” Jawab Jedra menetralkan airmukanya.
“Om, mau cerita sesuatu, bisa kita keluar bareng, ngopi gitu.” Ujar Thommy, Jedra mengangguk perlahan, ia tidak mungkin menolak ajakan dari ayah adiknya sendiri, walaupun tau konsekuensi nya bisa saja lebih buruk.
“Ayo!” Ajak Thommy dengan wajah gusar Jedra hanya mengikuti dari belakang.
Jedra dan Thommy menuruni anak tangga satu persatu,” Jedra, om mau jelasin sesuatu, tapi om harap kamu bisa menjaga rahasia. Biar om dan kamu yang antar Anita konsultasi”
“Kenapa om, mau antar Anita” Tanya Jedra dengan penuh selidiki, namun segera di ralat olehnya.
“Om tumben aja gitu.” Lanjutnya lagi.
“Untuk penebusan dosa..”
***
Gadis yang dipanggil rin itu menyeka airmatanya saat melihat ke kaca.
“Brengsek!” Teriaknya.
"Brengsek!" Teriaknya.
"Brengsek!" Teriaknya tanpa suara.
Erina menjambak rambutnya sendiri. Matanya memerah, kepalanya rasanya mau meledak.
“Gua ga terima lu giniin gua Andre, brengsek! Gua bakalan gak akan tinggal diem.” Maki gadis itu, ia memukul cermin berkali-kali hingga tangannya berdarah.
"Gua, ga terima!"
“Ini semua salah gua, lu bisa sumpahin gua di jalan, lu bisa doain gua mati. Gua ngelakuin ini semua karena himpitan ekonomi." serunya.
"iya, ga bakalan ngerti nahan laper, orang kaya kayak andre sama Jedra gak bakalan ngerti, gua rasa dia ga bakalan ngerti kalau misalnya menjadi miskin itu pilihan dan akan disingkirkan dari sosial.” Tangisnya menjadi.
"Kenapa, harus gua yang ngerasain kemiskinan ini." Teriaknya.
"Semua orang, pada akhirnya bakalan ludahin gua! Cuman gua yang bisa bantu Ibu dulu dan adek!"
“Maafin Erina, Ayah! Ibu! Gaada pilihan lain, harus maju atau mati ditangan laki-laki berengsek,” Ujarnya.
Ia menyiapkan pisau lipat disaku tangannya hari ini ia harus bisa membunuh Anita diruang konsultasi. Jika tidak dirnya sendiri yang akan lenyap.
Nyawa harus dibalas dengan nyawa, kemiskinan ini harus segera diberantas demi hidup yang cukup.