First place in my heart

Reveniella
Chapter #15

15. Pekerja baru.

Satu hantaman diperut membuat Erina terjembab hingga beberapa meter, rasa sakit menjalar keseluruh tubuhnya. Kali ini ia akan jadi samsak Andre lagi.

"Udah gua bilang selesaikan tugas lu brengsek," Maki Andre meninju perut Erina dengan kuat, hingga air liur gadis itu menetes bersama cairan asam lambungnya.

"Maaf! Gua nggak tau kalau disana ada —" belun sempat Erina menyelesaikan perkataannya, pisau sudah berada di ujung tenggorokannya.

"Ada siapa gue tanya" Suara Andre merendah, pisau itu menancap semakin dalam dan mengores leher Erina.

Andre semakin ingin menacapkan pisau belati yang selalu ia bawa di sakunya kemana-mana ke leher gadis dihadapannya ini, ia sudah muak, harusnya ia bisa mencicipi kekayaan Bramastha juga. Andai saja Ibunya tidak meninggalkannya di panti Asuhan yang buruk itu.

Harusnya ia tidak merasakan dinginnya selimut tipis yang selalu ia kenakan, dan cipratan atap bocor yang selalu mengenai wajahnya.

Belum lagi jika ada tikus yang tidak sengaja lewat dan mengigit ibu jari kakinya, matanya menyalang mengingat peristiwa itu, semakin dalam pula goresan leher Erina.

"And..re sakit ndre—"

Mengapa ia tidak diperbolehkan masuk kedalam rumahnya sendiri pagi itu, karena ia di nyatakan meninggal dalam kebakaran tersebut.

Kebakaran tersebut dinyatakan menelan korban jiwa dan ia adalah salah satu dari tiga anak yang dimasukan oleh yayasan keluarganya sendiri, dada andre sesak. Napasnya naik turun.

Ia ingat perkataan jelas wanita yang tak sudi ia panggil oma itu mengatakan hal nenyakitkan; kamu bukan lagi milik keluarga ini. Kamu hanya anak perempuan setengah lacur yang mati dalam kebakaran.

Andre menekan erat belati itu hingga mengores leher erina tanpa sadar.

"Sialan! Sialan!" Teriak Andre, ia kembali menarik belati itu dan melemparkannya ke sudut pintu masuk. Ia memukul kepalanya dengan tangan kirinya.

"Gua nggak gamau inget kejadian ini lagi! Berhenti muncul terus di kepala gua."

Andre meraung, matanya memerah, kepalanya berputar saat kilasan balik itu muncul ke permukaan. Erina memeluknya dengan erat.

"Clam down Andree! Look it my eyes.. take it breath please!" napas Andre memburu saat mengingat ia masuk kedalam api dan hampir terbakar di dalamnya.

Andre segera menarik napas panjang, kilas balik itu selalu berputar dikepalanya membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak atau merasakan makanan yang nikmat.

"Maafkan aku, Erina.. Maafkan aku!" Ujar Andre, kemarahannya lepas kendali lagi.

"Kita bisa lewatin ini bersama Andre" Ujar Erina sembari memeluk Andre dengan erat.

Lihat selengkapnya