First place in my heart

Reveniella
Chapter #16

16. Berlawanan arah

Langit mendung merayap dengan cepat dilangit, udara sekitar terasa dingin membuat tubuh sedikit mengigil. Kirani, tidak tahan udara dingin yang menusuk akibat hujan yang sebentar lagi akan turun, rintik-rintik samar mulai terdengar.

Pemuda yang Kirani belum ketahui namanya itu segera melepaskan jaket yang ia kenakan dan memberikannya kepada Kirani, "Hujannya bakalan lama banget, pakai nanti masuk angin" katanya memberikan Jaket miliknya itu.

"Makasih, Nama kamu siapa?"

"Aku, Sammie."

Kirani melempar senyuman pada laki-laki dengan mata tajam seperti elang dihadapannya ini.

"Sekali lagi, Makasih Sammie.." ujar Kirani, ia bersyukur sammie memberikan jaket kepadanya kalau tidak ia akan mati membeku. Mungkin, mereka bisa menjadi teman yang akrab.

Dua minggu dikota ini banyak hal yang terjadi pertemanannya dengan Jedra dan Anindya berjalan lancar, mungkin suatu hari nanti ia bisa sangat akrab dengan dua orang yang mengenalkannya pada kota ini.

Suara deringan ponsel membuyarkan lamunan Kirani, sammie tidak ada di tempat, sempat ia lihat siapa yang menelpon dan latar ponselnya adalah keluarga.

"Sam, ada telpon nih.." kata Kirani sedikit berteriak, mungkin laki-laki itu ada dilantai atas sedang merapikan stock gudang.

Ponsel kembali berdering, kali ini nomor yang tidak dikenal, Kirani nampak tidak nyaman dengan nada dering sammie yang terkesan terlalu rock.

"Aku biarin aja deh, ga sopan angkat telpon sembarangan."

♥♥♥

Erina nampak tegang saat Jedra memasuki rumahnya, pasalnya laki-laki itu tau luka di lehernya. Jedra meningkatkan kewaspadaannya takut gadis itu bunuh diri, ia tidak ingin kehilangan sosok yang bearti lagi untuknya.

Bunga matahari ada di dalam vas, Erina nampak pias. Pasalnya ia dulu mengatakan ia alergi serbuk bunga, dan bunga matahari hanya ia pajang ketika ada laki-laki itu dirumahnya, supaya moodnya membaik.

"Erin.. lu lagi ada masalah apa, jangan sampai ngelukain diri lu sendiri hanya karena masalah yang sedang lu hadapi" Nasihat Jedra bagaikan bom yang siap meledak, dimata Erina saat ini, jedra seperti sedang meledeknya.

"Ya... Gua, gaada masalah. Mendingan lu mikirin hidup lu aja," Jawaban tak terduga dari gadis yang sering terbuka pada dirinya itu membuat Jedra yakin ada yang tidak beres.

"Gamau, cerita ke gua nih? Lu yakin, biasanya lu terbuka? Masalah uang lagi?" Tanya Jedra tepat mengenai sasaran dan ini hanya bukan soal uang.

Lihat selengkapnya