Gema menatap Anindya dengan lekat, paras Ayu gadis itu tak pernah berubah sejak ia kanak-kanak. Wajahnya tak akan pernah ia lupakan.
Anindya melemparkan senyum yang bahkan terlihat semanis gula itu, "Kamu ngga berubah ya nin."
"Harus berubah kayak gimana Gema?" Tanya gadis itu, ia melempar tatapan bingung.
"Aku ya, aku gak akan berubah kayak gimana-gimana." Jelasnya sembari cekikikan, Gema menatapnya lekat.
Ia mengelus kepala Anindya perlahan, "Iya, untung ga berubah, masih cantik aja."
"Kamu belajar di jogja salah satunya adalah belajat nge-gombal yah," Ejek Anindya ia tertawa dengan ucapan tak biasa dari Gema.
"Aku kangen masakanmu lagi." Kata Gema, ia sembari mengambil kaldu jamur yang ada diatas etalase.
"Aku masakin yah nanti, Aku ke rumah." Kata Anindya, tersenyum manis sembari membawa troli belanjaanya.
"Nggak, aku ke rumah kamu aja bikin kue bareng sama kamu lagi?" Ujar Gema diberikan anggukan oleh Anindya.
"Baiklah, hari ini aja yah" Pinta Anindya, lelaki dengan hidung bangir itu mengusap hidungnya yang tak gatal.
"Okelah."
Setelah membayar semua belanjaan Anindya dan Gema berpisah di penghujung jalan Fortuner Gema melaju kearah yang berlawanan dengan Anindya dan Anindya bergegas melajukan mobilnya menuju ke rumah ia ingin segera menyiapkan bahan-bahan masak untuk Gema, ia dibendung euforia yang tinggi.
Tanpa ia, sadari bahwa ponselnya berdering berkali-kali dan disana tertulis nama gorila ngamuk (jedra).
***
Jedra menelpon Anindya berkali-kali namun gadis itu tidak mengangkatnya, entah kemana ia akan menceritakan keluh kesahnya kembali.
"Nin.. angkat dong, gua butuh lu."
Jedra melempar hpnya ke sisi ranjang kepalanya pusing memikirkan masalah Erina tadi. Ia mengingat kata-Kata Erina adegan tadi terekam jelas di ingatanya.
"You'll never experience being me, because you're just you. It's nice to be someone who is rich in everything, not having to worry about anything for tomorrow and also good food every day without feeling like I have to suppress everything just so all my mother's wishes come true. You're free to curse me out there, but don't force me to meet that man."
Erina membenci om Thommy, darah berdesir, Jedra selalu berusaha ada di sepatu Erina ia selalu berusaha jadi kakak sepupu yang baik, dia berusaha untuk selalu bantu dalam setiap masalah, tapi ini melewati batasnya, ia rasa hal itu sudah cukup membuatnya tersiksa. Ia seperti merasa terus-terusan dikasihani oleh orang lain, padahal tidak ada masalah dalam hal itu.
"Enough, i tried."
Jedra memijat pelipisnya perlahan rasanya ia harus memberikan banyak perhatian penuh pada Erina, apa dan siapa laki-laki yang bersamanya, entah kenapa ia merasa hal ini ada hubungannya. Sebentar lagi masuk sekolah dan ia harus segera bersiap-siap menjalani hari yang begitu melelahkan lagi dan lagi.
Energinya terkuras habis hanya untuk permasalahan yang tidak pernah usai ini, ia harus mencari akar dimana masalah ini bermula, apakah ini semua salahnya.