First place in my heart

Reveniella
Chapter #18

18. Gelang dan bingkai foto lama

Suaranya melengking, memenuhi ruang tamu. Gema tidak menoleh. Ia hanya menarik garis tipis di bibirnya, nyaris seperti menahan sesuatu.

“Iya emang lu gorila,” jawab Jedra enteng, bersandar santai. “Sejak kapan gua bilang lu bukan gorila?”

Anindya melangkah mendekat, cepat, tanpa ragu. Tangannya berkacak pinggang, wajahnya memerah.

“Satu kali lagi lu ngomong gitu—”

“Kenapa?” potong Jedra, menantang.

“Gua getok pala lu.”

Jedra terkekeh pelan. Bukannya mundur, ia justru menatap Anindya lebih lama, seolah sengaja memancing.

“Coba aja.”

Anindya mendengus kesal, lalu berbalik menuju dapur lagi, langkahnya berat dan penuh emosi.

Gema akhirnya mengalihkan pandangan. Ia mengikuti punggung Anindya sampai hilang di balik dinding.

Lalu, pelan—terlalu pelan untuk didengar siapa pun— senyumnya muncul.

“Lu liat kan,” ujar Jedra santai, menyenggol bahu Gema. “Gua ga suka tuh sama Anindya.”

Gema tidak langsung menjawab. Matanya masih ke arah dapur.

“Iya,” katanya singkat.

“Geli bet gua. Siapa juga yang suka gorila.”

Suara langkah terdengar lagi. Lebih cepat. Lebih keras.

“JEDRA! LU KEBANGETAN!”

Anindya muncul lagi, kali ini tanpa gelas di tangan. Wajahnya benar-benar kesal, matanya menyala.

Jedra hanya tertawa dan Gema memperhatikan. Cara Anindya berdiri. Cara dia marah. Cara dia menatap Jedra.

Terlalu lama.

Terlalu detail.

Seolah setiap hal kecil itu penting.

Kenapa dia segitunya ke Jedra?

Pertanyaan itu muncul begitu saja dan tidak pergi.

Malam datang perlahan, menelan sisa cahaya yang tersisa di langit.

Rumah menjadi sunyi.

Terlalu sunyi.

Di dalam kamarnya, Gema duduk di tepi tempat tidur. Kaos longgar dan celana santai melekat di tubuhnya, tapi ia tidak benar-benar merasa nyaman.

Pikirannya masih tertinggal di ruang tamu.

Di suara tawa.

Di teriakan.

Di cara Anindya menatap Jedra.

“Gua harap…,” gumamnya pelan.

Tangannya meraih sesuatu di atas nakas.

Sebuah bingkai foto“…Anindya ga suka sama Jedra.” Ia menatap foto itu lama.

Seorang gadis kecil tersenyum lebar ke arah kamera, memeluk boneka beruang. Piyama biru yang dikenakannya tampak terlalu besar, tapi justru itu yang membuatnya terlihat semakin kecil.

Semakin… rapuh.

“…dan begitu juga sebaliknya.”

Jari Gema bergerak, mengusap permukaan kaca, pelan dan berulang

Seolah itu bukan sekadar foto. “Kan ga lucu,” lanjutnya lirih, “gua udah setengah mampus naksir dia…”

Senyumnya muncul lagi lebih tipis. “…malah pacaran sama orang lain.”

Ia menunduk sedikit, dahinya hampir menyentuh bingkai itu.

“Anindya cuma gua yang boleh deketin.” Tidak ada nada bercanda di sana. Tidak ada ragu.

Hanya kepastian.

Seperti seseorang yang sedang menyebutkan fakta.

“Lu selalu jadi milik gua, Nin.”

Tangannya berhenti bergerak. Ruangan terasa lebih dingin. “Selalu.”

Lampu kamar dimatikan. Gelap langsung menyelimuti namun Gema belum berbaring Ia masih memegang foto itu. Menariknya mendekat. Mengelusnya sekali lagi.

“Dan bakal terus begitu.”

Ia akhirnya merebahkan tubuhnya, meletakkan foto itu di samping bantal.

Terlalu dekat.

Seolah itu sesuatu yang hidup.

“Selamat malam, sayang.”

Sunyi.

Hanya suara napas pelan yang tersisa.

“…mimpi yang indah.”

Di bawah bantalnya, tersembunyi sesuatu yang lain dan Gema tahu persis, itu belum akan cukup.

Lampu sudah mati sejak lama, tapi Gema belum benar-benar terlelap. Tubuhnya diam, napasnya teratur—namun pikirannya masih berjalan.

Pelan. Terarah.

Seperti seseorang yang sedang menyusun rencana, bukan sekadar mengingat.

Di samping bantalnya, bingkai foto itu masih ada.

Dan di bawah bantal—

gelang itu.

Tangannya bergerak pelan, hampir refleks, menyelip ke bawah bantal dan menyentuh benda kecil itu. Dingin. Tipis. Tapi cukup untuk membuat sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Harusnya cukup,” gumamnya lirih.

Namun matanya tidak terpejam.

Belum.

Lihat selengkapnya