Flo dan Matahari yang Tak Pernah Tenggelam

Aniesa Puspitasari
Chapter #1

Denting Cangkir Di Suatu Sudut Harmonia

Denting Cangkir Suatu Pagi di Sudut Harmonia

Aroma cokelat pekat menyeruak dari dapur, menelusup ke setiap sudut rumah. Aku membuka mata, menatap langit-langit kamar yang putih bersih tanpa setitik pun retakan. Di luar jendela, langit Harmonia menampilkan warna biru pastel yang lembut,tidak terlalu terik, tidak terlalu redup.

Aku turun dari tempat tidur, mengenakan sandal, lalu berjalan ke dapur. Lantai kayu tidak mengeluarkan bunyi berderit sedikit pun di bawah kakiku.

"Selamat pagi, Flo."

Ibu berdiri di depan kompor. Tangannya dengan cekatan mengiris kue bolu cokelat di atas talenan porselen. Pisau bergerak naik-turun, membagi kue menjadi delapan potongan yang presisi. Tidak ada remahan yang jatuh. Tidak ada kepingan cokelat yang menempel di papan pemotong.

"Pagi, Bu." Aku duduk di kursi kayu ek, menopang dagu dengan kedua tangan. "Ibu selalu bisa memotong kue dengan rapi sekali."

Ibu menoleh. Mata cokelatnya berkilat di bawah cahaya lampu dapur. "Karena Flo suka bagian sudutnya yang agak renyah, kan?"

Suaranya merdu, seperti denting porselen yang beradu pelan dengan sendok perak. Ia meletakkan sepotong kue di piringku, lalu mendorongnya perlahan ke arahku.

Di seberang meja, Ayah melipat koran sorenya. Kertas itu tidak meninggalkan noda tinta hitam di jarinya. Beritanya selalu sama festival bunga di alun-alun, prakiraan cuaca yang menjanjikan matahari sepanjang minggu, atau pembukaan toko buku baru di sudut kota.

"Hari ini di perpustakaan bagaimana, Flo?" Ayah meletakkan korannya, mengambil cangkir kopi.

"Biasa saja." Aku mengayunkan kaki di bawah meja. "Aku menata ulang buku-buku di rak bagian belakang. Tapi makin banyak pengunjung yang mengembalikan buku tanpa membacanya."

"Yang penting mereka berkunjung, Sayang." Ibu menuangkan susu hangat ke cangkir porselen Ayah. "Harmonia diciptakan agar semua orang punya tempat untuk dituju."

Aku meraih cangkir susuku sendiri. Uap putih mengepul tipis dari permukaannya. Jariku yang agak licin oleh mentega tiba-tiba kehilangan pegangan.

PRANG!

Cangkir itu terguling. Susu putih hangat meloncat dari tepi meja dan tumpah ke pangkuan Ayah. Cairan itu menggenangi celana korduroi cokelat tuanya.

"Ah! Maaf, Ayah!" Aku melompat berdiri. Kursiku terdorong ke belakang, menimbulkan gesekan pendek di lantai.

Aku meraih serbet kain di dekat piring kue, bersiap menyeka tumpahan itu sebelum meresap ke kulit Ayah.

Tapi Ayah tidak bergerak.

Lihat selengkapnya