Flo dan Matahari yang Tak Pernah Tenggelam

Aniesa Puspitasari
Chapter #2

Retakan di Studio Pak Bimo


Aku meletakkan sendok. Bunyi kliningan logam menyentuh porselen terdengar tajam, tapi Ayah dan Ibu tidak bereaksi. Tatapan mereka lurus, melekat pada titik kosong di atas meja.

"Aku mau jalan-jalan sebentar."

Aku berdiri, mendorong kursi hingga bergesekan dengan lantai. Ibu memutar kepalanya ke arahku gerakannya mulus, tapi lehernya berhenti tepat di sudut sembilan puluh derajat. Tidak ada lipatan alami pada kulitnya.

"Di luar agak dingin, Flo. Pakai mantel merahmu."

"Iya, Bu." Aku meraih mantel merah yang tergantung di dekat pintu, lalu membuka pintu depan dan menutupnya dengan sedikit bantingan.

Tidak ada sahutan panik dari dalam. Tidak ada suara Ibu yang menyuruhku pelan-pelan.

Aku menyusuri trotoar Harmonia dengan langkah cepat. Pohon-pohon maple buatan berdiri sejajar di tepi jalan, daun-daun oranye plastiknya tidak berguguran meski angin bertiup. Langit pastel di atas kepala tidak berubah posisi sejak tadi pagi atau entah sudah berapa lama.

Langkahku mengarah ke studio melukis Pak Bimo di ujung blok. Jika ada satu orang di kota ini yang mungkin mengerti sesuatu, itu adalah Pak Bimo. Pria tua itu menghabiskan seluruh waktunya menorehkan cat minyak ke atas kanvas.

Aku mendorong pintu kayu studio. Bel kecil di atas pintu berdenting.


CRASH!

Suara benda jatuh dan pecah terdengar dari balik tirai pembatas. Aku mempercepat langkah, menyingkap tirai tebal itu.

Pak Bimo berdiri di depan kanvas raksasa. Kuas di tangannya gemetar hebat. Di dekat kakinya, botol turpentin pecah berserakan, membasahi lantai kayu dengan cairan berbau menyengat. Tapi Pak Bimo tidak merunduk. Tidak mencoba membersihkannya.

Tangannya terus mencoretkan warna kuning cerah ke kanvas, merusak lukisan pemandangan Harmonia yang hampir selesai. Sapuan kuasnya kasar dan kacau.

"Pak Bimo!" Aku mendekat, menyeberangi genangan turpentin. Baunya menusuk hidungku.

Pak Bimo tidak menoleh. Kaki kanannya menapak tepat di atas pecahan kaca tajam. Sol sepatu kulitnya terbelah, dan kaca itu menancap dalam.

Tapi tidak ada darah.

Cairan bening kekuningan meleleh pelan dari dasar mata kaki Pak Bimo, mengalir di sepanjang celah luka di sepatunya.

"Pak Bimo! Kaki Bapak!"

Aku menyergap lengannya, berusaha menariknya menjauh dari pecahan kaca. Tapi otot lengannya keras seperti batang besi. Ia tidak bergeser satu milimeter pun.

"Pak Bimo, tolong! Kaki Bapak tertancap kaca!" Aku berteriak tepat di depan wajahnya.

"Flo..." Suara Pak Bimo terputus-putus, seperti piringan hitam yang tergores. "...pemandangan... hari ini... sangat... indah."

Aku merengkuh pinggangnya, mengerahkan seluruh tenaga untuk menariknya. Akhirnya, keseimbangannya goyah. Pak Bimo jatuh telentang ke lantai, menimpa rak tabung-tabung cat minyak.

Lihat selengkapnya