Flo dan Matahari yang Tak Pernah Tenggelam

Aniesa Puspitasari
Chapter #3

Kotak di Bawah Kasur


Aku menendang pintu belakang studio hingga terhempas. Tanpa menoleh lagi ke tiga sosok bertopeng itu, aku menerobos semak-semak belakang gedung. Duri mawar buatan menggores lengan mantelku, tapi aku tidak merasakan sakit. Tidak ada darah. Hanya goresan bening di atas kain sintetis.


Kakiku menghantam trotoar dengan bising. Jantungku atau apa pun yang berdetak di dadaku bergetar demikian hebat, memicu dengung berisik di dalam kepalaku.


“Penyusupan sinyal terdeteksi pada Unit F-04.” Suara dari pengeras suara kota membahana. Bukan lagi lagu jazz lembut yang biasa diputar, melainkan nada sirine rendah yang berdenyut.


Aku terus berlari. Rumahku sudah terlihat.


Aku menerobos pintu depan. “Ayah! Ibu!”


Ibu berdiri di tengah ruang tamu, memegang sapu porselen. Gerakannya kaku. Wajahnya menghadap langsung ke arahku, tapi senyumnya tampak seperti ukiran.


“Flo, kamu berlari. Lari tidak ada dalam jadwal sore.” Suara Ibu datar, berlapis distorsi aneh.


“Ibu! Ada orang bertopeng di luar! Pak Bimo rusak!” Aku menyergap lengan Ibu.


Tekstur kulitnya dingin dan mengeras. Seperti plastik tebal yang dibekukan. Oh bukan seperti gabungan slim dan es batu beku. Mungkin jutaan tahun sebelum zaman es mencair.


Ayah muncul dari koridor. Jas korduroinya rapi, tapi matanya sudah berubah. Pupilnya tertutup lapisan abu-abu keperakan yang berkedip-kedip.


“Format ulang area diperlukan. Subjek F-04 mengalami anomali kesadaran tingkat tinggi.” Bibir Ayah tidak bergerak. Suara itu keluar dari celah di balik kerah kemejanya.


“Jangan sentuh aku!”


Aku mendorong dada Ayah sekuat tenaga. Tubuhnya yang berat runtuh ke samping, menghantam meja hias. Vas porselen antik jatuh dan pecah berkeping-keping.

Prang

Prang

Prang

Prak

Pyar

Pyar



Aku berbalik, berlari ke kamarku, membanting pintu, dan menguncinya.


DUM! DUM!

DUM! DUM!

BLAM

Lihat selengkapnya