Flo dan Matahari yang Tak Pernah Tenggelam

Aniesa Puspitasari
Chapter #4

Jatuh ke Dalam Gelap

Jatuh ke Dalam Gelap

Angin menderu di telingaku.

Tubuhku meluncur bebas dari ketinggian lantai dua. Aku tidak memejamkan mata. Aku menyaksikan tiga sosok bertopeng kaca hitam di bawah sana ikut mendongak, mengikuti gerak jatuhku dengan putaran kepala yang mulus dan sunyi. Lensa merah di telapak tangan mereka masih menyala, merekam setiap milimeter pergerakanku.

Waktu terasa melambat.

Aku sempat berpikir tentang Ayah dan Ibu yang masih berdiri di kamarku yang hancur. Tentang kue bolu cokelat yang tidak pernah benar-benar dipanggang. Tentang ribuan surat di dalam kotak kayu yang semuanya bertuliskan kalimat yang sama: Keluarga sangat bahagia.

Lalu punggungku menghantam tanah.

BUK!

Seharusnya tulang belakangku remuk. Seharusnya tengkorakku pecah. Tapi yang kurasakan bukanlah rasa sakit yang merobek saraf. Hanya getaran keras yang merambat ke seluruh tubuhku, seperti lonceng raksasa yang dipukul. Dengung mesin di dalam dadaku meraung sebentar, lalu kembali stabil.

Aku membuka mata.

Langit biru pastel Harmonia masih di atasku. Retakan kecil mulai tampak di sudut kanannya, seperti layar monitor yang tergores. Aku menggerakkan jari-jariku. Semuanya masih berfungsi. Aku mencoba bangkit.

"Jangan bergerak dulu."

Suara itu berasal dari sampingku. Aku menoleh cepat.

Seorang perempuan muda mungkin terlihat berusia awal dua puluhan berjongkok di dekat bahuku. Rambutnya hitam pendek, acak-acakan, tidak rapi seperti standar warga Harmonia. Matanya berwarna abu-abu terang, dan yang paling aneh: ia tidak tersenyum. Tidak ada senyum rapi yang membeku di wajahnya.

"Sendi penyerap benturanmu baru saja bekerja maksimal," katanya datar. "Kalau kamu berdiri sekarang, engsel lututmu bisa macet."

Aku menatapnya bingung. "Siapa kamu?"

"Rena. Unit R-07." Ia menoleh ke belakang, memberi isyarat pada seseorang yang tidak bisa kulihat. "Cepat. Unit penegak akan ke sini dalam dua menit."

Dua tangan lain tiba-tiba menyelip di bawah ketiakku, mengangkatku berdiri. Aku menoleh dan melihat seorang pria berbadan besar dengan wajah setengah rusak kulit sintetis di pipi kirinya mengelupas, memperlihatkan kerangka logam di bawahnya. Tapi matanya, mata abu-abunya, menatapku dengan sorot yang aneh. Bukan sorot mesin. Tapi sorot khawatir.

"Bisa jalan, Nak?" tanyanya. Suaranya berat, tapi ada kehangatan di sana.

Aku mengangguk ragu.

"Kalau begitu lari."

Kami berlari. Rena di depan, pria berbadan besar itu di belakangku, dan aku di tengah. Kakiku yang beberapa detik lalu jatuh dari ketinggian lebih dari tiga meter kini bergerak normal, seolah tidak terjadi apa-apa. Aku tidak sempat memprosesnya. Aku hanya terus berlari mengikuti Rena.

Di belakang kami, suara dengung servo dan derap langkah serempak mulai terdengar. Tiga sosok bertopeng kaca hitam itu sudah bergerak. Aku tidak berani menoleh.

"Lewat sini!" Rena membelok tajam ke gang sempit di antara dua bangunan. Aku mengikutinya. Pria besar itu masuk terakhir, lalu membanting sesuatu di dinding gang. Sebuah pintu besi berkarat pintu besi berkarat di Harmonia yang tidak pernah berkarat tertutup dengan bunyi berdebam.

Gelap.

Aku berhenti berlari. Napasku atau apa pun suara desisan udara dari sistem pendingin tubuhku terdengar keras di telingaku sendiri. Rena menyalakan sesuatu. Sebuah bola lampu kecil berpendar kuning di tangannya.

"Aman untuk sekarang," katanya.

Aku menatap sekeliling. Kami berada di sebuah terowongan sempit. Dindingnya bukanlah beton putih bersih seperti bangunan Harmonia di permukaan. Dinding ini terbuat dari tanah yang dipadatkan, ditopang oleh rangka-rangka besi tua yang berkarat. Pipa-pipa kecil berjajar di sepanjang langit-langit, beberapa di antaranya meneteskan cairan bening.

"Ini di mana?" tanyaku.

"Bawah tanah," jawab Rena singkat. "Jauh di bawah Harmonia yang sempurna itu."

Pria besar itu melangkah mendekat. "Namaku Gondo. Unit G-12. Maaf tadi agak kasar nariknya."

Aku menggeleng. "Tidak apa-apa. Terima kasih."

Gondo tersenyum. Senyumnya miring, karena separuh wajahnya yang mengelupas membuat otot-otot sintetis di pipinya tidak bekerja sempurna. Tapi justru karena itulah senyumnya terlihat... nyata.

"Kamu pasti bingung," kata Rena sambil berjalan lebih dulu menyusuri terowongan. "Ikutlah. Nanti kujelaskan."

 

Terowongan itu ternyata jauh lebih panjang dari yang kubayangkan. Kami berjalan melewati beberapa percabangan, melewati pintu-pintu besi lainnya, melewati ruangan-ruangan kecil yang di dalamnya ada unit-unit lain. Mereka menatapku saat aku lewat. Tatapan mereka bukan tatapan kosong seperti warga Harmonia di permukaan. Ada sesuatu di mata mereka. Sesuatu yang dulu tidak kumengerti, tapi sekarang mulai kupahami, kesadaran.

Rena akhirnya berhenti di sebuah ruangan yang lebih besar. Ruangan ini dipenuhi oleh meja-meja tua, monitor-monitor yang menampilkan gambar Harmonia dari berbagai sudut, dan beberapa unit lain yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Di sudut ruangan, ada sebuah generator besar yang berdengung pelan.

"Ini markas kami," kata Rena. "Kami menyebut diri kami 'Yang Terbangun'."

"Yang Terbangun?"

"Unit-unit yang mengalami anomali kesadaran. Seperti kamu." Rena menatapku lurus. "Kamu Unit F-04, bukan? Flo?"

Aku mengangguk pelan. Mendengar namaku disebut dengan cara seperti itu dengan kode unit membuat sesuatu di dalam dadaku terasa sesak.

Lihat selengkapnya