"Flo..."
Suara itu.
Suara yang sudah kudengar ribuan kali di meja makan, di depan kompor, di samping tempat tidurku saat aku demam meskipun sekarang aku tahu demam itu cuma simulasi sistem. Tapi suara itu bukan simulasi. Aku menolak percaya kalau suara itu cuma kode digital yang diputar ulang.
"Flo, sayang..."
Ibu.
Aku memutar badan. Di ujung lorong gelap menuju kamar-kamar, sesosok tubuh berdiri dengan sedikit goyah. Wajahnya setengah terkena cahaya lampu jalan yang menembus jendela. Pipinya retak. Retakan itu masih di sana, belum diperbaiki. Matanya berkedip tidak sinkron sebelah kiri dulu, baru sebelah kanan menyusul. Tapi di balik semua kerusakan itu, aku mengenalinya.
"Ibu..."
Aku melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Lalu aku berlari dan memeluknya.
Tubuh Ibu dingin. Lebih dingin dari biasanya. Tapi tangannya tangannya yang dulu mengiris kue bolu cokelat dengan presisi sempurna kini naik ke punggungku, menepuk-nepuk pelan. Gerakannya tidak lagi mekanis dan terukur. Ia menepuk dengan ritme yang kacau, kadang terlalu cepat, kadang terlalu lambat.
Seperti manusia sungguhan.
"Kamu kembali," bisik Ibu. Suaranya bergetar. Getaran itu bukan distorsi digital. Getaran itu sesuatu yang lain.
"Ayah di mana?" tanyaku sambil melepaskan pelukan, menatap wajah Ibu yang setengah rusak.
Ibu tidak menjawab. Ia hanya menoleh ke arah ruang tamu.
Aku mengikuti arah tatapannya. Di sana, di kursi kayu ek favoritnya, Ayah duduk. Posturnya tidak lagi tegak sempurna seperti biasanya. Bahunya turun. Kepalanya sedikit miring ke kiri. Satu lengannya lengan yang tempo hari terluka saat menerobos pintu kamarku kini tergantung mati di samping tubuhnya. Kabel-kabel kecil menjuntai dari siku yang robek.
"Ayah..."
Aku berjalan mendekat. Ayah mengangkat kepalanya perlahan. Matanya yang dulu berwarna cokelat hangat kini berkedip-kedip dengan cahaya redup. Tapi bibirnya bibir yang dulu selalu tersenyum rapi dan aman kini melengkung dengan susah payah. Senyum yang tidak sempurna. Senyum yang miring.
"Flo pulang," katanya. Bukan pertanyaan. Sebuah pernyataan. Sebuah kelegaan.
Aku berlutut di depan Ayah, menggenggam tangannya yang masih utuh. "Ayah... maafkan aku. Aku pergi. Aku ninggalin Ayah sama Ibu."
Ayah menggeleng pelan. "Kamu kembali. Itu yang penting."
Dari belakang, Ibu mendekat dan ikut berlutut di sampingku. Kami bertiga berkumpul di ruang tamu yang gelap, hanya diterangi cahaya lampu jalan dari luar. Di luar sana, puluhan unit penegak masih berdiri. Dengung servo mereka memenuhi udara malam. Tapi untuk beberapa detik ini, aku tidak peduli.
Aku di rumah. Aku bersama mereka. Itu cukup.
"Kue di meja..." kataku tiba-tiba. "Ibu yang buat?"
Ibu mengangguk. "Agak gosong. Ovennya susah diatur."
Aku tertawa kecil. Tertawa yang keluar begitu saja, tanpa kode, tanpa program. "Aku suka bagian yang gosong."
"Kamu selalu suka yang aneh-aneh," sahut Ayah. Suaranya pelan, tapi ada nada gurauan di sana. Nada yang dulu tidak pernah ada.