Flow of Red

ElevatedBeat
Chapter #2

Chapter 1 : The Ranger

Dunia di bawah langit Sektor A dan B tidak pernah benar-benar mengenal siang. Langitnya selalu tertutup hamparan jelaga, dihiasi oleh kilatan neon yang berdenyut lemah. Cahaya itu bersumber dari lampu-lampu rumah yang ditenagai oleh sisa-sisa Kytos—satuan volume darah—energi biologis yang diekstraksi manusia—kasta bawah yang sudah hampir mencapai titik nadir.


​Udara di sana tebal dan basah, membawa aroma metalik yang memualkan. Bau besi, aroma yang teroksidasi, menyatu dengan uap limbah, menciptakan atmosfer yang menyesakkan.


​"Formasi delta! Jangan biarkan dia mencapai gorong-gorong! Tutup akses ke pipa pembuangan utama!"


​Suara Kael menggelegar, terdistorsi oleh modulator logam di dalam helm taktisnya. Suara itu bukan sekadar perintah; itu adalah lonceng kematian yang bergema di gang-gang sempit yang lembap.


​Sepuluh pasang sepatu bot taktis menghantam beton basah dalam irama yang presisi, menciptakan simfoni yang menakutkan. Kael memimpin di depan. Jirah hitam rangernya—sebuah mahakarya metalurgi yang dibalut baja komposit—tampak berkilau tertimpa cahaya neon merah yang remang. Di balik kaca helmnya yang berwarna obsidian, sensor biometrik terus menari, memindai tanda-tanda panas di antara tumpukan kontainer dan gang-gang kumuh yang memisahkan pemukiman kasta A dan B.


​Di pergelangan tangan kirinya, Hemo-Cuff miliknya berpendar dengan warna biru yang tenang, Menandakan bahwa dia masih memiliki energi yang cukup untuk melakukan pengejarannya kali ini.


​"Target terlihat! Arah jam dua! Di balik tumpukan reaktor rongsok!" teriak Jace melalui sirkuit suara. Sebagai ranger baru, napasnya terdengar memburu, tidak stabil, mencerminkan adrenalin yang bergejolak di balik baju taktisnya.


​Di ujung gang, sesosok bayangan bergerak panik. Seorang wanita dengan pakaian yang lebih mirip kain kafan compang-camping berlari sekuat tenaga. Kakinya yang telanjang menghantam genangan air hitam, namun dia seolah tidak merasakan dinginnya. Tangannya mendekap erat sebuah bungkusan kain di dadanya—sebuah harta karun yang lebih berharga dari apapun.


​Kael memberikan perintah pada jirah sensorisnya. Whirrr. Motor servo pada kakinya mendesis, mengonsumsi lebih banyak Kytos untuk memberikan dorongan kinetik. Dalam satu lompatan besar yang membelah udara, dia melesat maju.


​"Komandan..." Suara Jace terdengar ragu di tengah deru angin yang menghantam helm mereka. "Kenapa kita mengerahkan satu tim penuh Ranger Kelas Satu hanya untuk seorang wanita dan bayinya? Bukankah dia hanya warga kasta rendah yang mencoba bertahan hidup?"


​Kael tidak menoleh. Matanya tetap terkunci pada target. "Fokus pada pengejaran, Rekrut. Bayi itu adalah golongan O."


Lihat selengkapnya