Flow of Red

ElevatedBeat
Chapter #3

Chapter 2 : Citadel

Pilar-pilar putih gading menjulang dengan keagungan yang mengintimidasi, menusuk kabut merah abadi yang menyelimuti benteng tembok raksasa Citadel. Di sini, di jantung peradaban yang terjaga, hukum fisika seolah tunduk pada kemewahan. Tidak ada aroma karat yang memuakkan, tidak ada suara desis pipa bocor yang merintih, dan tidak ada kegelapan yang mengancam.


​Udara di dalam Citadel terasa dingin, kering, dan steril—dimurnikan oleh ribuan filter bertenaga Kytos tingkat tinggi. Cahaya keemasan yang stabil menyinari setiap sudut ruangan, sebuah spektrum warna yang konstan dan menenangkan, kemewahan absolut yang hanya bisa dibeli oleh kemurnian golongan darah O.


​Kael melangkah tanpa baju zirah perangnya. Dia hanya mengenakan seragam opsir hitam yang ramping, membiarkan tubuhnya bernapas tanpa beban baja komposit. Namun, kesunyian aula audiensi itu justru menonjolkan satu suara yang kontras: bunyi klik mekanis yang halus dan presisi setiap kali kaki kanannya menghantam lantai marmer.


​Di ujung aula, di atas takhta yang seolah melayang di antara bayang-bayang jubah sutra merah, duduk sang High Hegemony. wajahnya selalu tersembunyi di balik tudung yang pekat, hanya menyisakan aura otoritas yang berat dan tenang.


​"Komandan Kael," suara Hegemony menggema, memantul di dinding-dinding marmer yang dingin. "Laporanmu sudah diterima. Satu lagi 'pemberian' telah diamankan dari lumpur Sektor Bawah. Kau telah memastikan jantung Citadel tetap berdenyut untuk satu generasi lagi."


​Kael berhenti tepat sepuluh langkah di depan takhta, menundukkan kepalanya dalam gestur hormat yang kaku. "Saya hanya menjalankan protokol, Yang Mulia. Aset telah diserahkan ke ruang inkubasi Medis-Alfa."


​Hegemony bangkit berdiri, berjalan perlahan menuju jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota elit di bawah mereka—sebuah labirin cahaya, taman-taman gantung yang hijau, dan menara-menara kristal yang mustahil ada di dunia yang sekarat ini.


​"Banyak yang tidak mengerti, Kael," lanjut Hegemony tanpa berbalik. "Para tikus di selokan itu menyebut kita pencuri. Mereka menyebut kita monster yang merobek kasih sayang. Padahal, kita adalah satu-satunya alasan mengapa ras manusia belum punah. Anak-anak dengan The Gift ini... mereka tidak akan pernah merasakan lapar, kedinginan, atau kekurangan daya. Tubuh mereka adalah fondasi peradaban. Sebagai timbal baliknya, negara akan melayani mereka dengan kemuliaan tertinggi."

Lihat selengkapnya