Rambut cepak Kael yang kaku tertiup angin buatan yang sejuk saat dia melangkah keluar dari keheningan aula audiensi. Langkah kakinya, yang kini menjadi perpaduan antara hentakan bot taktis dan bunyi klik pneumatik dari prostetiknya, bergema di sepanjang koridor kaca The Cradle—fasilitas pengasuhan pusat yang merupakan permata mahkota Citadel.
Di bawah koridor transparan itu, terbentang pemandangan yang seolah datang dari dimensi lain. Taman-taman tumbuh subur dengan warna hijau yang menghina kekelaman Sektor Bawah. Tanaman itu disirami nutrisi cair dan bermandikan cahaya merah spektrum penuh yang stabil, menggantikan matahari yang sudah lama hilang di balik jelaga.
Kael berhenti sejenak. Dia menempelkan telapak tangannya yang bersarung tangan hitam ke dinding kaca, memperhatikan melalui transparansi yang jernih. Di sana, di atas rumput sintetis yang lembut, anak-anak golongan O—sang pemilik The Gift—sedang bermain.
Pemandangan itu begitu kontras dengan kengerian di luar dinding. Anak-anak itu mengenakan pakaian dari serat sutra halus yang berkilau. Wajah mereka bulat, pipi mereka merona sehat karena asupan gizi yang tak pernah kurang. Tawa mereka yang renyah dan jujur terpancar melalui pengeras suara internal, memenuhi koridor dengan frekuensi kehidupan yang murni. Seorang perawat dengan seragam putih bersih terlihat menyuapi salah satu balita dengan bubur protein tinggi yang diperkaya mineral.
Tidak ada tangisan ketakutan di sini. Tidak ada debu industri yang menyesakkan paru-paru atau suara tembakan di kejauhan. Hanya ada kedamaian yang terkurasi.
Mereka bahagia, batin Kael. Senyum tipis, nyaris tak terlihat, muncul di wajahnya yang biasanya sekeras pahatan batu. Baginya, bibir anak-anak hasil 'rampasan' itu adalah satu-satunya konfirmasi yang dia butuhkan. Setiap tetes keringat, setiap trauma, dan setiap luka yang dia dapatkan di perbatasan tidaklah sia-sia jika hasilnya adalah tawa ini.
"Komandan Kael! Terima kasih atas dedikasi Anda yang tak tergoyahkan!"
Seorang warga Citadel yang berpakaian rapi lewat di sampingnya, membungkuk dalam dengan penuh rasa hormat yang tulus. Kael membalas dengan anggukan singkat, sebuah pengakuan tanpa kata antara pelindung dan yang dilindungi.