Dua puluh tahun yang lalu, sejarah tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan denyut nadi yang kian melambat.
Suara pintu kayu yang rapuh berderit, merintih saat engselnya yang berkarat dipaksa terbuka. Udara dingin Sektor Bawah menyusup masuk—sebuah campuran atmosfer yang menyesakkan antara uap limbah dan aroma besi yang memuakkan. Ayah dan Ibu Silas melangkah melewati ambang pintu dengan bahu yang merosot, seolah-olah gravitasi di distrik kumuh ini bekerja dua kali lebih berat bagi mereka yang tak punya daya.
Di tangan Ayah yang gemetar, terdapat sebuah kantong kain kumal. Di dalamnya hanya ada beberapa remah roti keras dan dua butir kentang layu yang sudah mulai bertunas. Itulah hasil dari menukarkan lima puluh unit Kytos—kehidupan dari tubuh mereka sendiri—di pos penukaran resmi hari ini.
Silas, yang saat itu baru berumur tujuh tahun, duduk meringkuk di atas lantai beton yang dingin. Matanya yang besar dan jernih, kontras dengan wajahnya yang coreng-moreng oleh debu industri, menatap penuh harap.
"Ayah... Ibu... bagaimana Citadel hari ini?" tanyanya dengan suara polos yang memecah kesunyian rumah mereka yang suram. "Apakah di sana benar-benar megah seperti yang ada di buku tua itu?"
Ayahnya memaksakan sebuah senyum. Namun, di bawah cahaya temaram, wajah itu terlihat pucat pasi, hampir seperti kertas perkamen yang akan robek.
"Sangat megah, Silas," Ayah berbisik, suaranya parau namun penuh imajinasi. "Temboknya terbuat dari putih gading yang bersih, menjulang tinggi menembus kabut seolah mereka ingin menyentuh bintang. Dan saat malam tiba..." Ayah menarik napas panjang, menelan rasa pening yang menyerangnya. "Lampu-lampunya menderang terang, Nak. Tidak ada kegelapan di sana. Mereka seperti memiliki matahari sendiri."
Silas menatap langit-langit rumah mereka. Di sana, sebuah bola lampu kuning kuno berkedip-kedip sekarat, mengeluarkan suara mendenging yang mengganggu saraf. "Lalu kenapa kita tinggal di sini, Yah? Kenapa di sini nyaris selalu gelap?"
Ibunya tidak menjawab. Dia melangkah menuju sudut ruangan yang paling gelap, tempat sebuah kotak logam tua berlabel Hemo-Cells tertempel di dinding dengan pipa-pipa yang menjalar. Itulah jantung rumah mereka. Tanpanya, pemanas akan mati dan filter udara akan berhenti, membiarkan kabut beracun masuk dan membunuh mereka dalam tidur.
Ibu menyingsingkan lengan bajunya yang kasar,