"PENCURI! BERHENTI KAU, TIKUS KECIL!"
Teriakan itu pecah, mengoyak keheningan pagi yang mencekam di Sektor Bawah.
Silas memacu kakinya. Setiap hentakan sepatunya yang aus di atas aspal retak mengirimkan denyut nyeri ke lututnya, namun ia tak peduli. Paru-parunya terasa seperti sedang menghirup pecahan kaca panas saat ia melompati tumpukan palet kayu yang membusuk dan genangan air hitam yang berbau belerang. Di pelukannya, dua botol kaca berisi konsentrat glukosa—cairan kental berwarna amber yang merupakan kemewahan tak terjangkau bagi kasta rendah—terasa dingin menekan dadanya, seolah botol itu adalah jantung kedua yang ia curi dari dunia.
Di belakangnya, debam langkah kaki pemilik kedai yang berat terdengar semakin dekat, disertai sumpah serapah yang parau. Silas tidak menoleh. Jika ia menoleh, ia akan kehilangan momentum. Ia meluncur dengan kecepatan penuh di bawah pipa uap yang bocor. Sssssss! Uap panas menyengat bahunya melalui baju yang tipis, namun adrenalin membungkam rasa sakitnya. Ia berbelok tajam ke sebuah gang sempit, sebuah celah di antara gedung yang hanya cukup untuk satu orang dewasa. Dengan kelincahan seekor kucing jalanan, Silas memanjat pagar kawat yang berkarat, mengabaikan luka gores di telapak tangannya, dan menghilang ke dalam perut bangunan apartemen yang sudah runtuh sebagian.
Suara teriakan itu perlahan memudar, tertelan oleh desis mesin kota yang jauh dan rintihan angin di antara puing-puing.
Silas menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang lembap dan berjamur, tempat poster-poster propaganda yang kusam mengelupas seperti kulit mati. Napasnya tersengal, dadanya naik-turun dengan cepat. Matanya yang tajam tertuju pada sebuah selebaran yang tertempel tepat di depan wajahnya: WANTED: HEMO-CRIMINALS.
Foto-foto buram terpampang di sana; wajah-wajah yang lelah, dituduh melakukan sabotase katup darah atau pencurian Hemo-Cells massal. Di bawahnya tertera nilai imbalan yang cukup untuk memberi makan satu blok selama sebulan. Di pojok bawah selebaran itu, logo merah tajam Hemo-Hegemony nampak seperti mata merah yang terus mengawasi.
Silas menelan ludah. Ia hanya seorang anak yang mencuri minuman nutrisi, namun di dunia yang diatur oleh tetes darah, setiap pelanggaran adalah benih pemberontakan. Setiap kali ia melihat bayangan patroli Ranger dengan jubah hitam mereka yang berkilat di kejauhan, Silas menahan napas, membenamkan dirinya lebih dalam ke dalam bayang-bayang. Ia merasa kecil, merasa seperti kriminal yang sedang berjalan di atas tali tipis di atas jurang kematian.
...
Perjalanan berlanjut melewati labirin pipa-pipa darah yang berdenyut rendah hingga Silas sampai di sebuah gudang tua yang tersembunyi di balik tumpukan kontainer limbah medis. Di sana, seorang pria kurus dengan mata licin dan kulit sewarna perkamen tua bernama Kanz sedang menunggu, duduk di atas peti kayu sembari memainkan sebuah pemantik api yang sudah mati.