Kegelapan di dalam rumah itu bukan sekadar ketiadaan cahaya; ia terasa padat, dingin, dan mencekik, seolah-olah kegelapan itu sendiri adalah entitas yang sedang menghisap sisa oksigen di ruangan. Silas bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar, bersaing dengan deru napas ayahnya yang pendek, serak, dan tersengal—suara paru-paru yang dipaksa bekerja tanpa energi yang cukup.
Lalu, bunyi itu kembali terngiang di telinganya: Bugh! Bunyi tubuh ibunya yang menghantam lantai beton. Bunyi yang tumpul, mengerikan, dan final.
"Ibu! Ayah, nyalakan lampunya! Cepat! Kita butuh cahaya!" teriak Silas. Suaranya melengking tinggi, pecah oleh gelombang kepanikan yang menghantam dadanya.
"Tidak bisa, Nak... Kytos-nya... benar-benar habis. Terminalnya kosong," suara Ayah terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu busuk.
Di tengah kegelapan total itu, hanya ada satu sumber visual: bias cahaya bulan yang merembes masuk melalui jendela kecil yang berdebu. Cahaya pucat itu jatuh tepat di wajah Ibu. Dalam keremangan itu, Ibu tampak bukan lagi seperti manusia, melainkan patung marmer yang dingin dan putih pasi. Matanya terpejam rapat, kelopaknya tampak transparan, sementara bibirnya yang pecah-pecah mulai berubah warna menjadi biru keunguan—warna kematian yang perlahan merayap.
Ayah merangkak di lantai, tangannya yang gemetar hebat mencoba meraih bahu Ibu, berusaha mengangkat kepala istrinya ke pangkuannya. Namun, otot-ototnya menyerah. Pria itu terlalu lemah; sumsum tulangnya telah diperas kering selama bertahun-tahun demi membayar sewa udara dan kehangatan. Silas melihat ayahnya terjatuh kembali, kepalanya tertunduk di samping tubuh Ibu, air mata mengalir melewati pipinya yang cekung dan kempot, membasahi lantai beton yang tak punya perasaan.
"Aku akan cari bantuan! Ayah, jaga Ibu! Jangan biarkan dia pergi!"
Silas menghambur keluar. Pintu rumahnya terbanting, meninggalkan gema yang kosong. Kakinya yang hanya beralas sepatu kain tipis menghantam genangan air hitam di gang-gang sempit Sektor Bawah. Dia berlari seperti orang kesurupan, menabrak tumpukan sampah, melewati pipa-pipa uap yang mendesis seperti ular raksasa.
Dia menuju ke arah utara, tempat pemukiman yang sedikit lebih stabil, di mana beberapa warga kasta B masih memiliki kendaraan mekanis tua yang berkarat di halaman mereka.
Dia berhenti di depan sebuah pintu besi yang berkarat, milik seorang mekanik bernama Garry. Duk! Duk! Duk! Silas menggedor dengan seluruh sisa tenaganya. "Pak Garry! Tolong! Ibuku pingsan! Dia sekarat! Tolong antar kami ke rumah sakit Distrik AB! Aku mohon!"
Pintu terbuka hanya beberapa inci, tertahan oleh rantai pengaman. Mata Garry yang kuyu dan dikelilingi lingkaran hitam menatap Silas. Ada kilatan iba di sana, namun seketika padam oleh ketakutan yang lebih besar.