Flow of Red

ElevatedBeat
Chapter #8

Chapter 7 : Sanguine

Masa kini. Sebuah era di mana waktu tidak lagi dihitung dengan jam, melainkan dengan sisa volume cairan di dalam tabung-tabung kaca.


​Angin kuyu berhembus rendah di atas hamparan tanah gersang pemakaman Sektor Bawah. Udara di sana membawa aroma debu apokaliptik dan rasa putus asa yang seolah telah menjadi bagian dari struktur atomnya. Di sini, kematian tidak dirayakan dengan kemewahan. Tidak ada nisan marmer putih atau patung malaikat yang bersedih. Yang ada hanyalah barisan nisan yang terbuat dari logam rongsokan—potongan pipa berkarat, sisa kerangka mesin, atau plat baja kusam yang ditancapkan paksa ke tanah yang keras dan pecah-pecah.


​Silas berdiri mematung di depan dua gundukan tanah yang bersahaja. Sosoknya kini telah berubah. Dia bukan lagi bocah kurus dengan pakaian compang-camping yang menangis di dalam kegelapan. Dia mengenakan kemeja hitam yang bersih dengan potongan tegas, namun bahunya nampak memikul beban yang lebih berat dari jirah baja manapun.


​Di tangannya, seikat mawar merah—sebuah anomali warna yang menyakitkan di tengah dunia yang didominasi warna kelabu dan karat—diletakkan perlahan di atas nisan logam itu. Warna merah mawar itu mengingatkannya pada sesuatu yang selalu diminta oleh dunia ini: darah.


​"Ibu... Ayah..." bisik Silas. Suaranya parau, terbawa angin yang kering. Jari-jarinya yang kasar mengusap permukaan logam dingin yang bertuliskan nama mereka secara kasar. "Aku berjanji. Cahaya di rumah kita tidak akan pernah padam lagi. Tidak akan ada lagi kegelapan yang diizinkan menjemput orang-orang yang kucintai hanya karena mereka kekurangan daya."


...


​Keheningan makam itu mendadak pecah oleh derak kerikil yang terinjak langkah kaki berat. Jack, seorang anggota Sanguine yang cukup terbilang baru, berjalan mendekat dengan langkah lebar. Jaket kulitnya yang usang dipenuhi noda oli, dan di lengannya melingkar simbol tetesan air putih—lambang perlawanan terhadap monopoli darah. Wajahnya merah padam, otot rahangnya mengeras karena amarah yang sudah mencapai titik didih.


​"Kau terlalu lamban, Silas!" Jack menghardik, suaranya menggelegar di antara nisan-nisan sunyi. "Setiap detik yang kau habiskan untuk meratapi masa lalu di sini adalah satu detik lagi saudara-saudara kita diperas hingga kering oleh Hegemony! Kita butuh aset golongan O itu sekarang! Persenjataan kita tidak akan bisa menembus perisai energi gerbang Citadel jika kita hanya mengandalkan Kytos golongan A yang lemah dan tidak stabil!"


​Silas bangkit berdiri perlahan, merapikan kemejanya dengan ketenangan yang ganjil. Dia berbalik menatap Jack. Wajah Silas tidak menunjukkan kemarahan; sebaliknya, ia nampak ramah, namun ketenangan di matanya justru terasa lebih mengancam daripada teriakan Jack.


​"Jack, di dunia ini memang tidak ada lagi mesiu atau bubuk mesiu, kawan. Semua teknologi, dari pemanas ruangan hingga meriam getar, bergantung pada denyut nadi manusia. Semuanya tergantung pada darah," Silas berkata dengan nada yang dalam. "Tapi bukan berarti darah harus tumpah dengan sia-sia hanya untuk memuaskan dendam sesaat. Aku tidak akan membiarkan anak-anak golongan O itu menjadi korban dalam baku tembak yang tidak terencana."


Lihat selengkapnya