Suara desis mesin pengisap di dalam gudang kincir angin itu terdengar seperti detak jantung mekanis yang sekarat, ritmis dan menghantui. Di bawah pendaran lampu gantung yang redup, Silas berdiri di depan meja kerjanya yang penuh dengan goresan sejarah. Jemarinya yang terampil, yang telah beradaptasi dengan kekerasan jalanan, menarik tali strap kulit dengan sentakan mantap, mengunci selongsong pisau lempar di paha dan lengannya. Setiap gerakan adalah ritual persiapan yang sakral, sebuah tarian sunyi sebelum badai yang telah dia lakukan ratusan kali, namun malam ini, udara terasa lebih berat.
Dia mengambil sebuah tabung Hemo-Cells kosong yang dingin. Tanpa ragu, Silas mengisi lewat katup khusus di lengannya sendiri-sebuah pengorbanan kecil untuk mesin yang haus. Darah merah pekat mengalir melalui selang transparan, mengisi tabung dengan energi biologis yang akan menjadi bahan bakar motor listriknya. Wajahnya perlahan memucat, bayangan di bawah matanya semakin dalam, namun fokus di matanya tidak goyah sedikit pun. Dia kemudian membuka lemari besi yang berderit, mengambil beberapa silinder darah cadangan yang telah dia kumpulkan setetes demi setetes setiap hari-asuransi nyawa yang mahal jika situasi memaksanya menggunakan senjata api yang rakus energi.
"Silas, kau dengar? Frekuensi stabil," suara Lea berdesis dari alat komunikasi, memecah kesunyian.
"Aku dengar, Lea. Tahan posisimu di titik pantau. Jangan lakukan hal gegabah sampai aku tiba di titik buta. Tetaplah menjadi bayangan," jawab Silas tenang sembari menyampirkan jaket taktisnya yang berbahan serat karbon kusam.
Jack, yang sedari tadi bersandar di pintu gudang dengan tangan bersedekap, melangkah maju ke dalam lingkaran cahaya. "Kau yakin tidak butuh bantuan? Operasi ke Hemo-Farm bukan sekadar mencuri minuman di kedai, Silas. Itu sarang lebah yang dijaga."
"Semakin sedikit orang, semakin efektif untuk pelarian. Jejak kita harus sekecil mungkin," Silas memeriksa isi tas medisnya dengan ketelitian seorang dokter bedah. "Jika ini gagal, aku tidak ingin menyeret kalian ke tiang gantungan Hegemony. Cukup aku saja."
"Kenapa kau selalu bersikeras melakukannya sendiri? Kau bukan tuhan, Silas," tanya Jack, nada suaranya merupakan perpaduan antara kekaguman yang dalam dan kekesalan yang memuncak.
Silas menoleh, senyum tipis yang sedingin es di puncak Citadel tersunggung di bibirnya. "Karena jika aku tertangkap, aku akan memilih diam sampai mati. Aku tidak punya keluarga lagi yang bisa mereka jadikan alat pengancaman. Di papan catur ini, aku adalah variabel yang tidak bisa mereka tekan."
"Lalu bagaimana dengan kami? Bagaimana dengan pergerakan ini jika kamu malah berakhir menjadi mayat kering?"
Silas menaiki motor listriknya, memutar kunci kontak hingga terdengar dengungan magnetik yang halus dan futuristik. "Lalu, apa selama ini aku pernah tertangkap?"
Motor itu melesat keluar, membelah kabut sektor industri yang tebal dengan kecepatan tinggi, hanya menyisakan jejak cahaya redup di belakangnya. Di tengah perjalanan, di antara gang-gang yang berbau karat, Silas menekan tombol komunikasinya. "Status, Lea. Beri aku mata."
"Status aktif," jawab Lea cepat, suaranya tegang. "Ada pergerakan aneh di perimeter selatan. Seorang wanita baru saja dibawa masuk oleh beberapa pria. Mereka terlihat seperti petugas keamanan, tapi ada yang salah dengan seragam mereka... terlalu lusuh, terlalu banyak tambalan untuk ukuran bawahan Citadel yang perfeksionis. Dan Silas... wanita itu... lengannya bersih. Tidak ada Hemo-Cuff."