Flow of Red

ElevatedBeat
Chapter #10

Chapter 9 : Barrack

Kenangan itu selalu datang saat Kael memejamkan mata, menyelinap di antara celah kesadarannya seperti hantu yang menolak untuk beristirahat. Kenangan tentang masa kecil yang tidak pernah benar-benar mati, hanya terkubur di bawah lapisan baja dan loyalitas buta.

​Api. Hal pertama yang indra Kael kecil tangkap adalah panas yang menjilat kulitnya, sebuah gelombang termal yang merusak pori-pori, disusul suara dentuman yang begitu dahsyat hingga memecahkan gendang telinganya. Sirene peringatan meraung, membelah malam yang pekat dengan nada melengking yang putus-asa. Langit yang biasanya hitam berubah menjadi jingga membara. Orang-orang berhamburan dari gedung-gedung yang runtuh, panik, histeris, dan kehilangan arah. Tangan kecil Kael menggenggam jemari ibunya dengan kekuatan yang melampaui usianya; sebuah pegangan putus asa pada satu-satunya jangkar di tengah badai.

​"Ibu! Jangan lepaskan Kael!" teriaknya, suaranya parau, tercekik oleh debu beton dan asap kimia yang membakar tenggorokan.

​Ibunya tidak menjawab. Wajahnya pucat pasi, matanya fokus pada celah sempit di antara kerumunan jalanan. Dia menyeret Kael melalui gelombang manusia yang liar, menghindari bongkahan fasad gedung yang jatuh dan desing peluru nyasar yang memantul di aspal. Namun, kekacauan itu terlalu kolosal. Sebuah ledakan kedua terjadi di dekat mereka, menciptakan gelombang kejut yang melempar kerumunan. Arus manusia yang panik menghantam mereka seperti air bah, memisahkan dua tangan yang saling menggenggam itu dalam satu sentakan kasar.

​"Kael!" teriakan ibunya tertelan oleh gemuruh runtuhan.

​"IBU!"

​Kael tersungkur di atas aspal yang panas. Dia menangis, tubuhnya yang kecil gemetar hebat di bawah bayang-bayang kehancuran. Dia mencoba bangkit, tapi seseorang menabrak punggungnya, membuatnya jatuh kembali ke tanah yang kasar. Dia merasakan kaki-kaki berat menghantam tulang rusuknya, menginjak jemari tangannya yang mungil. Dia merasa akan mati di sana—menjadi debu yang diinjak-injak oleh orang-orang yang mencoba menyelamatkan nyawa mereka sendiri.

​Tiba-tiba, sebuah keajaiban muncul dalam bentuk sepasang lengan yang kuat. Seorang pria dengan jaket kulit yang sudah sangat usang dan robek di sana-sini menerjang kerumunan. Pria itu tidak berlari menjauh; dia justru menjatuhkan diri, menutupi tubuh Kael dengan tubuhnya sendiri, menjadi perisai hidup dari injakan kaki yang membabi buta.

​Pria itu mengangkat Kael ke dalam pelukannya, melindunginya dengan dekapannya yang hangat, lalu membawanya ke tepi jalan, masuk ke dalam celah di bawah reruntuhan yang aman dari jalur pelarian utama.

​"Kau tidak apa-apa, Nak?" tanya pria itu. Napasnya terengah-engah, dadanya naik-turun dengan cepat. Wajahnya penuh luka gores dan tertutup jelaga hitam, tapi tatapan matanya yang teduh penuh dengan belas kasih yang murni.

​Kael hanya bisa menggeleng lemah. Air mata mengalir deras di pipinya yang kempot dan kotor. Lidahnya kelu; dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya ingin kembali ke dekapan ibunya.

Lihat selengkapnya