Langkah kaki Kael bergema di dalam ruangan beton yang berdebu, menciptakan orkestra suara yang ganjil antara sepatu bot militer dan mekanisme canggih. Setiap derapnya memicu desis servo dan dengungan hidrolik dari kaki kanannya, sebuah instrumen penghancur yang menyatu dengan anatomi biologisnya. Keheningan di dalam gedung tua itu terasa menyesakkan, seolah dinding-dindingnya ikut menahan napas menyaksikan konfrontasi dua pria yang terikat takdir pahit.
Silas duduk di tengah ruangan, terikat kuat pada sebuah kursi kayu tua yang nampak rapuh. Pakaiannya kotor oleh debu gudang, dan kepalanya tertunduk. Namun, meski dalam posisi pesakitan, keberadaan Silas tetap terasa menantang; ada aura pemberontakan yang tidak bisa diredam oleh rantai atau tali manapun.
Tiba-tiba, langkah Kael terhenti secara paksa. Kaki kanannya bergetar hebat-sebuah malfungsi mekanis yang mengeluarkan suara derik logam yang menyakitkan. Detik berikutnya, kaki itu mengunci total, kaku dan mati seperti tiang besi yang tertanam di lantai. Kael mendengus kesal, sebuah ekspresi muak terhadap ketergantungannya pada mesin.
Dengan kasar, dia menyibakkan celana taktis hitamnya hingga ke pangkal paha, menyingkap pemandangan mengerikan sekaligus menakjubkan: sambungan logam kromium yang menyatu dengan jaringan otot dan saraf yang memerah. Indikator pada sambungan itu berkedip kuning redup. Dengan gerakan cepat dan terlatih, Kael mencabut tabung Hemo-Cell yang sudah kosong-warnanya kusam, cairannya habis diperas-dan menghujamkan tabung baru dari saku sabuknya.
Sssshh-takk!
Pendaran merah murni kembali mengalir melalui kabel-kabel transparan yang melilit kerangka prostetiknya. Tenaga baru itu berdenyut, mengirimkan getaran balik ke tulang punggung Kael.
Silas terkekeh, suara tawa yang serak, kering, dan penuh ejekan. Dia mengangkat wajahnya, menatap Kael dengan mata yang berkilat jenaka. "Lihatlah Ranger kita yang agung. Kehabisan daya? Kau bahkan tidak bisa berjalan selangkah pun tanpa mengabdi pada pasokan darah Hegemony, hah? Kau bukan prajurit, Kael. Kau hanya baterai berjalan yang bisa mati kapan saja."
Kael tidak membalas dengan kata-kata. Begitu sensor di sambungan kakinya berubah menjadi hijau stabil, dia melesat maju. Gerakannya tidak lagi manusiawi; itu adalah akselerasi piston yang meledak. Alih-alih duduk untuk memulai interogasi, Kael menghantamkan tinjunya-tepat ke dada Silas.
Bugh!
Suara hantaman itu begitu padat hingga udara di sekitar mereka seolah tersedot keluar. Silas mengerang hebat, tubuhnya tersentak ke belakang bersama kursi kayu yang menahannya, terseret beberapa inci di atas lantai semen yang kasar.
"Di mana senjata itu?" geram Kael. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari Silas, memancarkan amarah yang dingin.
Di sudut ruangan yang remang, Elara-gadis yang beberapa jam lalu nampak sebagai tawanan tak berdaya-melangkah maju ke dalam lingkaran cahaya. Dia kini telah mengenakan seragam Ranger lengkap, jirah ringannya berkilat terkena sisa cahaya merah dari kaki Kael. Hemo-cuff di pergelangan tangannya telah terpasang kembali, menandakan status aslinya sebagai bagian dari sistem. Wajahnya nampak gelisah, matanya tidak berani menatap Silas secara langsung.