Debu di dalam ruang interogasi beton itu perlahan mengendap, menggantung di udara yang pengap bersama aroma mesiu dan karat yang menyengat indra. Kael berdiri mematung di tengah ruangan, sosoknya nampak seperti monumen kemarahan yang membeku. Tangannya yang terbalut jirah taktis terkepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih dan sambungan hidrolik di lengannya mengeluarkan bunyi berdecit halus. Matanya yang tajam menatap kosong ke lantai semen yang kini hanya menyisakan serpihan kursi kayu yang hancur—satu-satunya bukti fisik bahwa mangsanya, Silas, baru saja berada dalam genggamannya.
"Sialan!" raung Kael, suaranya menggelegar menabrak dinding-dinding bisu.
Dalam ledakan emosi yang tak tertahankan, dia menghantamkan tinju logamnya ke dinding beton dengan kekuatan penuh. BRAKK! Beton itu retak, menciptakan pola sarang laba-laba yang dalam, sementara getaran pilu menjalar ke seluruh lengan prostetiknya, mengirimkan umpan balik sensorik yang menyakitkan.
Elara mendekat dengan langkah ragu, sepatu botnya berderak di atas serpihan kayu. Tangannya masih memegang senjata dengan gemetar, sementara napasnya tersengal karena sisa gas asap yang masih menusuk tenggorokan. "Capt... bagaimana mereka bisa tahu lokasi ini?" tanyanya dengan suara lirih. "Ini gedung kosong di zona mati yang bahkan tidak terdaftar di peta navigasi standar."
Kael tidak menyahut. Pikirannya berputar liar seperti mesin yang mengalami overheat. Granat asap yang baru saja meledak itu bukan teknologi kasar pemberontak jalanan; itu bukan rakitan pipa uap atau bahan peledak improvisasi. Itu presisi. Itu taktis. Itu adalah peralatan tingkat militer. Dia menoleh ke arah jendela yang hancur, menatap kegelapan malam Sektor Bawah yang seolah-olah menjadi tirai bagi pelarian musuhnya.
"Sepertinya mereka juga punya pasokan yang kita tidak tahu," gumam Kael dingin, suaranya nyaris menyerupai desis ular. "Seseorang dengan sumber daya yang jauh lebih ahli dari sekadar pencuri kytos jalanan sedang bermain di belakang mereka."
...
Sementara itu, beberapa blok dari lokasi gedung tua itu, di sebuah gang sempit yang gelap dan licin oleh minyak, sebuah van butut dengan cat yang terkelupas berhenti dengan decit rem yang tajam. Pintu belakang terbuka dengan suara gesekan logam yang kasar, dan Silas dilemparkan masuk ke dalam dengan sentakan kuat. Dia terbatuk hebat, dadanya terasa sesak saat ia mencoba menghirup udara di balik sisa-sisa gas pembuta yang masih menempel di jaketnya.
Lea duduk di hadapan Silas, wajahnya tertutup masker taktis hitam yang hanya menyisakan matanya yang waspada. Di depan, Jack mengemudikan van itu dengan liar, membelah labirin Sektor Bawah, menghindari lampu-lampu patroli yang mulai menyisir area tersebut.
"Kami tidak akan meninggalkanmu begitu saja, Silas," ucap Jack dari balik kemudi, matanya sesekali melirik spion dengan waspada, memastikan tidak ada unit pengejar Citadel yang menempel. "Tapi kau benar-benar gila melakukan itu sendirian. Kau hampir saja menjadi donor abadi di meja bedah mereka."
Van itu akhirnya sampai di gudang dengan kincir angin mereka yang tersembunyi. Silas turun dengan langkah yang tertatih-tatih, setiap inci tubuhnya menjerit kesakitan. Nyeri hebat bekas tendangan kaki prostetik Kael yang ditenagai kytos. Lea mencoba meraih lengannya untuk membantu, namun Silas menolak dengan halus, jemarinya yang gemetar menepis pelan tangan Lea. Dia bersikeras berjalan sendiri, meski wajahnya meringis dan keringat dingin membanjiri keningnya.