Langit di atas Sektor Bawah menggantung rendah, seolah-olah lapisan atmosfer itu sendiri sudah terlalu lelah untuk menahan beban dunia. Warnanya kelabu kusam, serupa logam yang dibiarkan berkarat di bawah hujan asam selama berdekade-dekade. Angin yang berhembus tidak membawa kesegaran, melainkan aroma tanah basah yang bercampur dengan jelaga industri—parfum abadi dari kemiskinan yang tak pernah hilang.
Di sebuah sudut pemakaman yang terasing, di mana nisan-nisan tidak lebih dari potongan baja bekas yang ditancapkan seadanya ke bumi yang keras, Silas kecil berdiri mematung. Tubuhnya yang mungil nampak tenggelam di balik jaketnya yang kebesaran.
Matanya sembab, merah, dan nampak kosong, seolah jiwanya telah ikut terkubur bersama peti kayu sederhana di hadapannya. Gundukan tanah baru itu kini menjadi rumah terakhir bagi ibunya, wanita yang hingga hembusan napas terakhirnya masih mencoba memberikan kehangatan di tengah dunia yang membeku.
Seorang pria paruh baya berdiri tepat di sampingnya, menjaga jarak yang sopan namun tetap memberikan kehadiran yang kokoh. Pria itu adalah Hoff. Kumis nyentriknya yang melengkung rapi di kedua ujungnya nampak begitu kontras dengan lingkungan kumuh yang didominasi warna tanah. Jaket beludru marun yang ia kenakan terlihat sedikit terlalu mewah, sebuah sisa-sisa kemegahan dari era yang sudah lama runtuh. Hoff bukanlah seorang prajurit dengan jirah baja, bukan pula pejabat Citadel yang angkuh. Dia hanyalah pemilik bar tua yang secara tak sengaja memergoki seorang bocah tujuh tahun mencoba mencuri botol anggur terbaiknya demi menukar nyawa sang ibu.
"Kita sudah berusaha, Silas," suara Hoff memecah keheningan yang menyesakkan itu. Suaranya berat, namun penuh dengan getaran simpati yang tulus. "Kita sudah mengantarkannya tepat waktu. Tidak ada satu detik pun yang terbuang sia-sia."
Silas tidak menyahut. Tangannya yang kecil meremas pinggiran bajunya yang kumal hingga buku-buku jarinya memucat.
Dunia ini jarang sekali memberikan keajaiban secara cuma-cuma, terutama bagi mereka yang hidup di bawah bayang-bayang jelaga. Darah memang sempat masuk ke dalam nadi ibunya; pendaran merahnya sempat memberi harapan sesaat, sebuah kilatan cahaya di ujung terowongan. Namun, tubuh wanita itu sudah terlalu lama "diperas" oleh sistem Hegemony. Kegagalan organ akibat anemia kronis selama bertahun-tahun telah mencapai titik jenuh, di mana darah paling murni sekalipun tidak bisa lagi menghidupkan mesin biologis yang sudah hancur dari dalam.
"Dia pergi dengan tenang, Silas. Tanpa rasa sakit lagi," lanjut Hoff pelan, matanya menatap kejauhan.
Silas memejamkan mata erat-erat. Ingatannya terseret kembali ke jam-jam terakhir di bangsal rumah sakit yang pengap dan berbau obat-obatan murah. Ibunya, dengan suara yang sesayup angin di antara celah dinding, sempat membisikkan pesan yang kini terukir permanen, seolah-olah dipahat dengan api di dinding jantung Silas.
"Jangan mencuri lagi, Nak..." bisik ibunya kala itu, jemarinya yang sedingin es mengusap pipi Silas yang basah. "Ibu berjanji, jika umurmu sudah cukup... jika kau sudah memakai Hemo-cuff secara resmi dari pemerintah... Ibu akan membiarkanmu membantu menerangi rumah kita. Kita akan duduk bersama di bawah lampu yang terang, tanpa rasa takut akan kegelapan. Tapi sebelum hari itu tiba, berjanjilah... tetaplah menjadi anak yang jujur. Jangan biarkan dunia ini merusak hatimu."
Hoff berdiri di sana saat itu, menyaksikan percakapan terakhir yang menyayat hati tersebut. Dia melihat bagaimana seorang anak kecil menghancurkan harga dirinya sendiri dengan mencuri demi cinta, hanya untuk mendapati bahwa kejujuran adalah warisan terakhir yang diinginkan ibunya.