Cahaya neon berwarna biru elektrik memantul di permukaan gelas kristal yang digenggam Kael, menciptakan pembiasan cahaya yang tampak seperti sirkuit elektronik yang retak. Di dalam Aether Bar, suasana begitu kontras dengan dunia luar. Suara musik ambient yang halus dan berfrekuensi rendah mencoba meredam kebisingan pikiran Kael yang kacau, namun frekuensi itu justru terasa seperti dengungan statis di telinganya. Di sini, di lantai atas Citadel, udara terasa sejuk, murni, dan disaring sempurna—jauh dari bau jelaga dan amis darah Sektor Bawah yang masih menempel kuat di ingatan sensorik dan pakaian taktisnya.
Kael menyesap minumannya perlahan, merasakan sensasi dingin cairan itu menuruni kerongkongannya, namun rasa dingin itu tidak mampu membekukan bara kegagalan yang membakar dadanya. Silas berhasil kabur. Pria itu hilang seperti hantu di tengah kepulan asap gas pembuta, meninggalkan Kael berdiri di tengah reruntuhan gedung tua dengan sejuta pertanyaan yang tak terjawab dan noda darah yang menghilang di kegelapan.
"Kerja bagus, Kael. Kau benar-benar tidak pernah mengecewakan. Selalu bisa diandalkan dalam situasi paling kotor sekalipun," sebuah tepukan berat dan mantap mendarat di bahunya.
Kael menoleh perlahan. Zork, dengan medali-medali kehormatan yang berderet rapi dan berkilau di seragamnya, tersenyum lebar sembari menarik kursi di sebelah Kael. Zork tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di gedung tua terpencil itu. Dia hanya tahu laporan resmi yang telah disaring secara teliti: Hemo-Farm ilegal milik sindikat bawah tanah berhasil ditumpas, para kriminal dilumpuhkan, dan fasilitas pemerasan itu kini telah ditutup secara permanen demi keamanan publik.
"Menutup tempat pemerasan darah liar itu adalah kemenangan besar bagi citra Hegemony di mata publik," lanjut Zork sembari memberi isyarat pada bartender untuk memesan minuman paling mahal di rak. "Rakyat perlu diingatkan secara berkala bahwa kita melindungi kedaulatan darah mereka dari predator-predator jalanan. Kau baru saja memberi mereka alasan untuk merasa aman malam ini."
Kael hanya mengangguk kaku, otot rahangnya mengeras. Memorinya memutar ulang kejadian beberapa jam lalu dengan sangat detail—bagaimana dia dan Elara bekerja sama secara diam-diam menyembunyikan tubuh Silas yang pingsan di balik puing-puing beton sebelum tim utama Rangers tiba. Dia ingat saat dia memerintahkan sembilan anggota timnya untuk kembali ke barak lebih dulu dengan alasan "pembersihan area final" yang berisiko radiasi. Sebuah kebohongan yang kini terasa seperti duri berkarat di tenggorokannya, menyayat setiap kali dia mencoba menelan.
"Jadi," Zork menyesap minumannya, matanya menatap pendaran kota dari balik kaca bar, "apa jadwalmu setelah ini? Aku dengar kau butuh istirahat?"
"Tidak, Capt," jawab Kael datar, suaranya sedingin es. "Aku mengambil giliran Distribusi Sektor Luar."
Zork mengangguk paham, ada gurat penghargaan di wajahnya. "Ah, tugas mulia yang membosankan namun vital. Kau dan timmu harus mengawal pengiriman besar Hemo-Cells golongan O untuk fasilitas publik di luar tembok. Pastikan semuanya sampai tepat waktu, Kael. Jika pasokan listrik rumah sakit atau pusat pengolahan terlambat sedikit saja karena hambatan di jalan, kita akan menghadapi krisis kemanusiaan yang sangat buruk untuk berita pagi. Dan kita tidak butuh kerusuhan saat ini."