Iring-iringan kendaraan taktis Rangers berhenti dengan presisi militer di depan sebuah struktur beton masif yang tampak seperti anomali di tengah pemukiman kumuh zona transisi. Bangunan itu adalah sekolah rakyat-sebuah kotak semen tanpa jendela, monolitik, dan kasar. Dinding-dindingnya yang retak menceritakan kisah tentang gempa-gempa kecil dan usia yang dimakan kelembapan. Udara dingin zona transisi menyelinap masuk melalui celah-celah tersebut, membawa bau tanah dan karat.
Namun, sesaat setelah tim Kael menyelesaikan pemasangan unit daya, sebuah transformasi terjadi. Cahaya dari Hemo-Cells golongan O yang baru dipasang mulai berpendar. Rona merah hangat merayap di sepanjang kabel-kabel transparan yang melilit langit-langit, menghidupkan suasana yang tadinya mati.
Kael memberikan instruksi terakhir melalui com-link kepada anak buahnya untuk memastikan sinkronisasi daya stabil, sementara dia sendiri melangkah perlahan menuju ambang pintu kelas. Di dalam, belasan anak dengan pakaian kusam dari serat daur ulang duduk bersila di lantai semen. Mata mereka yang besar dan jernih terpaku pada seorang pria tua-sang guru-yang berdiri di depan sebuah papan tulis berkarat yang sudah kehilangan warna hitamnya.
"Duduklah di sini, Kapten. Sejarah tidak akan menggigitmu," bisik guru itu tanpa menoleh, mengenali dentang khas kaki logam Kael yang beradu dengan lantai. Sebuah senyum tipis tersungging di wajah keriputnya, menyadari kehadiran sang predator Citadel di wilayahnya.
Kael ragu sejenak. Ada rasa canggung yang asing saat ia berdiri di antara anak-anak ini, namun rasa lelah yang menghujam setelah pengejaran Silas yang gagal membuatnya memilih untuk bersandar di dinding belakang kelas. Ia melipat tangannya, membiarkan jirah bajunya yang dingin bersentuhan dengan beton. Elara berdiri tepat di sampingnya, tegak dan waspada, tangannya berada dekat dengan sarung senjatanya, sementara matanya menyisir koridor luar dengan ketelitian seorang penembak jitu.
Guru itu mulai mengetuk-ngetuk papan tulis dengan sepotong kapur rapuh. Suaranya berat dan bergetar, seolah setiap kata yang ia ucapkan membawa beban dari ribuan nyawa yang telah hilang.
"Anak-anak, hari ini kita bicara tentang fajar yang berdarah. Titik di mana jam pasir kemanusiaan hampir kehabisan butirannya. Perang Darah Pertama," ucap sang guru. "Dahulu, sebelum kakek buyut kalian lahir, dunia ini benar-benar gelap. Cadangan gas habis, matahari tertutup oleh jelaga abadi hasil perang nuklir lama, dan angin berhenti bertiup. Manusia hampir punah karena kedinginan yang membekukan tulang. Lalu, seorang ilmuwan menemukan cara untuk mengubah energi biologis-nyawa yang mengalir di nadi kita-menjadi daya listrik murni. Itulah saat Hemo-Cells pertama berdenyut."