Silas duduk di tepi dipan kayu tua. Ia menunduk, memegangi dadanya yang terasa seperti dihantam palu godam, mencoba mengatur napasnya yang masih pendek dan berat.
"Kau sudah merasa lebih baik, Silas?"
Suara Lea memecah kesunyian, bergema di antara sela-sela mesin kincir. Silas mendongak perlahan, menyeringai tipis meski wajahnya masih sepucat kertas yang terpapar salju. "Aku baik-baik saja, Lea. Ini bukan pertama kalinya aku merasa seperti baru saja ditabrak kereta kargo sektor logistik."
Lea tidak membalas candaan itu. Ia berdiri mematung di dekat jendela yang retak, matanya yang tajam menatap ke luar, menyisir kegelapan di luar perimeter gudang. "Aku tidak bermaksud memotong waktu istirahatmu, tapi kita punya situasi yang mendesak. Jack sedang mengejar seseorang. Sepertinya kita tidak sendirian saat kembali tadi. Orang itu mengikuti kita sejak dari gedung tua hingga ke area persembunyian ini."
Mendengar itu, adrenalin menyambar kesadaran Silas lebih cepat dari obat bius manapun. Ia mengabaikan rasa nyeri yang menusuk di paru-parunya, bergerak tertatih-tatih menuju meja kerja yang berantakan. Ia mencari alat komunikasinya yang sempat dilepaskan Jack saat ia pingsan tadi. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menekan tombol pemancar pada radio taktisnya.
"Jack! Status! Siapa yang kau kejar? Apakah itu Ranger atau unit pelacak Citadel?" suara Silas terdengar mendesak, penuh nada otoritas yang dipaksakan di tengah sesak.
Suara statis menyahut keras, diikuti deru angin kencang yang tertangkap mikrofon. "Bukan Ranger, Silas! Setidaknya seragamnya tidak mengkilap seperti jirah baja mereka. Kelihatannya seperti tikus jalanan... atau mungkin pemberontak dari faksi lain. Dia lincah, bergerak seperti bayangan di antara puing, tapi aku hampir menangkapnya!"
Silas menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Matanya kemudian beralih ke sudut gudang, tempat ia biasanya memarkir kendaraan kesayangannya. Kosong. Tempat itu hanya menyisakan noda oli tipis di lantai semen.
"Lea," Silas menatap rekannya itu dengan alis bertaut, mencoba menyelipkan nada bercanda untuk menutupi kecemasannya, "di mana motorku? Jangan bilang Jack memakainya untuk ajang balapan liar di Sektor Bawah?"
Lea menjawab dengan nada datar tanpa sedikit pun menoleh dari jendela, "Sudah kukatakan, Jack sedang mengejar seseorang. Dan kau tahu Jack... dia tidak suka berlari kaki jika ada mesin yang bisa dipacu hingga batas maksimal."
•••
Di luar sana, di antara labirin reruntuhan kota yang hancur, pengejaran itu berlangsung dengan liar dan berbahaya. Jack memacu motor listrik Silas menembus tumpukan beton dan sisa-sisa besi tua yang mencuat seperti taring raksasa. Mesin motor itu mendengung halus, membelah kesunyian malam layaknya peluru yang meluncur di udara. Di depannya, seorang pemotor misterius berpakaian taktis gelap meliuk-liuk dengan lincah, mencoba menghilang di balik bayang-bayang gedung runtuh yang menyeramkan.
Jack tidak memberikan celah. Ia memutar gas lebih dalam, membuat motor itu melesat melampaui batas keamanan. Saat pemotor misterius itu mencoba melompati gundukan puing beton yang curam, ban depannya tergelincir di atas debu sisa industri yang licin. Motor itu oleng hebat, terseret beberapa meter di atas aspal yang pecah hingga menghantam tembok bangunan tua dengan suara benturan logam yang memekakkan telinga.