Flow of Red

ElevatedBeat
Chapter #17

Chapter 16 : Bird Cage

"Radioku..." Mia berbisik parau, suaranya nyaris hilang di telan deru angin. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap nanar ke arah tas taktisnya yang kini berada di bawah kendali Jack. "Tunggu saja. Jika dia masih menganggapku berguna, dia akan menghubungi lewat sana."

​Silas dan Jack terjaga dalam keheningan yang menyesakkan hingga dini hari. Gudang itu terasa seperti peti mati beton yang dingin. Jack akhirnya menyerah pada kelelahan yang luar biasa; kepalanya terkulai, bersandar pada dinding beton yang kasar dengan dengkur halus yang kontras dengan ketegangan di ruangan itu. Namun, Silas tetap waspada. Ia duduk di kegelapan, merasakan lebam di dadanya berdenyut—sebuah irama rasa sakit yang seirama dengan detak jantungnya yang tidak tenang. Setiap tarikan napas terasa seperti tusukan jarum, pengingat akan kekuatan destruktif Kael.

​Tepat saat fajar mulai mengintip dari balik cakrawala Sektor Bawah, merobek kegelapan dengan warna kelabu yang suram, suara statis pecah dari radio kecil milik Mia. Silas tersentak, adrenalin menghapus rasa kantuknya seketika. Tangannya menyambar perangkat itu sebelum Jack sempat terbangun sepenuhnya. Suara yang keluar dari speaker kecil itu terdengar sangat tidak manusiawi—dingin, datar, dan terdistorsi berat oleh modulator frekuensi tinggi.

​"Black Canary!"

​Mia terbangun dalam satu sentakan, tubuhnya yang terikat kabel pengikat menegang hebat. "Itu dia! Itu kodenya!" bisiknya dengan nada yang antara takut dan lega.

​Suara di radio itu berlanjut, nadanya ganjil, seolah-olah sang pembicara sedang membacakan puisi kematian atau berita cuaca yang tidak relevan namun sarat akan teka-teki:

"Aku melewati badai, sebuah sekoci telah kudapat. Kapal lain harus kudapat sebelum orca-orca mengelilingiku. Aku berlabuh di pantai."

Klik. Sambungan terputus secara sepihak, menyisakan suara white noise yang hampa.

​Silas mengernyitkan dahi, menatap perangkat logam di tangannya dengan sangsi yang mendalam. "Apa maksudnya? Badai? Sekoci? Orca? Apa rekan misteriusmu ini seorang nelayan yang tersesat di tengah daratan kering?"

​Mia menghela napas panjang, sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di wajahnya yang kusam oleh debu. "Dengar, Silas. Metafora itu bukan tanpa arti. Orang itu membutuhkan bantuan profesionaku... dan secara tidak langsung, bantuanmu juga. Sesuatu yang sangat besar tersembunyi."

​"Jelaskan," perintah Silas tegas, suaranya rendah namun penuh ancaman.

​"Aku harus pergi ke Pasar Distrik AB pagi ini," ucap Mia dengan nada mendesak. "Ada sesuatu yang rumit di sana yang berhubungan dengan transmisi tadi. Itu adalah lokasi penjemputan 'kapal' yang dimaksud. Aku tidak bisa menjelaskan detail teknisnya dengan kata-kata, kau harus melihatnya sendiri agar kau percaya bahwa ini bukan sekadar pemberontakan jalanan biasa."

​Silas membangunkan Jack dengan tendangan pelan namun tepat sasaran di sepatunya. Ia menatap Mia sejenak, menimbang risiko di kepalanya, lalu dengan satu gerakan cepat pisaunya, ia melepaskan ikatan kabel di tangan wanita itu.

​"Aku akan melepaskanmu," Silas berkata sambil menatap tajam ke dalam mata Mia. "Lakukan apa yang harus kau lakukan. Tapi ingat, Mia... jika kau mencoba macam-macam atau membawa kami ke dalam jebakan, aku akan membunuhmu tanpa perlu memberikan alasan atau peringatan kedua. Aku hanya ingin tahu bantuan seperti apa yang kalian maksud sampai-sampai harus melibatkan buronan seperti aku."

...

Lihat selengkapnya