Delapan tahun yang lalu, dunia mungkin sedang berada di ambang kehancurannya yang paling absolut. Di luar cakrawala Distrik AB, suara ledakan artileri dari perbatasan Sektor Bawah menderu-deru seperti amukan guntur yang tak kunjung usai, menciptakan getaran konstan yang merambat hingga ke tulang. Langit tidak lagi berwarna biru; ia telah lama menyerah pada jelaga abu-abu pekat yang menggantung rendah, membuat siang hari tak lebih dari senja yang pucat dan abadi. Namun, di dalam sebuah gubuk kecil beratap seng yang berlubang di pinggiran distrik, waktu seolah-olah dipaksa berhenti oleh kehangatan yang sederhana.
Herlon pulang saat jam malam hampir mencekik kota. Tubuhnya basah kuyup oleh hujan asam yang terasa perih di kulit, meninggalkan noda kekuningan pada jaketnya yang lusuh. Bahunya terasa kaku dan pegal, seolah-olah beban balok-balok beton yang ia tarik dengan kereta sorong seharian tadi masih menindihnya. Namun, begitu ia melihat secercah cahaya kuning redup menyelinap dari celah pintu kayu gubuknya, rasa lelah yang menghunjam itu menguap begitu saja, digantikan oleh debar harapan.
"Aku pulang," bisik Herlon pelan, suaranya parau namun penuh kasih.
Seorang wanita segera bangkit dari kursi kayunya yang reyot. Perutnya yang mulai membuncit membuatnya bergerak sedikit lamban, namun setiap gerakannya memancarkan keanggunan yang tak mampu dihancurkan oleh kemiskinan. Senyumnya adalah satu-satunya hal tercantik yang pernah Herlon lihat di dunia yang sudah sekarat ini. Ia menyambut suaminya dengan selembar kain kering yang sudah tipis, namun bersih.
"Kau terlambat sepuluh menit," goda wanita itu, jemarinya yang hangat mengusap sisa air hujan dari wajah Herlon yang kasar. "Aku hampir saja mengira kau mampir ke bar Hoff untuk menghabiskan upahmu dengan segelas anggur."
Herlon tertawa kecil, suara tawa yang berat dan tulus itu mengisi setiap sudut ruangan sempit tersebut. "Anggur? Untuk apa anggur mahal kalau aku punya air hujan gratis yang bisa membuatku mabuk kedinginan?" Ia merogoh saku jaketnya yang robek, jemarinya menarik keluar sesuatu yang dibungkus kertas minyak dengan sangat hati-hati, seolah itu adalah harta karun nasional. "Tapi, aku membawa ini. Jatah tambahan dari mandor karena aku bersedia lembur dua sif."
Di atas meja kayu yang bergoyang, ia meletakkan dua potong roti gandum yang sedikit keras dan sebutir apel kecil yang kulitnya mulai layu. Di dunia lama, itu mungkin hanya sampah yang dibuang ke pinggir jalan. Di dunia yang dikuasai kelangkaan energi ini, itu adalah pesta mewah yang hanya bisa diimpikan banyak orang.
Mereka duduk bersila di atas lantai tanah yang dilapisi tikar pandan tua. Di tengah-tengah mereka, sebuah tungku kecil yang terbuat dari kaleng bekas membakar sisa-saika kayu konstruksi, menciptakan tarian api kecil yang memberi nyawa pada ruangan itu. Sang istri membagi apel itu dengan pisau kecilnya, memotongnya dengan presisi agar bagian yang lebih besar jatuh ke tangan Herlon.
"Makanlah, kau butuh tenaga untuk menarik kereta itu besok pagi," ucap sang istri lembut.
"Tidak, Lilly butuh vitamin lebih banyak," bantah Herlon dengan nada yang tak terbantahkan namun penuh kelembutan. Ia mendorong kembali potongan apel itu ke tangan istrinya. Mereka menyebut bayi di dalam kandungan itu 'Lilly', diambil dari nama bunga favorit yang pernah Herlon lihat di sebuah buku botani tua peninggalan ayahnya—sebuah simbol keindahan yang mampu tumbuh di tengah lumpur.
Setelah makan malam yang bersahaja itu, Herlon akan menyandarkan punggungnya di dinding seng yang berderit, sementara istrinya berbaring dengan kepala di pangkuan suaminya. Herlon akan mulai bercerita—bukan tentang desas-desus perang, bukan tentang tirani Hegemony, tapi tentang sebuah dunia utopia yang ingin ia bangun untuk putri kecil mereka.
"Nanti, kalau Lilly sudah lahir," ucap Herlon sambil mengelus rambut istrinya yang halus, "aku akan membuatkan taman kecil di belakang gubuk ini. Aku akan mendaki lereng bukit, mencari tanah yang tidak terkontaminasi oleh limbah industri. Kita akan menanam bunga asli, bukan sekadar memanen kytos. Kita akan punya lampu yang menyala terang tanpa perlu menguras darah siapa pun. Cahayanya akan berasal dari matahari, seperti cerita-cerita lama."
Istrinya memejamkan mata, menghirup aroma kayu bakar dan membayangkan wangi bunga yang diceritakan Herlon. "Kau terlalu banyak bermimpi, Herlon. Dunia ini tidak membiarkan kita bermimpi sejauh itu."