Pintu geser van itu terbanting menutup dengan dentuman logam yang memekakkan telinga, menciptakan sekat instan antara mereka dengan dunia luar yang baru saja meledak dalam kekacauan. Suara sirine Rangers yang melengking tinggi perlahan meredup, tertelan oleh jarak dan deru mesin van yang dipacu liar. Jack tidak membuang waktu; ia langsung menginjak pedal gas hingga dasar, membuat ban kendaraan itu menjerit di atas aspal yang retak sebelum melesat meliuk-liuk di antara reruntuhan gedung yang berdiri kaku layaknya taring-taring beton yang patah.
"Apa yang sebenarnya terjadi di lorong buntu tadi?!" seru Jack tanpa menoleh sedikit pun. Matanya terpaku pada kaca spion yang tertutup debu, memantau setiap kilatan lampu merah-biru yang mungkin muncul. "Kalian berhasil lolos dari si 'kaki karat' itu? Demi Tuhan, aku sudah bersiap menabrakkan van ini ke barikade mereka untuk menjemput mayat kalian!"
Silas tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya yang letih ke dinding van yang dingin. Tangan kanannya mencengkeram erat dadanya yang berdenyut hebat; lebam di sana terasa seperti bara api yang ditekan ke kulitnya. Napasnya masih tersengal, pendek dan berat, sementara peluh dingin membasahi kaos putihnya yang kini bercampur debu dan jelaga.
"Ini... sulit dijelaskan, Jack," gumam Silas akhirnya, suaranya serak. "Pacu saja mobilnya secepat yang kau bisa selagi para Rangers itu sibuk mengurusi ledakan di pasar. Kita punya waktu, tapi tidak banyak."
Mia, yang duduk meringkuk di sudut kabin dengan napas yang tak kalah memburu, mengulurkan kotak logam hitam itu. Lampu LED merah di permukaannya masih berkedip ritmis, memberikan denyut cahaya merah yang menyeramkan di dalam van yang temaram. "Ini harus segera sampai ke tangan Matthew, Silas," ucapnya dengan nada mendesak, seolah kotak itu berisi jantung yang harus segera ditransplantasikan.
Silas menerima kotak itu. Ia memutarnya perlahan di bawah cahaya lampu kabin yang redup, matanya yang tajam memeriksa setiap inci permukaannya. Ia mencari celah, sensor tersembunyi, atau kemungkinan adanya pemancar GPS mikro yang mungkin dipasang oleh orang misterius di lorong gelap tadi. Di dunia ini, setiap hadiah selalu datang dengan mata-mata yang menyertainya.
...
Beberapa menit pengejaran yang memacu adrenalin berakhir ketika van itu melambat dan masuk ke dalam area tersembunyi di bawah bayang-bayang kincir angin raksasa. Matthew dan Lea sudah menunggu di depan pintu baja berat yang berfungsi sebagai pintu masuk utama gudang. Begitu van berhenti sempurna dan pintu geser terbuka, Matthew langsung melangkah maju. Wajahnya yang penuh kerutan tampak semakin tegang di bawah sorotan lampu halogen gudang.